Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar tidak membawa kehangatan sama sekali bagi Da In. Sebaliknya, pagi itu terasa seperti neraka kecil.
Keringat dingin membasahi seluruh pelipis dan tengkuknya. Di bawah tulang rusuknya, perutnya terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata, memilin lambungnya hingga memicu rasa mual yang luar biasa hebat. Rasa sakit itu begitu tajam, menusuk hingga ke punggung, membuatnya tidak bisa melakukan hal lain selain meringkuk gemetar dalam posisi janin di atas ranjang.
Aku harus ke rumah sakit, batin Da In panik. Dia tahu ini bukan sekadar maag biasa. Tubuhnya benar-benar menjerit meminta pertolongan medis.
Dengan jemari yang gemetar karena lemas, dia meraih ponsel di atas nakas. Napasnya terengah-engah saat mencoba menekan tombol panggilan cepat ke nomor ponsel Do Jin.
Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.
Satu helaan napas frustrasi lolos dari bibir pucatnya. Da In beralih menekan nomor Mamanya. Hasilnya nihil. Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya terputus secara otomatis. Mengingat perbedaan zona waktu dan jadwal padat Do Jin dengan investor gamenya di Amerika Serikat, sangat masuk akal jika kedua orang yang seharusnya melindunginya itu kini sama sekali tidak bisa dihubungi.
“Ayo, lah... siapa saja,” bisik Da In lirih, air matanya mulai menetes karena rasa sakit yang makin tidak tertahankan.
Pandangannya mulai mengabur oleh air mata saat dia membuka daftar kontak kerja, mencoba mencari nama rekan kantornya yang sekiranya tinggal paling dekat dari perumahannya. Jemarinya baru saja akan menyentuh satu nama, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati kamarnya.
Cklek.
Pintu kamar itu terbuka lebar tanpa ketukan terlebih dahulu.
Da In tersentak, refleks menoleh dengan sisa tenaga yang dia miliki. Matanya membelalak sempurna saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
Min Suga.
Laki-laki itu masih mengenakan pakaian santai yang hampir sama dengan semalam, namun guratan kecemasan terlihat jelas di wajah pucatnya yang biasanya selalu tampak acuh tak acuh.
“Kau... bagaimana kau bisa masuk?!” pekik Da In dengan suara serak yang nyaris habis.
Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa panik. Seingatnya, begitu Suga pergi semalam dengan amarah yang meluap, hal pertama yang dilakukan Da In dengan sisa tenaganya adalah mengganti kata sandi digital pintu depan rumahnya. Dia menggantinya dengan kombinasi angka baru yang tidak mungkin ditebak oleh siapa pun. Bagaimana bisa laki-laki ini berdiri di kamarnya sekarang? Apakah dia benar-benar seorang penyusup terampil?
Suga tidak menjawab. Dia mengabaikan pertanyaan penuh kepanikan itu. Langkah kakinya yang lebar langsung membawanya ke tepi ranjang.
Tanpa banyak bicara, Suga meraih bahu Da In, membalikkan tubuh gadis itu yang tadinya meringkuk miring agar berbaring telentang di atas kasur.
“Lepaskan! Menjauh dariku!” Da In mencoba meronta, memukul dada Suga dengan tinjunya yang lemah. Namun, perlawanan itu langsung sirna seketika saat gelombang rasa sakit yang luar biasa kembali menghantam perutnya. Da In memekik tertahan, matanya terpejam erat sementara tubuhnya kembali menegang menahan nyeri. Rasa sakit itu benar-benar melumpuhkan seluruh ototnya.
Dalam kondisi tidak berdaya itu, Da In merasakan sentuhan jemari Suga yang dingin di sekitar pinggang piyamanya. Detik berikutnya, jantung Da In seolah berhenti berdetak saat merasakan celana piyamanya dipelorotkan sedikit ke bawah pinggul, disusul dengan bagian bawah kaos tidurnya yang diangkat ke atas hingga mengekspos seluruh perutnya yang rata namun tegang karena kram.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEW NEIGHBOR ✔
Fanfiction[21+] Dia adalah Min Suga. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa. --- [After Marriage] Sequel dari New Neighbor. Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakta...
