THE DAY : HUNGRY

336 33 10
                                        

“Kabur... atau aku harus memberimu hukuman pagi hari?”

Bisikan rendah serak khas bangun tidur itu seketika memecah keheningan fajar, membuat Da In tersentak di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang karena tertangkap basah. Padahal, dia sudah bergerak dengan gerakan selembut dan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur lelap laki-laki yang sejak semalam mendekapnya erat tanpa celah. Namun, tampaknya radar Min Suga terlalu sensitif jika menyangkut dirinya.

“Aku... aku harus kembali ke rumah, Suga. Aku harus bersiap-siap di sana, kan?” kata Da In pasrah.
Suaranya terdengar mencicit halus karena dekapan Suga dari arah belakang justru semakin mengencang, melingkari pinggangnya bagai sekat besi yang mustahil untuk dilepaskan. Laki-laki itu menarik tubuh polos Da In agar kembali merapat tanpa jarak pada dada bidangnya yang hangat di balik selimut tebal.

“Aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan di sini. Jadi, jangan mencari-cari alasan lagi,” sahut Suga pelan namun mutlak.

Laki-laki itu kemudian menyurukkan wajahnya, menyandarkan dagunya tepat di ceruk tengkuk belakang Da In yang sensitif. Embusan napas hangat Suga yang beraturan menyapu kulit lehernya, mengirimkan getaran halus yang membuat bulu kuduk Da In meremang indah.

Da In mengembuskan napasnya perlahan, mencoba meredakan debaran dadanya sendiri. Dia masih berusaha mencari argumen agar Suga mengizinkannya kembali ke apartemen keluarga Kim.

Sebenarnya, dia bukan berniat untuk kabur atau membatalkan segalanya. Meskipun Do Jin dan Mamanya secara mengejutkan langsung memberikan restu penuh dan menyetujui lamaran kilat Suga seminggu setelah peristiwa di kamar mandi itu, Da In tetaplah manusia biasa. Dia butuh waktu dan ruang untuk dirinya sendiri. Paling tidak hanya untuk menata hatinya yang bergemuruh hebat karena dalam hitungan jam ke depan, dia akan benar-benar melepas status lajangnya dan mengikat janji suci seumur hidup dengan laki-laki misterius ini.

“Kau masih ragu?” Suga kembali berbisik, suaranya sangat lirih namun sarat akan ketegasan yang mengintimidasi tepat di tengkuknya. “Atau... kau masih takut padaku?”

“Tidak, bukan begitu. Aku hanya..."

Kalimat Da In menggantung di udara karena Suga tiba-tiba melepaskan rengkuhannya secara perlahan.

Kehilangan kehangatan yang mendadak itu membuat Da In merasa kosong. Suga membiarkan Da In membalikkan badannya di atas kasur agar mereka bisa saling berhadapan. Selama beberapa menit, Suga hanya diam, menatap lekat-lekat kedua manik mata Da In dengan sepasang mata sipitnya yang tajam namun meneduhkan, tanpa ada niat untuk kembali mendekapnya. Keheningan itu justru terasa jauh lebih mendebarkan daripada kata-kata apa pun.

“Pulanglah jika kau memang benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri,” ucap Suga akhirnya, suaranya terdengar datar namun ada nada dingin yang terselip di sana. “Tapi, aku tidak akan pernah menerima kata tidak atau penundaan jika saat kau di rumah nanti, keraguanmu tiba-tiba membuatmu ingin menunda pernikahan kita. Aku tidak akan pernah mengampunimu untuk itu.”

Suga menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang begitu dalam hingga membuat Da In menahan napas.
“Aku akan mendatangi Do Jin hari ini juga dan mengatakan padanya bahwa aku telah menghamilimu agar pernikahan ini tetap terjadi detik ini juga. Lagipula... lihat dirimu, bukankah kau juga belum datang bulan?”

Bibir Da In langsung mengatup rapat. Wajahnya seketika merah padam hingga ke ujung telinga. Dia benar-benar kalah telak oleh ancaman tak tahu malu yang keluar dari bibir tipis kemerahan milik Suga. Gadis itu tidak mampu menyahut satu patah kata pun. Mulutnya hanya menganga tak percaya bagaimana dia bisa jatuh sepasrah ini pada setiap pesona, tindakan, dan kata-kata manipulatif namun manis dari laki-laki di hadapannya.

NEW NEIGHBOR ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang