dream-6

252 25 0
                                        

Seoul, 6 Januari 2018

Jimin pov

"Jimin bangun, sudah pagi, sayang"ucap eomma di telingaku

Aku pun bangun karna suara eomma yang menyuruhku untuk bangun dengan suaranya yang sangat lembut itu.

Aku yang sudah bangun masih berada di tempat tidurku untuk mengumpulkan jiwa yang entah pergi kemana dan memakan waktu kurang lebih sekitar 5menit, setelah jiwa yang terbang tadi sudah kembali ke ragaku, aku pun melakukan sedikit peregangan dan pergi ke kamar mandi.

Aku yang sudah selesai mandi beberapa detik yang lalu keluar dari kamar mandi dan siap bekerja di kafeku. Pasti jika kalian mengira aku itu adalah pelayan kafe saja itu sangat salah. Mungkin ini adalah fakta baru aku adalah seorang pemilik kafe dan sekaligus menjadi pelayan. Akupun keluar kamar dan pergi ke lantai bawah untuk sarapan.

Aku yang sudah sampai di meja makan pun mendudukkan diri di ruang  makan. Tapi appa  ku mengajakku berbicara sebelum aku memakan sesuap nasi yang sudah eomma  siapkan untukku.

"Jimin, apakah appa bisa minta bantuanmu?"tanya Chanyeol.

"Ada apa appa?"sahutku.

"Appa mohon kau datang ke acara makan malam keluarga teman appa lusa nanti, appa mohon semoga kau bisa datang" ucap Chanyeol.

"Em... entahlah appa, tapi akan ku usahakan datang"balasku sambil tersenyum manis.

"Baiklah, sayang. Appa mengerti. Jika kau datang terlambat dandanlah yang cantik appa dan eomma akan menunggumu" ucap Chanyeol.

"Baiklah, appa akan kulaksanakan"ucapku.

Aku  yang sudah menyelesaikan sarapan pun, pergi pamit dan siap berangkat ke tempat yang selalu membuat hatiku sedikit tenang, yaitu ke kafe ku. Sambil meminum secangkir kopi latte yang hangat dan memikirkan apa yang appa maksud dari ucapannya tadi.

Pada siang harinya. Pasti semua pengawai kantoran akan datang ke Kafe ku untuk sekedar makan siang tau beristirahat dari realita hidup. Tapi anehnya ada seorang bos yang memiliki marga yang sama dengan orang yang selalu saja hadir di mimpiku, yaitu Jeon. Itu saja yang aku tahu tapi dengan bos itu aku merasa sangat tidak canggung seperti seolah- olah aku sudah sangat mengenalnya. Aku tidak bodoh, aku tahu bahwa banyak orang yang bermarga Jeon, tapi tidak dengan orang itu, mungkin aku bisa tanyakan beberapa hal seru dengannya. Jika dia yang mengajakku untuk  berbicara duluan. Kalau tidak, aku  yang akan mengajaknya  berbicara.

Tapi aneh sekali hari ini ia tidak datang?, apakah karna hari ini dia meliburkan diri?. Entahlah mungkin aku terlalu berharap sampai- sampai aku berkhayal ia akan datang. Tapi wajah yang datang ke cafeku kemari  sangat tidak asing. Apakah itu dia?.

"Selamat siang Tuan ada yang bisa saya bantu?" Sambutku ramah.

"Tidak perlu begitu Jimin, aku disini ingin memesan menu yang sama seperti kemarin. Apakah aku boleh memesan menu yang sama?"ucapnya.

"Siapa nama anda ya? Jika boleh tau. Soalnya supaya saya bisa mencatat pesanan anda jika menunya sama"ucapku sopan

"Namaku Jeon Jungkook. Jadi pesananku tetap sama ya seperti hari pertama aku kesini"ucapnya sambil mengeluarkan senyum kelincinya yang menurutku sangat lucu dan tampan di saat yang bersamaan.

"Baiklah Tuan Jungkook, saya akan membungkus pesanan anda dan saya akan antarkan ke mejaanda. Mohon di tunggu"ucapku padanya sambil tersenyum

Saat aku mau ke arah pintu masuk dapur, ia sudah mendudukkan dirinya sendiri ke meja yang sering ia duduki. Kalau di ingat-ingat lagi rasanya seperti  baru kemarin ia mengajakku berbicara mengenai hal-hal yang sangat seru dan sekarang kembali canggung lagi.

15menit berlalu. Aku sudah menyiapkan makanan khusus dirinya dan pesanannya, tapi dia masih saja memfokuskan matanya ke arah handphonenya.

"Tuan Jungkook, pesanan anda sudah saya kemas dan antarkan ke meja anda. Apakah ada hal lain yang perlu saya lakukan lagi?"ucapku.

"Sejak kapan mulut ini lihai sekali mengucapkan kata modus? tapi itu tidak masalah untuk sekarang. Yang penting aku harus bertanya dengannya segera"batinku.

"Tuan Jungkook"ucapku sekali lagi.

"Ya, apakah pesanan saya sudah anda siapkan?"ucapnya.

"Sudah saya siapkan Tuan"ucapku

"Baiklah, bisakah kau menemaniku untuk sekedar makan siang?aku ingin sekali menceritakan kisahku padamu. Apakah boleh?"ucapnya.

"Tentu saja boleh Tuan, apapun untuk pelangganku"ucapku.

"Jangan panggil Tuan. Panggilan itu membuatku sangat muak mendengarnya"ucapnya  dengan ekspresinya yang tadi  begitu cerah berubah menjadi sangat suram.

"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud mengatakan hal itu"ucapku.

"Tidak apa-apa. Menurutku jika kau yang mengucapkannya. Aku tidak terlalu membenci panggilan itu lagi"ucapnya.

"Dan jangan terlalu formal denganku. Aku mengajakmu berbicara santai mulai  sekarang, aku tidak ingin membuatmu terkesan tertekan saat bersamaku"ucapnya lagi.

"Baiklah jika begitu mau mu dan jangan seperti itu. Itu sedikit membuatku merasa tidak enak dengan hal itu"ucapku.

Jujur saja jika hanya aku yang boleh menyembutnya 'Tuan'. Ini cukup membuatku terkejut, apakah dia tidak merasa aneh bahwa hanya dengan aku saja yang boleh memanggilnya 'Tuan'?

"Oh, maksudku hanya kau, noona ku, dan beberapa maid di rumahku saja yang boleh memanggilku, you know lah"ucapnya.

Ya......aku mengerti apa yang ia maksud.

"Jungkook"panggilku

"Iya ada apa?"katanya setelah selesai menghabiskan sisa makanan terakhir sambil membersihkan sisa makanan di daerah mulutnya dengan tisu.

"Apakah kau pernah bermimpi tentang diriku?"tanyaku.

"Maksudmu, apakah aku pernah bermimpi tentangmu?"jelasnya.

"I-iya, apakah kau pernah?"ucapku ragu.

"Kurasa pernah, karna wajahmu itu sangatlah tidak asing bagiku. Apakah kau juga merasa begitu?"tanyanya.

"Kurasa begitu. Aku belakangan ini, jadi lebih suka melamun jika pelanggan berkurang, wajahmu juga tidak asing di mimpiku"ucapku.

"Jika soal melamun aku memang sama sepertimu hanya saja jika aku tidak sibuk"ucapnya.

"Apakah kita ini sudah saling mengenal sebelumnya?"tanyaku

"Molla tapi kurasa tidak ada salahnya kita  memulainya sebagai teman terlebih dahulu"ucapnya.

"Kurasa kau benar, kita sudah berkenalan nama? Apakah kita sebagai teman perlu jalan-jalan?"ucapku.

"Kurasa aku perlu pikirkan lagi tentang ajakanmu. Aku akan menghubungimu jika aku tidak sibuk. Soal itu bisakah kau memberiku nomor teleponmu supaya aku bisa mengabarimu"ucapnya.

Entah mengapa saat Jungkook berbicara denganku. Aku selalu merasa detak jantungku berdebar dengan kencang. Apakah di mimpiku aku pernah dekat dengannya?

"Boleh"ucapku singkat.

Aku mengambil post-it kecil dan pulpen yang ada di atas meja pemesanan, dan menulis nomor telepon dan menyerahkan post-it itu  kepadanya.

"Ini nomornya. Jika perlu kau bisa menelepon  atau sms aku, supaya aku tahu itu suaramu dan dengan cepat membuatkan mu kontaknya di ponselku"ucapku.

"Baiklah, terima kasih atas makanannya dan soal nomor teleponnya akan ku kabari nanti, sampai jumpa"ucapnya.

Ia pun keluar dari kafeku yang sudah mulai rada sepi karna jam istirahat kantor sudah hampir selesai. Aku sangat tidak sabar bertemu dengannya lagi nanti. Kuharap tidak ada hambatan.

End Jimin pov

















TBC

dream *kookmin*Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang