04. JANJI

234 21 18
                                        

Menikah itu seperti menyetujui kontrak untuk berbagi badai dengan orang yang paling ingin kita dekap sekaligus kita pukul di saat yang sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menikah itu seperti menyetujui kontrak untuk berbagi badai dengan orang yang paling ingin kita dekap sekaligus kita pukul di saat yang sama. Dua kepala, dua masa lalu, dan dua ego yang disatukan di bawah satu atap tidak akan pernah berjalan semulus perjalanan kereta eksekutif yang tenang.

Bagi Da In, pernikahan ini adalah sebuah bahtera yang berlayar tanpa kompas di tengah samudera berkabut. Badai pertamanya baru saja menghantam, merobek layar-layar ilusi yang selama ini ia bangun tentang suaminya.

Pernikahan mereka terjadi begitu cepat, layaknya putaran angin puyuh. Hanya satu minggu mengenal Min Suga sebagai tetangga apartemennya yang misterius, benih cinta tiba-tiba tertanam di rahimnya, dan satu bulan kemudian mereka resmi terikat dalam janji suci.

Da In tidak tahu banyak tentang Suga. Ia hanya tahu laki-laki itu bekerja sebagai editor film dewasa, memiliki keluarga di luar negeri, dan tinggal tepat di sebelah unitnya. Detail mengenai isi dompet, aset, bahkan lapisan terdalam dari kepribadian Suga baru perlahan terkelupas setelah mereka tidur di ranjang yang sama.

Dan hari ini, Da In mendapati satu lagi kepingan kenyataan yang pahit: Suga memiliki temperamen yang meledak-ledak, tipe dominan yang tega mengurungnya di kamar hingga ia lemas kelaparan hanya demi memuaskan rasa cemburunya.

Malam kian larut, namun kelopak mata Da In enggan terpejam. Ia berbaring memunggungi sisi ranjang suaminya, menatap kosong pada tirai jendela yang bergoyang ditiup angin malam. Tiba-tiba, sebuah lengan kokoh merayap dari belakang, melingkari pinggangnya yang mulai melebar. Tubuh dingin Suga merapat, menempelkan wajahnya tepat di perpotongan leher dan bahu Da In. Napasnya yang hangat berembus teratur di kulitnya, mengirimkan getar halus yang berusaha keras Da In abaikan.

"Belum tidur?" bisik Suga, suaranya serak khas orang mengantuk.

Da In hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Tubuhnya tetap kaku.

"Kenapa? Kau masih marah padaku?"

Da In mengembuskan napas berat. Tentu saja aku masih marah, bodoh, makinya dalam hati. Kejadian di depan kulkas Do Jin tadi siang memang sempat meredakan ketegangan fisik mereka, namun itu sama sekali tidak membereskan benang kusut di kepala Da In. Masalah mereka masih menggantung, tak terselesaikan.

"Bodoh ya aku. Masih saja bertanya hal yang sudah jelas," gumam Suga lirih pada dirinya sendiri.

Mendengar ucapan itu, sudut bibir Da In berkedut menahan senyum sinis. Untung saja ia tidak sedang mengunyah apa pun, dan untung posisinya membelakangi Suga. Jika tidak, ia pasti sudah menertawakan suaminya keras-keras. Seorang Min Suga—yang selalu mengagungkan kejeniusannya sendiri dan gemar memanggil Da In gadis bodoh—baru saja mengakui kebodohannya sendiri. Ada rasa puas yang aneh sekaligus menggelitik di dada Da In mendengar kesombongan laki-laki itu runtuh perlahan.

"Tertawa saja. Aku tidak akan marah," bisik Suga lagi, seolah bisa membaca pikiran istrinya. Pelukannya di perut Da In kian mengerat, seolah takut gadis itu akan melebur dan menghilang jika ia melonggarkan kunciannya.

NEW NEIGHBOR ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang