NEW NEIGHBOR

784 44 36
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​“Kalau ada yang berhasil menyeretmu keluar dari kasur, jika dia laki-laki akan kunikahkan kau dengannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​“Kalau ada yang berhasil menyeretmu keluar dari kasur, jika dia laki-laki akan kunikahkan kau dengannya. Tapi kalau dia perempuan, akan kujadikan dia istriku.”

​Suara bariton itu meluncur santai dari mulut Kim Do Jin, yang saat ini tengah terlentang malas di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya.

​Kim Da In yang sedang sibuk menguncir rambutnya dengan asal langsung menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Kenapa begitu, oppa? Kalau yang datang perempuan, enak di oppa, gigit jari di aku dong!”

​“Suka-sukaku lah. Yang bilang kan aku,” sahut Do Jin tanpa dosa, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel sedikit pun.

​Da In mendengus kencang, melempar bantal sofa tepat ke arah wajah tampan kakaknya. “Dih, dasar jomblo karatan!”

​“Maling kok teriak maling!” tangkis Do Jin cepat, dengan gesit menangkap bantal tersebut lalu melemparkannya kembali ke arah Da In.

​BUKK!!!

​Bantal itu sukses mendarat telak di dahi Da In.

​“Aw! Oppa!” jerit Da In sambil mengusap dahinya yang sebenarnya tidak sakit-sakit amat, tapi harga dirinya jelas terluka. “Kumat kurang ajar sama adek sendiri, ya?!”

​“Kim Do Jin! Kim Da In! Kalau kalian terus bertengkar, Mama kirim semua makanan ini ke tetangga baru kita!”

​Suara menggelegar dari arah dapur langsung memotong peperangan yang hampir pecah berkeping-keping itu. Seketika, atmosfer di ruang tengah mendadak hening. Do Jin dan Da In langsung duduk tegak dengan posisi manis, mengunci mulut rapat-rapat. Ancaman kehilangan makan malam buatan Mama adalah bencana paling mengerikan di rumah keluarga Kim.

​“Memangnya kita punya tetangga baru?” gumam Do Jin sangat lirih, nyaris tanpa suara, sambil melirik ke arah Da In dengan sudut matanya.

​Da In yang juga sudah melirikkan matanya ke arah dapur untuk memastikan situasi aman, ikut berbisik. “Memangnya ada yang mau beli rumah kosong yang katanya ada hantunya itu?”

​“Kenapa kau berbisik padaku?” tanya Do Jin heran, ikut memiringkan kepalanya.

​Da In memutar bola matanya malas. “Karena Oppa yang mulai bisik-bisik!”

NEW NEIGHBOR ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang