---
Senyumanmu Candu, aku ingin melihatnya lagi dan lagi, Ray. Aku ingin buat kamu bahagia, agar senyuman itu selalu bisa ku lihat setiap saat.
-Isyana Sarasvati Wardhana-
---
Hari selasa lagi yang indah bagi Isyana, karena hari ini Isyana tidak kesiangan dan ia bisa tepat waktu untuk pergi sekolah, dan jika berangkat lebih pagi jalanan tidak akan semacet biasanya, bagun pagi memang salah satu kebahagiaan bagi Isyana.
"MI ISYAN PERGI YA!"
Fani yang sedang asik menonton televisi berteriak menjawab anaknya yang sudah berada di luar rumah, "HATI-HATI SYAN!"
Isyana memencet kunci mobilnya dan tangannya bergerak menuju handle mobilnya.
Tittt... Tit...Titt..
Suara klakson motor itu dapat memberhentikan aktifitas Isyana,
"Gak mau pergi sama aku aja?"
Isyana menengok ke arah suara, Dan ia menemukan Rayhan yang berada didepan pagarnya sambil menaiki motor dan tersenyum kepadanya.
Senyuman itu menular, dan kini Isyana juga tersenyum karena melihat senyuman Rayhan.
Isyana berjalan melangkahkan kakinya ke arah Rayhan, "Kok sekolah?"
Rayhan tersenyum, "Kalau aku nggak sekolah, siapa yang jagain kamu disekolah?"
Isyana tertawa mendengar jawaban Rayhan, laki-laki itu selalu saja membuatnya tertawa, Rayhan adalah moodbooster untuk Isyana di setiap saat.
Rayhan mengambil helm yang biasanya Isyana pakai, dan memakaiannya pada Isyana,"Sini naik..."
Isyana mengangguk dan segera menaiki motor Rayhan.
Dan tak butuh waktu lama motor Rayhan berjalan meninggalkan rumah Isyana.
Di jalan mereka saling tertawa lepas bersama, moment yang sudah lama sekali tidak mereka rasakan.
Citttt...
Saat mereka sedang asik bercanda tiba-tiba Rayhan berhenti mendadak, akibatnya Isyana memeluk Rayhan erat dan wajahnya ia sembunyikan di belakang punggung Rayhan.
Hal itu membuat Rayhan tersenyum lebar,moment-moment yang entah bisa ia rasakan lagi atau tidak nantinya.
"KENAPA BERHENTI?!"
Rayhan menahan senyumnya agar Isyana tidak mengetahui bahwa ia sengaja mengerem agar Isyana memeluknya, "Gakpapa.. Tadi semut lewat.."
Isyana mengangguk, "Oh semut.. Hati hati Ray, Kasian kalau semut lagi nyebrang kita lindes. Pasti yang mati nggak cuma satu."
Rayhan terdiam, Sepolos itukah Isyana hingga ia percaya dengan apa yang Rayhan bicarakan?! Biarkanlah, setidaknya pelukan Isyana itu akan ia ingat sepanjang hidupnya.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai ke sekolah, saat Rayhan memasuki kelas, ia di sambut oleh teman-teman sekelasnya.
Vidi, Gamal, Dikta, Audrey dan Reza sangat bahagia saat Rayhan kembali, sekarang teman-teman mereka kembali lengkap.
Isyana sangat senang Rayhan kembali bersekolah, ia bisa melihat senyuman Rayhan lebih lama lagi, karena ia selalu tidak cukup untuk melihat senyuman itu, "Senyumanmu Candu, aku ingin melihatnya lagi dan lagi, Ray. Aku ingin buat kamu bahagia, agar senyuman itu selalu bisa ku lihat setiap saat."
Jam sudah menunjukkan pukul 7, bell masuk pun berbunyi. Para murid yang sedaritadi berkumpul sekarang kembali ke meja masing-masing. Dan tak lama kemudian pak Djoni datang untuk memberikan mata pelajaran Agama.
Sekitar setengah jam pak Djoni menjelaskan, dan sekarang pak Djoni memberikan soal untuk para murid kerjakan.
Saat Isyana sedang fokus mengerjakan soalnya, tiba-tiba mejanya bergetar dan ia mendengar nafas yang berat, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rayhan yang duduk sebangku dengannya.
Mata Isyana membulat saat melihat Rayhan yang sudah sangat berkeringat sambil memegangi dadanya,"S..Syan.."
Seketika tangisan Isyana pecah melihat kondisi Rayhan, "Tol.. TOLONGGG!!!"
Dan saat Isyana berteriak semua anak kelas menghampiri Rayhan, tangan Isyana menggengam tangan Rayhan kuat, memberi Rayhan kekuatan, karena ia bingung harus berbuat apa sekarang.
Rayhan semakin parah, kini Rayhan kejang-kejang, Isyana makin tak tau harus berbuat apa, Air matanya terus mengalir, Ia menatap tangannya yang digenggam erat oleh Rayhan walaupun keadaan Rayhan yang sedang seperti ini.
Tiba-tiba Isyana merasakan genggaman Rayhan yang hilang, Rayhan tak sadarkan diri.
Lutut Isyana terasa sangat lemas, tangannya gemetar melihat Rayhan yang tak sadarkan diri.
Vidi, Gamal, Reza dan Dikta menggontomg Rayhan untuk dibawa ke UKS.
Sedangkan Audrey memeluk Isyana yang masih menangis, "Syan.. Tenang..."
"Gu.. Gue harus ap..a Drey..." Tanya Isyana yang masih menangis.
"Hubungin pak Herman!"
Isyana mengangguk dan langsung mengeluarkan handphonenya dari kantong dan menelfon Herman.
Dan tak lama kemudian Herman mengangkat telfonnya, "Om.. Ray.. Pingsan om..."
"Baik om.. Jangan lama lama ya, aku bingung harus apa.."
"Iya om.."
Isyana mematikan handphonenya dan kembali memasukkan Handphonenya kedalam kantornya, "Ambulan akan datang 10 menit lagi."
Benar saja, 10 menit kemudian ambulance datang ke sekolah, dan membuat warga sekolah gempar dengan adanya ambulance di sekolah.
"siapa tuh yang sakit?"
"kak Rayhan ya itu?"
"Astaga!! Kak Rayhan kenapa?"
Suara-suara itu masuk kependengaran Isyana saat Rayhan dimasukan ke dalam ambulance, Isyana memeluk Herman yang sedang berdiri disampingnya, melihat Rayhan yang sedang dimasukan kedalam Ambulance.
Herman mengelus rambut Isyana ," yang sabar syan..."
Herman sebenarnya juga amat sangat sedih melihat anak sematawagangnya harus seperti ini , namun ia harus kuat untuk menguatkan Isyana dan tentunya Rayhan.
Setelah Rayhan sudah berhasil dimasukkan ke dalam ambulance Herman dan Isyana ikut masuk kedalam ambulance.
Air mata masih setia berada di pipi Isyana, ia tak kuasa melihat Rayhan yang bernafas begitu berat padahal ia sudah dibantu dengan oksigen.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai ke rumah sakit dan Rayhan langsung di bawa untuk masuk ke IGD.
Herman dan Isyana menunggu di depan pintu ruangan. Isyana terus berdoa kepada Tuhan agar Rayhan tetep baik-baik saja.
Cukup lama mereka berdua menunggu untuk dokter keluar dari IGD, "Om.. Aku takut.."
Herman mengelus pundak Isyana, "Ray kuat kok Syan, Percaya deh sama om."
Isyana mengangguk mencoba mempercayai Herman, "Iya! Rayhan pasti Bisa melalui ini semua!"
Ceklek..
Suara pintu IGD yang gerbuka dan ada seorang Dokter yang keluar dari sana, sontak Herman dan Isyana langsung menghampiri dokter itu, "Gimana keadaan Rayhan dok?"
Dokter tersenyum kecil, "Rayhan sudah sadar.."
Herman dan Isyana mengeluarkan nafas lega, "Alhamdulillah..."
Seketika senyuman dokter memudar dari bibirnya, "tapi.."
"TAPI APA DOK?!" Tanya Isyana terkejut.
"Rayhan hari ini juga harus dibawa ke German."
KAMU SEDANG MEMBACA
NEVER LET GO
Teen FictionRayhan dan Isyana yang bersahabat dari Sekolah Dasar sampai menginjak Sekolah Menengah Atas. Awalnya mereka saling menyayangi sebagai teman, Namun takdir berkata lain. Isyana selalu ada di hati Rayhan, dan begitu sebaliknya. Akankah mereka bisa sela...
