BAGIAN KE-DUA PULUH DUA

156 12 29
                                        

---

Cepet sembuh ya, biar cepet pulang. Jangan biarin aku nunggu terlalu lama disini.

-Isyana Sarasvati Wardhana-

---

Ceklek..

Suara pintu IGD yang gerbuka dan ada seorang Dokter yang keluar dari sana, sontak Herman dan Isyana langsung menghampiri dokter itu, "Gimana keadaan Rayhan dok?"

Dokter tersenyum kecil, "Rayhan sudah sadar.."

Herman dan Isyana mengeluarkan nafas lega, "Alhamdulillah..."

Seketika senyuman dokter memudar dari bibirnya, "tapi.."

"TAPI APA DOK?!" Tanya Isyana terkejut.

"Rayhan hari ini juga harus dibawa ke German."

Isyana teridiam, seketika jiwanya pergi dari tubuhnya. Secepat inikah ia harus berpisah dengan Rayhan?! Sejujurnya Isyana samasekali belum menyiapkan mentalnya untuk berjauhan dengan Rayhan.

"Kenapa harus sekarang juga dok?" Tanya Isyana sambil mencoba menahan air matanya agar tidak keluar sekuat tenaga.

"Saya takut tidak bisa menghendle Rayhan lagi, keadaannya sudah sangat parah.. Ia harus segera di tangani oleh dokter yang lebih ahli dari saya."

Isyana mengepalkan tangannya, ia sangat marah, kenapa harus Rayhan yang sakit?! Baru saja mereka merasakan menjadi sepasang kekasih tapi yang harus mereka lewati harus sudah seberat ini.

"Saya tinggal, dulu ya. Pak Herman bisa ikut saya untuk mengurus berkas Rayhan untuk ke German."

Herman mengangguk, "Baik dok."

Isyana hanya terdiam sambil menunduk, masih memikirkan bagaimana hari-harinya tanpa Rayhan, Seminggu saja ditinggal Rayhan sudah sangat berat bagi Isyana, apalagi sekarang ia harus menjalani hubungan jarak jauh yang mungkin tidaklah sebentar.

Herman menghampiri Isyana dan merangkulnya, "Masuk duluan ya Syan, Om mau urus berkas Rayhan dulu." dan tak lama kemudian Herman melangkahkan kakinya meninggalkan Isyana.

Isyana mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatahkatapun.

Isyana menatap pintu IGD, haruskah ia masuk kesana?! Ia masih belum sanggup melihat Rayhan, ia masih teringat saat Rayhan kesakitan disekolah karena penyakitnya. Itu sangat menakutkan bagi Isyana dan sekaligus itu adalah hal yang menyakitkan juga baginya melihat Rayhan kesakitan seperti tadi.

Isyana menarik nafasnya panjang, ia memberanikan dirinya untuk melangkah masuk ke ruang IGD. Ia tak ingin menyia-nyiakan sisa-sisa waktunya bersama Rayhan selagi Rayhan masih ada disisinya, karena mungkin beberapa jam kedepan ada jarak yang akan memisahkan mereka.

Pertamakali yang Isyana lihat saat memasuki IGD adalah Rayhan yang sedang menatap kosong ke arah depan, tubuh Rayhan banyak sekali alat yang di tempelkan ke dadanya. Rayhan juga memakai bantuan oksigen.

Isyana lagi-lagi harus menahan tangisannya, rasanya ia ingin pergi saja dari ruangan ini, hatinya sangat sakit melihat Rayhan yang seperti ini. Namun lagi-lagi ia berfikir untuk tidak menyia-nyikan waktunya bersama Rayhan.

Isyana mengatur nafasnya, ia lagi-lagi mengepalkan tangannya, "Lo harus kuat demi Rayhan Syan! Harus kuat!"

Isyana melangkahkan kakinya gontai menuju ranjang Rayhan, Saat Isyana sudah disamping Rayhan, Rayhan mengengok ke arahnya.

NEVER LET GOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang