[21+] Dia adalah Min Suga. Tetangga baru yang tiba-tiba melamarmu dengan cara yang tidak biasa.
---
[After Marriage]
Sequel dari New Neighbor.
Setelah janji bersama sehidup semati disaksikan dan disumpah dihadapan Tuhan dan para jemaat, semua fakta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Hmmhhh... mau ke mana?”
Desis rendah yang serak khas bangun tidur itu memecah keheningan fajar, disusul oleh sepasang lengan kokoh yang kembali melingkar erat di pinggang Da In.
Da In merutuki dirinya dalam diam. Padahal, ia sudah bergerak sehalus dan sepelan mungkin untuk melepaskan diri dari dekapan hangat laki-laki yang kini telah sah menjadi suaminya itu. Namun, tampaknya radar Min Suga terlalu sensitif untuk dikelabui. Di satu sisi, ada binar hangat yang menyelimuti dada Da In; ia tahu posesifnya Suga adalah wujud dari rasa cinta yang tak ingin sedetik pun terpisah darinya. Namun di sisi lain, pagi ini gadis itu ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda.
“Ke kantor, ada meeting rutinan pagi ini,” ucap Da In pasrah. Tubuhnya kembali ditarik hingga berbaring pasrah di atas kasur, tenggelam dalam pelukan hangat suaminya.
Sepasang mata sipit berbentuk setengah bulan sabit itu mengerjap perlahan. Suga menggosok matanya dengan sebelah tangan yang bebas, menatap sang istri dengan pandangan setengah mengantuk namun sarat akan ketegasan. “Aku antar kalau begitu,” sahut Suga, suaranya parau namun tidak menerima bantahan.
Da In menggeleng cepat, matanya membelalak panik. “Jangan! Tidak usah! Kalau kau mengantarku, anak-anak kantor akan membombardirku dengan segudang pertanyaan menyebalkan. ‘Eh, siapa itu, Da In? Tumben sekali diantar laki-laki tampan? Kekasih barumu ya, atau teman tapi mesra?’ Aku tidak mau mendengar celotehan seperti itu.”
“Ya tinggal jawab saja kalau aku ini suamimu. Apa susahnya?” sahut Suga dengan dahi berkerut kesal.
“Tidak! Tidak bisa begitu,” potong Da In cepat. “Aku belum siap jika mereka tahu kalau aku tiba-tiba saja sudah menikah.”
Suga menyipitkan matanya, tatapannya mendadak berubah intens dan menyelidik. “Kenapa? Apa ada seseorang di kantormu yang sedang kau jaga perasaannya?”
“Tidak ada! Sama sekali tidak ada--”
“Ya sudah, kalau begitu aku antar. Sana cepat mandi dan bersiap-siap, aku akan membuatkan sarapan untukmu di bawah,” potong Suga cepat tanpa memberikan celah bagi Da In untuk mendebat.
Laki-laki itu langsung melompat dari tempat tidur dengan gerakan tangkas, meninggalkan Da In yang kini hanya bisa mengepalkan kedua tangannya ke udara, menahan kekesalan yang tidak bisa ia salurkan pada punggung kokoh suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.
“Mati aku... kalau sampai anak-anak kantor tahu aku menikah secepat ini karena hamil duluan. Apalagi di sana ada... arrghhhhh!!!” gerutu Da In lirih sambil membenamkan wajahnya ke bantal dengan raut cemberut setengah mati.