Selama berhari-hari setelah kejadian memalukan itu, hidup Da In dipenuhi oleh jengkel yang membubung tinggi.
Pertama, karena demi apa pun di dunia ini, dia masih merasa sangat dilecehkan sekaligus luar biasa heran. Bagaimana bisa Min Suga tahu kalau saat itu dia tidak memakai bra?
Da In bahkan sampai berdiri di depan cermin kamarnya selama setengah jam, mengenakan kaos bersablon bunga full block di seluruh bagiannya hari itu. Dia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mengamati pantulan dirinya dengan saksama. Tidak menerawang. Tidak menonjol aneh. Bahkan Do Jin yang bermata jeli pun tidak akan pernah sadar jika adiknya sedang membebaskan diri dari jeratan kawat bra.
Lalu, bagaimana bisa mata sipit tetangga barunya itu mendeteksi hal sepersonal itu dalam sekali lihat? Apakah Suga punya mata sinar-X seperti pahlawan super? Ataukah dia memang mesum tingkat dewa?
Pikiran-pikiran itu sukses membuat Da In frustrasi setengah mati.
Alasan kedua yang membuat kepalanya makin pening adalah fakta tak masuk akal yang terjadi berikutnya: Do Jin dan Suga entah bagaimana bisa menjadi teman akrab dalam waktu singkat.
Padahal jika dilihat dari sudut mana pun, mereka berdua seperti minyak dan air. Suga adalah manusia kutub utara; dingin, hemat bicara, dan datar. Sementara Do Jin? Kakaknya itu adalah makhluk paling berisik yang kelakuannya kadang bisa membuat anak TK sekalipun merasa malu jika harus berjalan berdampingan dengannya.
Namun, hampir setiap sore Da In bisa mendengar tawa melengking Do Jin bersahut-sahutan dengan gumaman rendah Suga di depan apartemen mereka.
Selama proses "pertemanan aneh" itu terjalin, Da In sebisa mungkin menarik diri. Interaksinya dengan Suga bisa dihitung dengan jari satu tangan, itu pun hanya sebatas sapaan kaku yang terpaksa. Selebihnya, Da In memilih berbalik arah atau pura-pura sibuk demi menghindari tetangga barunya itu. Dia masih menyimpan dendam kesumat pada bibir pedas Suga yang dengan ringannya memperingatkan soal pakaian dalam di hari pertama mereka bertemu.
Namun, terkadang, manusia memang selalu kalah telak jika sudah didebat oleh takdir. Kita bisa saja mati-matian menginginkan rencana A, tetapi semesta dengan jahilnya justru menyodorkan skenario B. Dan hal pahit itulah yang kini harus ditelan bulat-bulat oleh Da In.
Setelah bersumpah tidak ingin berurusan lagi dengan Suga, dia justru harus terjebak berduaan dengan laki-laki itu dalam kondisi paling tidak berdaya.
Saat ini, apartemennya sedang kosong melompong. Mamanya sedang pergi ke luar kota untuk menemani Do Jin yang baru saja mendapat jackpot besar. Program game terbaru yang dirancang kakaknya selama berbulan-bulan akhirnya dibeli dan akan diluncurkan oleh salah satu perusahaan game ternama di Amerika Serikat. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuat seisi rumah heboh.
Nahas bagi Da In, di saat keluarganya sedang bersuka cita, fisiknya justru tumbang. Tubuhnya mendadak demam tinggi setelah berhari-hari begadang demi mengejar tenggat waktu pekerjaan kreatifnya. Ditambah lagi dengan pola makannya yang berantakan karena malas memasak, membuat asam lambungnya naik dan merontokkan pertahanannya.
Di tengah rasa pening yang mendera, ponsel di samping telinganya masih sempat-sempatnya menyemburkan suara Do Jin yang cerewet.
“Makanya, Oppa kan sudah bilang berkali-kali kalau kau harus belajar mandiri, Da In! Kemampuan masak itu penting bagi kelangsungan hidup. Paling tidak, dengan masak sendiri, kau tahu apa yang masuk ke dalam perutmu. Sehat atau tidak, bersih atau tidak. Sekarang lihat akibatnya, karena kau jajan sembarangan di luar terus, lambungmu langsung protes, kan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
NEW NEIGHBOR ✔
Fanfiction[21+] Dia adalah Min Suga. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa. --- [After Marriage] Sequel dari New Neighbor. Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakta...
