03. KULKAS

264 23 12
                                        

​"Mau kau apakan jeroan babi sebanyak itu, Nak?" tanya seorang nenek penjual di sudut pasar tradisional, menatap tumpukan belanjaan di depannya dengan dahi berkerut heran

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​"Mau kau apakan jeroan babi sebanyak itu, Nak?" tanya seorang nenek penjual di sudut pasar tradisional, menatap tumpukan belanjaan di depannya dengan dahi berkerut heran.

​Kim Do Jin menyunggingkan senyumnya yang paling menawan, membuat beberapa ibu-ibu di sekitar lapak mencuri pandang. "Mau kumasak, Nek. Aku sedang sangat ingin makan Samgyeopsal, tapi karena harus menjaga kebersihan makanan, aku memutuskan untuk mengolahnya sendiri di rumah."

​"Omo... zaman sekarang masih ada laki-laki setampan ini yang pandai memasak?" Nenek itu menepuk pipinya pelan, berpura-pura mendesah kecewa. "Nenek jadi menyesal kenapa harus lahir terlalu cepat."

​Tawa khas Do Jin yang menyerupai suara sekaan kaca pecah seketika membumbung tinggi, mengundang perhatian orang-orang yang melintas. "Nenek ini bisa saja menggombaliku pagi-pagi. Tapi, karena aku tampan, aku berhak mendapatkan potongan harga, kan?"

​"Kau dengan segala tingkat kepercayaan dirimu yang setinggi langit itu, Kim!" sebuah suara feminin yang familier tiba-tiba menyela dari arah belakang. "Ambil saja semua yang kau butuhkan, Nek. Aku yang akan membayar seluruh belanjaannya."

​Do Jin menoleh cepat. Senyumnya melebar saat mendapati sosok teman lamanya berdiri di sana dengan senyum tipis yang sarat akan kerinduan. "Kau tahu betul aku tidak pernah menolak barang gratisan. Jadi, jangan menyesal jika aku mengambil porsi yang sangat banyak."

​"Sesukamu, Do Jin. Jangan sungkan-sungkan," sahut gadis itu lembut.

​Seokjin benar-benar menanggalkan rasa sungkannya siang itu. Ia memborong hampir seluruh persediaan jeroan babi di lapak sang nenek dengan binar puas yang terpancar jelas dari matanya.

​"Sesederhana itu rupanya caramu mencari kebahagiaan, Kim?" tanya gadis itu saat mereka mulai berjalan beriringan meninggalkan area pasar yang riuh.

​Seokjin mengedikkan bahunya santai. "Tentu saja. Kapan kau tiba di kota ini?"

​"Tadi malam."

​"Menginap di mana?" Seokjin melirik sekilas ke arah gadis bersurai cokelat di sebelahnya.

​"Seperti biasa, di hotel milik Papa."

​Keheningan mendadak merayap di antara mereka. Langkah kaki yang bergesekan dengan aspal menjadi satu-satunya melodi pengisi kekosongan. Ada kecanggungan tak kasat mata yang tiba-tiba saja menyekat interaksi akrab mereka.

​Merasa atmosfer di antara mereka kian memberat, Do Jin berinisiatif memecah kesunyian-sekaligus sebagai bentuk apresiasi karena gadis itu telah menanggung seluruh biaya belanjaannya pagi ini.

​"Mau mampir ke rumahku sebentar?"

​Gadis itu mengangguk kecil, namun gurat keraguan tidak dapat disembunyikan dari wajah cantiknya. "Tapi... bagaimana dengan Mamamu?"

​"Mama sekarang tinggal di Buam-dong. Beliau sedang menekuni kembali galerinya sejak kami kembali dari Amerika beberapa bulan lalu. Dan kau tahu sendiri, kan, bagaimana jika Mama sudah mulai tenggelam dalam dunia seninya?"

NEW NEIGHBOR ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang