Pramudya Pov
Aku dan kedua orang tuaku tiba di rumah bude Ningsih Yogya sudah larut malam. Karena capek bawa mobil sendiri. Aku pamit dengan bude ke kamar favoritku jika menginap di rumah bude.
Ku ambil kunci yang ku simpan di ventilasi pintu kamar sepertinya kamarku di kunci oleh bude. Tanpa babibu lagi aku membuka bajuku dan hanya memakai celana boxer saja.
Lampu kamar sudah dimatikan oleh bude jadi aku langsung menarik selimut dan berlayar ke pulau kapuk.
Tidurku merasa terganggu. Kok seperti ada tangan yang memeluk badanku. Aku berdesir.
Bukannya kamarku terkunci tadi, jadi siapa orang di sampingku yang berani-beraninya memelukku seperti bantal guling. Rambutnya tergerai panjang karena tak sengaja tanganku menyentuhnya.
Astaghfirullah jangan-jangan ini kunti lagi. Aku bergidik memejamkan mata. Tiba-tiba dia bergerak dan berteriak histeris.
"Aaaaaaaaaaaa Umiiiiiiiiiiiiiiiiii".
Hah dia memanggil umi aku lega berarti dia manusia bukan kunti.
“Hei apa-apaan berisik tau nggak” kataku.
“Umiiiiiiiiiii!!!” teriaknya sekuat tenaga. Bisa-bisa seisi rumah datang ke kamar ini.
“Sssst bisa diam nggak. Nanti aku dikira ngapa-ngapain kamu” kataku panik membekap mulutnya.
Tiba-tiba pintu kamar didobrak dan lampu kamar dinyalakan. Dia melongo melihat aku yang sedang bertelanjang dada di sampingnya.
"Lovita!!!" Aku melepaskan tanganku yang membekap mulutnya.
Dia yang sudah tidak berhijab menarik selimut menutupi rambut dan tubuhnya yang hanya memakai tanktop. Bagaimana dia bisa berada di kamarku.
Pakde, bude, mama, papa, dan kedua orang tuanya menatap kami tidak percaya. Mereka seolah-olah baru saja menggerebek pasangan yang sedang berbuat mesum di kamar ini. Lovita menangis sesegukan. Ah dia pasti merasa malu sekali dengan kejadian ini.
“Pram apa yang sudah kamu lakukan?” tanya pakde marah.
“Pakde..ini tidak seperti apa yang pakde bayangkan” jawabku salah tingkah sambil melihatnya.
Memang aku tidak ngapa-ngapain dia. Posisinya saja yang tidak menguntungkan.
Aku diajak ke bawah untuk mengikuti para orang tua berembuk. Papa dan mama menatapku marah. Begitu juga dengan pakde dan budeku.
“Pa, ini semua salah paham” kataku membela diri.
“Pram, walaupun ini salah paham. Tapi kau sudah tidur satu ranjang dengan anak pak Chandra.” Toleh papa melihat laki-laki sebaya papa duduk di depanku.
“Aku tidak ngapa-ngapain dia pa, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ada orang lain di kamarku. Perempuan pula” aku bersih keras tidak mau disalahkan.
“Meskipun kamu tidak ngapa-ngapain Lovi. Tapi kamu sudah melihat semua auratnya. Iya kan?” tanya pakde menatapku tajam.
“Iya” jawabku jujur menunduk.
“Saya tau ini hanya kesalahpahaman, tapi anak saya tidak pernah memperlihatkan auratnya kepada pria manapun. Ini pasti membuatnya shock. Saya tidak tahu bagaimana penyelesaian masalah ini” sela ayah Lovita sedih.
“Begini saja” ujar pakde menarik nafas dalam. “Pram kamu harus menikahi Lovita sekarang. Bagaimana Haya?” Pakde meminta persetujuan papaku.
“Aku setuju mas. Kamu harus bertanggung jawab Pram” kata papa menatapku.
Ya Tuhan, aku memang sedikit ada rasa dengan Lovita tapi tidak begini caranya. Nggak romantis banget menikah dadakan kayak gini. Aku mengangguk pasrah karena semua mata menatap ke arahku.
“Iya pa” aku menyetujuinya.
Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Paradise (Complete)
BeletrieApa jadinya jika menikah dengan pria yang menjengkelkan bagi Lovita. Pria yang bisa membuatnya darah tinggi. Apalagi mereka menikah karena accident memalukan. Salah masuk kamar ??? Baca cerita serunya... Rank #31 - hotel 17 Juni 2019 Rank#69 - acci...
