♤ 2,0

2.8K 431 88
                                        

• Now playing :

Save me
-BTS

+ × +

Haneul berjalan mendekati wanita dan pria yang sedang duduk di sofa ruang tengah itu. Makan malam sudah siap, ia pun mengungkapkan maksudnya dengan bahasa isyarat.

Eomma, Appa, makanannya sudah siap.

"Oh... baiklah," ujar pria yang tak lain adalah ayah Haneul mengarahkan sang istri menuju meja makan yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah.

Ibunya terlihat memperhatikan kursi kosong di samping Haneul dengan seksama. Ia tampak sedih dan terluka. Haneul yang menyaksikannya lantas menunduk, ada bagian kecil dari hatinya yang mendadak merasakan iri atas kasih sayang wanita itu pada saudara perempuannya.

Eomma begitu menyayangi Hera dan... jauh lebih menyayanginya. Batin Haneul berusaha menepis pikiran bodohnya.

Kegiatan makan malam berjalan seperti biasanya. Makan malam yang tenang dan hening sampai semua orang selesai dengan urusan perut. Kini hanya tersisa Haneul yang masih sibuk mencuci piring dan gelas kotor yang digunakan tadi.

Ia mendengus pelan, suasana malam yang sepi telah menjadi sahabatnya sejak kecil. Suara kawanan jangkrik yang saling bersahutan dan desiran daun yang terhembus angin secara perlahan menjadi latar suasana malam yang hampa.

Kini, Haneul sudah berada di dalam kamar. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Haneul menyukai kasurnya yang sederhana, namun nyaman. Ya, terkadang kenyamanan jauh lebih dibutuhkan dibandingkan aspek lain.

Saat tengah memeriksa saku jaket yang tadi ia kenakan, sebuah kertas kuning terbuang keluar dari salah satu sisi saku. Ia pun segera mengambilnya.

Ini kertas perjanjian yang tadi.

Haneul berpikir keras, ia berharap laki-laki itu membaca kalimat kecilnya tentang menepati janji. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, jika laki-laki itu bertanya lansung pada Hera mengenai Haneul. Ia pasti akan habis dimarahi oleh gadis galak itu.

Haneul merasakan matanya mulai berat. Hari ini ia telah bekerja dengan keras dan ia butuh istirahat yang cukup untuk mengimbangi aktivitas besok. Namun belum sempat gadis itu benar-benar tertidur, tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukan yang sangat keras dari arah pintu kamar.

Seseorang berteriak histeris, "Haneul! Ibumu pingsan, tolong bantu ayah panggilkan taksi! Haneul!"

Haneul lantas terperanjat jaget dan buru-buru bangkit dari kasurnya, lalu berlari keluar dari kamar. Ia menyetop taksi yang lewat di dekat rumah dan segera membantu ayahnya membawa ibu ke dalam taksi.

Haneul sangat amat mengkhawatirkan kondisi ibunya.

Eomma... bertahanlah.

Ia meneteskan air mata... lagi.

+×+

Haneul menatap nanar sosok wanita berwajah pucat yang terbaring lemas di atas kasur pasien itu. Di sampingnya tampak sang ayah menunduk lemas dengan mata yang membengkak akibat kebanyakan menangis. Haneul pun begitu, hidungnya memerah bak tomat dan matanya sembab. Ya, sejujurnya setiap kali menangis, Haneul pasti akan terlihat seperti tomat dan oleh sebab itulah, ia tak ingin menangis di depan orang banyak.

Sungguh memalukan.

"Haneul-ah," panggil ayahnya tiba-tiba.

Dream;TaehyunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang