BAGIAN KE-DUA PULUH TIGA.

147 14 37
                                        

---

aku bakal jaga perasaan kamu, walau kamu nggak ada disini Ray. Aku janji.

-Isyana Sarasvati Wardhana-

---

"Kamu cantik deh."

Isyana tersenyum malu, "Masa sih?"

"Iyaa! Cantik canget. Poni kamu lucu."

Isyana tertawa mendengar pujian itu, "kayak anak anak ya?"

Seorang yang diajak Isyana berbicara mengangguk, "Iyaa. Aku gemes!"

"aku juga gemes sama kamu." Jawab Isyana sambil tersenyum kecil.

Orang itu tertawa mendengar balasan Isyana.

Namun Isyana hanya terdiam, tatapannya kosong.

"Kok diem syan?"

Isyana menggeleng pelan, "aku kangen."

"Aku juga kangen... Aku kepengen meluk kamu."

Tak terasa air mata Isyana menetes, "Aku kangen liat senyum kamu, Aku butuh kamu sekarang, Ray. Aku mau kamu ada disini."

Ya, Yang sedang Isyana ajak bicara saat ini adalah Rayhan, mereka sedang melakukan Video Call. Padahal sekarang pukul jam 4 pagi, dan di Hamburg, German pukul 11 malam. Sangat jauh perbedaan waktu mereka, sangat sulit pula untuk mereka berkomunikasi.

Sudah sekitar 3 Bulan Rayhan meninggalkan Isyana, dan sudah 3 Bulan pula mereka hanya bisa melakukan Video Call untuk saling berkeluh kesah. Ntah sampai kapan mereka akan saling menatap hanya melalui layar, yang mereka lakukan sekarang hanyalah bersabar, menunggu waktu berputar sampai waktu mengizinkan mereka bertemu.

"Hei.. Jangan nangis, make up kamu udah rapih. Nanti belepotan di hari graduation loh, mau? Inikan kenangan terakhir kamu disekolah. Harus cantik ya, Sayang."

Isyana mengangguk pelan, ka berjalan mengambil tissue yang berada lumayan jauh dari meja belajarnya, dan kembali duduk sambil mengusap air mataya berlahan.

"Kamu janji mau cepet sembuh, udah 3 bulan, Ray."

Rayhan menarik nafasnya berat dan tersenyum, "Maaf ya..."

Isyana hanya terdiam, menatap Rayhan yang terlihat semakin pucat dan semakin kurus di layar laptopnya. Tangan Isyana terangkat, untuk mengusap layar laptopnya, "Aku lagi ngelus pipi kamu, kerasa nggak?"

Rayhan mengangguk, "Kerasa." dan tersenyum setelahnya.

Mereka berdua tertawa bersama, namun sayangnya tawa mereka itu tidak bisa mereka dengar secara langsung.

Isyana menengok kearah jam dinding yang ada di kamarnya, sudah menunjukan pukul setengah 6 pagi, berarti di Hamburg sudah pukul setengah 1 pagi, "Ray.. Kamu tidur ya.. Udah larut banget."

Rayhan menggeleng, "Aku masih kangen."

Isyana tersenyum, "Kamu tidur biar cepet sembuh, terus pulang ke Indonesia, ketemu aku, biar kangennya terobati. Jadi kita ga ketemu di Video Call aja."

Rayhan menunduk lemas, ia benar-benar masih ingin melihat wajah Isyana dengan riasan make upnya yang begitu menawan.

"Ray.. Tidur ya?"

Rayhan dengan berat hati mengangguk.

"Good Night, My Love. Have nice dream. See you in your dream, babe."

NEVER LET GOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang