BAGIAN KE-DUA PULUH TUJUH.

155 12 8
                                        

---

Kita udahan aja ya?

-Rayhan Marianto-

---

"Hai... Good morning!"

Rayhan yang baru membuka matanya tersenyum melihat Isyana yang masih setia duduk di kursi disamping ranjang tidurnya.

Tangan Rayhan terangkat untuk membelai rambut indah Isyana, "Good morning, cantik."

"Gimana tidurnya? Nyanyak?"

Rayhan mengangguk, "Iya, semenjak ada kamu disini tidurku selalu nyenyak."

Isyana tertawa kecil dan mencubit pipi Rayhan gemas, "Mau makan gak aku suapin?"

Rayhan mengangguk, "Mau lah, apalagi di suapin suster cantik."

Isyana mencubit pinggang Rayhan berlahan, "Hih! Genit." dan tertawa setelahnya.

"Mulai deh.. Nyubit nyubit pinggang..."

Isyana menjulurkan lidahnya meledek, "Bodo."

Rayhan tertawa kecil, dan menggerakan tangannya untuk menyubit pipi Isyana, "Awas ya!"

Isyana tertawa sambil melepaskan tangan Rayhan dari pipinya berlahan, dan beranjak untuk mengambil sarapan Rayhan di meja yang tidak jauh dari ranjang Rayhan dan kembali untuk membantu Rayhan duduk diranjangnya, "Mari sarapan dulu yaa anak bayii."

"Iya mamaaaa"

Isyana tertawa kecil, "Katanya suster cantik, kok mama si bayi?"

"Mamaku kan suster cantik, eh bukan mama deh. Tapi calon mama anak-anak aku nanti."

Seketika wajah Isyana memerah, ia melipat bibirnya untuk menahan senyumannya.

"Kalau mau senyum, senyum aja lagiii."

Isyana menggeleng, "siapa coba yang mau senyum!"

Rayhan mengangguk pelan smabil tersenyum usil, "Yaudah iya, iya..."

"udah makan dulu ish!" Ucap Isyana sambil menyuapkan sesendok bubur kepada Rayhan.

Rayhan mengangguk dan melahap makanannya. Tak membutuhkan waktu lama makanan Rayhan telah habis dilahapnya.

"Good job anak bayik!"

Rayhan tertawa kecil sambil mengambil minumnya yang berada di meja samping ranjangnya.

"Jalan-jalan ke taman bawah yuk?"

Rayhan menghentikan aktivitas minumnya, "Boleh?"

Isyana tersenyum, "Boleh donggg!"

Rayhan tersenyum lebar, sudah lama ia tak merasakan udara diluar apalagi ia akan keluar bersama Isyana.

Rayhan berlahan menurunkan kakinya dari atas ranjangnya dibantu Isyana, "Gak usah pake kursi roda ya?"

Isyana mengangguk, "Iya.. Pegangan aku aja ya."

Rayhan mengangguk, "Tanpa kamu minta, aku pasti akan selalu megang tangan kamu Syan."

Isyana mengangguk dan menggenggam tangan Rayhan erat.

Mereka berdua pergi ke taman yang masih berada di kawasan rumah sakit, Isyana mengajak Rayhan untuk duduk di salah satu kursj yang menghadap ke arah danau kecil,udara di sekitar danau sangat sejuk dan menenangkan, itu membuat senyuman di bibir Isyana dan Rayhan.

NEVER LET GOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang