[21+] Dia adalah Min Yoongi. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa.
---
[After Marriage]
Sequel dari New Neighbor.
Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakt...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luxembourg, three years ago
"Tuan? Tuan Min? Tuan tidak apa?"
Retorik. Terlalu bodoh untuk pertanyaan pada kenyataan yang sudah kentara jelas. Apanya yang tidak apa? Tubuhnya remuk total. Duduk di kursi roda. Ada perban melingkar separuh di tubuhnya. Lengan sebelah yang bergetar hebat jika direntangkan. Bahkan dadanya saja masih sakit hanya untuk menarik napas dalam.
Bodoh sekali memang pertanyaan yang masih mengawang di depan pintu kamar mandi bernuansa rusticnya.
"Tuan? Jangan hanya diam, saya mohon. Katakan sesuatu apa yang bisa saya lakukan untuk Tuan."
Ha ha ha. Rasanya ingin ia sumpalkan gelak pada sosok di balik pintu kamarnya yang ia tahu betul bagaimana gurat raut penuh keriput, lengkap dengan apron lusuh di tubuh, pun cepol messy penuh uban miliknya.
Apa sih yang bisa si tua itu lakukan untuknya selain membawakan makan dengan masakan buatan tangannya yang juga mulai sering gemetar?
Namun, gelak itu tak ia bawa kemana-mana. Dia ganti dengan kekehan bisu. Menampilkan senyum asimetris, meremehkan. Sambil menikmati miris timpangnya keadaan akan pantulan diri yang masih terhias cervical collar pada sepotong sisa cermin yang masih bertahan dari amukan sebelah tangannya yang normal beberapa saat lalu.
"Tuan... Tolong jangan sakiti diri tuan lagi. Saya tahu saya tidak bisa memberikan dia yang tuan minta, tapi tolong beritahu saya apa yang bisa saya lakukan agar bisa meredakan rasa sakit tuan."
Sial!
Getaran suara paruh baya itu membuatnya ingin melempar diri sendiri pada kematian yang beberapa bulan lalu sudah sempat menyapanya dengan ejekan berupa detak yang berdegup lagi diambang jiwanya yang sudah siap melebur pada terang tak berujung.
Muak sekali dia setiap ingatan akan kematian tak jadi mengambilnya melintas. Membuat dada dan perutnya sesak, seolah ada benda yang melesak-lesak kasar ingin dikeluarkan tapi tak ada. Mencipta mual berkepanjangan yang membuatnya semakin merutuk pada kesialan sebuah rasa yang menimpanya.
Hah!
"Berhenti menawarkan sesuatu yang mustahil. Bawakan lagi saja peta baru untukku."
Hening hingga beberapa jam ke depan, tapi ia tahu lembaran peta baru yang siap ia siksa lagi seperti yang sudah-sudah akan menemani menit-menitnya yang sepi.
Jemarinya yang kekar meski kulitnya seputih batu pualam terlihat saling menyusur di atas bentangan kertas bernuansa biru dan hijau dengan pola- pola lekukan yang ada. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah telunjuknya hanya berputar-putar di atas pola negara berbentuk heksagonal--teritori metropolitannya terletak di Eropa Barat: Prancis. Dan setelah bosan berputar-putar di atas peta negara Prancis, ia tarik jarinya ke atas dengan perlahan, melewati beberapa titik Bourges, Orléans, Versailles, dan berhenti di Paris--kota yang sering disebut la Ville des Lumières* *city of light