SHOOK!

307 37 2
                                        

Selama berhari-hari berikutnya, dunia Da In mendadak berputar di sekitar Min Suga.

​Selama gadis itu belum sepenuhnya pulih, Suga memutuskan untuk mengungsi dan menginap di rumah keluarga Kim. Laki-laki itu menolak pulang demi memantau kondisi Da In yang masih naik-turun. Dia menggelar kasur lipat dan tidur di ruang santai, menjaga area privat Da In dengan sangat sopan.

​Suga hanya akan mengetuk dan masuk ke kamar Da In ketika tiba waktunya gadis itu untuk makan dan minum obat. Dia benar-benar tidak melewatkan satu menit pun jadwal pengobatan Da In dengan disiplin yang ketat.

​Bahkan yang membuat Da In paling tercengang adalah aroma harum yang selalu menguar dari arah dapur setiap menjelang jam makan. Suga memasakkan makanan-makanan sehat untuknya. Mulai dari bubur gurih yang lembut di lambung, sup sayuran hangat yang kaya rasa, hingga teh madu hangat yang pas manisnya.

​Da In benar-benar dibuat terkejut oleh kemampuan memasak tetangga barunya itu. Dia tidak pernah mengira bahwa laki-laki yang luar biasa dingin, berantakan, dan sangat hemat kata itu bisa bergerak dengan begitu luwes dan telaten di depan kompor.

​Rasa penasaran Da In mulai terusik. Kemampuan tak terduga apa lagi yang sebenarnya disembunyikan oleh laki-laki bermulut pedas ini? Saking penasarannya, Da In sering kali diam-diam mengintip Suga dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit saat laki-laki itu sedang sibuk di dapur atau ruang tengah.

​Dan dalam salah satu momen intipan itu, Da In terhenyak sendiri. Di balik penampilan Suga yang cuek, ada pesona ketampanan yang tidak bisa dibantah. Ditambah lagi, Suga ternyata bukan sekadar tampan, melainkan genius.

​Pembuktian kejeniusan itu terjadi di hari ketiga Da In sakit. Sebagai seorang kreator yang bekerja secara remote dari rumah, Da In tidak bisa sepenuhnya meninggalkan pekerjaannya meskipun fisiknya sedang lemas. Ada tenggat waktu ketat yang harus dia penuhi.

​Hari itu, dia dihadapkan pada beberapa pekerjaan analisis data yang sangat menguras otak. Kepalanya yang masih agak pening dipaksa berputar keras untuk memecahkan angka-angka statistik yang rumit.

​Biasanya, jika mengalami kebuntuan seperti ini, Da In akan langsung meluncur ke kantor untuk mendiskusikannya secara langsung dengan rekan kerjanya. Namun, dengan kondisi tubuh yang bahkan untuk berdiri saja masih goyah, keluar rumah adalah hal yang mustahil.

​Da In hanya bisa pasrah. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, lalu mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi ke atas langit-langit kamar sambil mendesah frustrasi.

​“Ah... bagaimana ini? Aku tidak bisa menemukan jalan keluarnya sama sekali,” keluh Da In pada diri sendiri, memijat pelipisnya yang berdenyut.

​“Lehermu bisa patah kalau kau mendongak seperti itu terus.”

​Suara berat yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu mengejutkan Da In. Sebelum gadis itu sempat merespons, Suga sudah berjalan mendekatinya. Tanpa banyak bicara, Suga mengulurkan tangannya, dengan lembut namun tegas mengembalikan posisi kepala Vee ke depan agar tidak pegal.

​Detik berikutnya, Suga meraih laptop yang menyala di pangkuan Da In. Matanya yang sipit memindai layar selama beberapa detik, membaca baris-baris data statistik yang sudah membuat Da In pusing selama tiga jam terakhir.

​Jemari pucat Suga kemudian menari dengan sangat cepat di atas keyboard. Kurang dari lima menit, Suga menyodorkan kembali laptop itu ke hadapan Da In. Rumus-rumus rumit itu telah terpecahkan, data statistik tersusun rapi, lengkap dengan hasil akhir yang sangat akurat.

NEW NEIGHBOR ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang