Ruang tunggu pengantin yang sedari tadi sunyi mendadak dipenuhi oleh atmosfer yang begitu pekat, sarat akan ketegangan yang mendebarkan. Belum sempat Da In menyuarakan kebingungan atau menanyakan maksud dari kalimat terakhir yang diucapkan Suga, laki-laki itu sudah bergerak dengan kecepatan kilat yang tak menyisakan ruang untuk protes.
Dengan gerakan anggun namun penuh dominasi, Suga menunduk, meluncurkan kepalanya menyelinap di balik tumpukan kain satin dan renda indah gaun pengantin putih yang membalut tubuh Da In.
Da In tersentak hebat, tangannya refleks meremas sandaran sofa beludru di belakangnya. Dia ingin sekali berteriak atau mendorong bahu kokoh Da In keluar dari sana, namun segalanya terlambat. Bibir dan lidah Suga sudah lebih dulu menyentuh titik paling sensitif di bawah sana, memberikan kecupan-kecupan hangat yang langsung menyapu bersih semua logika di kepala Da In. Ia terpaksa mengatupkan bibir rapat-rapat, menahan sekuat tenaga agar tidak ada satu pun suara yang lolos melewati celah pintu kayu di belakang mereka.
Suga perlahan memunculkan kepalanya kembali dari balik gaun, menyisakan wajah yang sedikit basah dengan sepasang mata sayu yang berkilat penuh damba. Laki-laki itu menatap Da In yang kini tengah terengah-engah dengan wajah merah padam.
“Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum pendeta dan para tamu siap di aula utama,” bisik Suga, suaranya terdengar sangat parau dan dalam. “Jadi, biarkan aku menikmati sarapan pagiku terlebih dahulu, Sayang.”
Da In tidak mampu menjawab. Lidahnya terasa kelu. Apalagi ketika Suga kembali mencondongkan tubuh, membungkam bibirnya dengan lumatan lembut yang begitu memabukkan. Bersamaan dengan tautan manis di bibir mereka, tangan kanan Suga yang hangat mulai menyusup ke celah gaun, meraba perlahan dan memberikan usapan lembut pada klitoris Da In yang kian menegang sempurna.
Tubuh Da In bergetar hebat di bawah kendali Suga. Sensasi dingin dari ruangan ber-AC berpadu kontras dengan gelombang panas yang menjalar dari sentuhan jemari Suga. Ketakutan bahwa seseorang entah itu Seokjin atau sang Mama bisa saja mendobrak pintu sewaktu-waktu membuat debaran jantung Da In berdegup dua kali lebih kencang. Ia ingin sekali melayangkan pukulan kesal pada pundak Suga yang egois ini, namun alih-alih melawan, kedua tangannya justru bergerak mengkhianati akal sehatnya; melingkar erat di sekeliling leher kokoh Suga, membiarkan dirinya ditaklukkan seutuhnya.
Gerakan jemari Suga di bawah sana kian intens dan dinamis, menciptakan gesekan-gesekan basah yang puitis di sela paha Da In. Cairan gairah yang terus mengalir menjadi bukti tak terbantahkan bahwa tubuh Vee telah melebur sepenuhnya dalam permainan suaminya.
Tanpa Da In sadari, di sela-sela ciuman panas mereka, tangan Suga yang lain telah membuka ritsleting celana formalnya sendiri. Dia membimbing tubuh Da In hingga merapat pada dinding ruang tunggu yang dingin, menjadikan tubuh tegapnya sebagai pelindung sekaligus pengunci gerakan gadis itu. Setelah beberapa kali tubuh mungil Da In menegang dan bergetar hebat di bawah kendali jemarinya, Suga menarik napas dalam. Dia mengangkat sebelah kaki Da In, menumpukannya pada pinggangnya, lalu mulai menyatukan diri mereka yang sama-sama telah didera damba luar biasa.
“Jangan ditahan lagi, Sayang. Keluarkan saja seluruh gairahmu,” bisik Suga tepat di telinga Da In, mengirimkan embusan napas seksi yang membuat pertahanan Da In runtuh sepenuhnya. “Aku yang akan membersihkannya nanti. Aku berjanji akan memastikan pengantinku tetap tampil paling cantik di hari spesialnya ini.”
Kalimat protektif itu menjadi penawar rasa takut Da In. Dengan kepasrahan yang manis, ia mengeratkan pelukannya pada leher Suga, membiarkan laki-laki itu mulai menggerakkan pinggiran tubuhnya dalam ritme yang teratur namun mendalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEW NEIGHBOR ✔
Fanfiction[21+] Dia adalah Min Suga. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa. --- [After Marriage] Sequel dari New Neighbor. Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakta...
