30. Privacy room

13.9K 821 5
                                        


Aku mengetuk-ngetuk pulpen di tanganku ke meja kerja. Sudah beberapa hari ini aku mengamati fisik pak Ayyass, kenapa setiap aku bertatap muka dengannya aku merasa seperti sedang bersama mas Pram. Postur tubuhnya, wangi parfumnya, matanya, alisnya, hidungnya ya Tuhan kenapa sama persis dengan mas Pram. Aku menutup mulutku. Apa mas Pram punya saudara kembar? Aku benar-benar merindukannya. Aku bersandar sambil memejamkan mata.

“Lovita. Kamu tidak apa-apa kan?” suara laki-laki membangunkanku.

Aku langsung duduk tegak di kursiku menatap si pemilik suara. Sejak kapan dia ada disitu.

“Maaf, dari tadi aku mengetuk pintu ruanganmu. Tapi tidak ada sahutan, jadi aku langsung masuk saja” katanya tidak enak.

“Ah tidak apa mas, aku baik-baik saja” astaga kenapa aku jadi memanggilnya dengan sebutan mas. ”Ah maaf maksudku pak” kataku meralat ucapanku barusan.

Dia tersenyum melihatku. Tuh kan senyumannya seperti senyuman mas Pram.

“Tidak apa, aku lebih suka dipanggil itu biar kita lebih akrab” katanya. Apa dia ingin akrab denganku. Aku hanya tersenyum.

“Ada apa  emm mas Ayyass menemuiku?” tanyaku masih kagok memanggilnya seperti itu.

“Aku bisa meminta laporan keuangan bulan ini” pintanya.

“Oh ya, nanti aku bilang pak Arya untuk mengirimnya ke ruangan mas” ujarku berdiri berjalan ke arahnya.

Tapi kenapa kepalaku pusing, badanku seakan limbung seperti mau jatuh ketika berjalan. Mas Ayyass menangkapku. Mata kami bertemu. Aku tersadar, tidak mau terpesona dengan wajah tampannya.

“Aku tidak apa-apa” kataku. Dia melepaskan pelukannya.

“Maaf” katanya merasa bersalah.

“Jika keadaanmu kurang sehat sebaiknya istirahat di rumah saja” sarannya. Aku hanya tersenyum tidak enak dengannya.

***

Bayangan wajah mas Ayyass selalu menghantuiku. Tidak aku tidak boleh jatuh cinta dengannya. Tapi  aku tidak bisa mengingkari perasaanku kalau aku merasa nyaman berada di dekatnya.

Malam ini aku tidak bisa tidur di rumah. Ayyass selalu tidur di kamar omanya makanya aku selalu tidur sendiri. Aku minta izin kepada mama dan papa agar aku tidur di kamar privacy mas Pram di Paradise. Entah kenapa aku kangen dengan kamar itu, mungkin aku bisa tidur nyenyak disana dan bisa langsung pergi kerja darisana. Lagipula mas Ayyass kan tidak tinggal disana lagi.

Aku masuk ke privacy room dan melempar tas yang berisi pakaian gantiku ke atas sofa. Mataku sudah lima watt. Setelah mengganti dengan tanktop dan hotpant dan lampu tidur ku nyalakan, aku masuk selimut lalu terlelap tidur.

Antara sadar dan tidak aku seperti melihat mas Pram di hadapanku. Dia tidur di sampingku. Aku memeluknya takut dia akan pergi lagi.

“Mas, aku merindukanmu” bisikku. Aku merasakan hembusan nafasnya seolah dia nyata.

“Mass...” aku semakin erat memeluknya. “Jangan tinggalkan aku lagi”

Ku rasakan hembusan nafasnya semakin dekat ke wajahku dan ciuman hangat dari bibirnya yang sudah lama ku rindukan mendarat di bibirku. Dengan mata terpejam aku membalas ciuman mesranya. Ku rasakan seluruh tubuhku bergetar, sentuhan fisik darinya sudah lama tidak kurasakan. Entahlah apakah ini mimpi atau nyata aku terlelap tidur dalam dekapan dada bidangnya.

Continue

Paradise (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang