---
Dia bener bener kepengen gue pergi.
-Isyana Sarasvati Wardhana-
---
OKAY RAY KALO KAMU MAU AKU PERGI! OKAY AKU AKAN PERGI. AKU PADAHAL MAU NERIMA KAMU APA ADANYA, TAPI BEGINI SIKAP KAMU KE AKU?! OKAY! I'M DONE!"
Isyana mendorong security yang memegangi tangannya, "I can go alone!"
Security itu melepaskan tangannya dan membiarkan Isyana untuk pergi.
Isyana berlahan berjalan meninggalkan Rayhan, hati Isyana sangat hancur saat ini, ia berjalan sambil menunduk membuat setiap langkahnya meninggalkan jejak, jejak air matanya yang menetes ke lantai.
Beberapa langkah sudah Isyana lalui, Isyana terdiam, ia mengalihkan pandangannya ke belakang, ia berharap masih dapat melihat Rayhan mungkin untuk terakhir kalinya.
Namun sayangnya tidak ada Rayhan disana, Isyana tersenyum kecil, "Dia benar-benar pengen gue pergi."
Isyana mulai melanjutkan langkahnya, meninggalkan rumah sakit, dan menuju bandara.
Sekarang pukul 12 Siang waktu Hamburg, German. Isyana akan terbang kembali ke Jakarta pada pukul 8 malam, masih sangat lama waktu yang ia tempuh untuk kembali, dan waktu itu Isyana habiskan untuk menangis.
Air mata Isyana sepertinya tidak kenal henti, ia terus menetes padahal Isyana sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya, "BERHENTI DONG AIR MATA!!! BERHENTI!"
Tanpa sadar Isyana berteriak keras membuat para pengunjung bandara mengalihkan pandangannya kepada Isyana, namun nampaknya Isyana tak peduli.
Ada beberapa orang asing menghampiri Isyana untuk menanyakan keadaannya, namun Isyana berusaha mengusir orang-orang yang mendekatinya, padahal orang-orang itu bermaksud baik pada Isyana.
"gue benci lo Ray!"
"kenapa saat gue bela-belain kesini lo mau udahin semuanya?!"
"lo ga sadar ya lo udah nyia-nyiain orang yang sayang banget sama lo?!"
"lo tuh belagu banget sih!"
"gue kurang apa sih Ray?!"
Isyana melanjutkan tangisannya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"gue benci kenapa gue masih ada rasa pengen kembali saat ini! Gue mau meluk lo! Tapi lo kepengen gue pergi!"
Nafas Isyana terasa berat karena terus-terusan menangis, tubuhnyapun juga terasa sangat berat.
"HELP! HELP! HELP!"
Seketika bandara terasa ramai karena ada orang asing yang berteriak-teriak dan banyak orang yang menghampirinya, Isyana berusaha melihat ke arah sumber suara, ada seseorang laki-laki yang pingsan, Isyana tak dapat melihat wajah seseorang yang pingsan itu karena orang itu di krumuni oleh orang banyak, namun Isyana berusaha untuk mengabaikannya saja, karena sudah banyak yang menolong orang itu.
Isyana menarik nafas panjang, ia memejamkan matanya dan bersender pada kursi yang sedang ia duduki untuk menenangkan tubuh dan pikirannya.
Waktu demi waktu berlalu, sekarang sudah menunjukan pukul 8 malam, Isyana berusaha membuka matanya, sedari tadinya ia tertidur, mungkin karena ia terlalu lelah menangis.
Dengan langkah yang berat Isyana berjalan menuju pesawat, "Selamat tinggal Hamburg, Selamat Tinggal German, Selamat tinggal... Rayhan."
***
Rayhan terdiam menatap Isyana yang berjalan pergi sambil menarik kopernya, tak disadari air matanya menetes, "Maafin aku.. Aku cuma nggak mau kamu lebih sakit lagi kalau aku udah nggak ada nanti Syan. Maafin aku...."
Rayhan melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam kamarnya, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Ia memandang atap kamar rawatnya, "apa yang gue lakuin bener ya?"
Rayhan memejamkan matanya beberapa detik, dan membukanya kembali, "Apa gue terlalu jahat sama Isyan?"
"Gue bodoh gak sih nyuruh orang yang udah nerima gue apa adanya pergi?"
Rayhan menarik nafasnya kasar, "Gue gak mau dia lebih sedih lagi kalau misal umur gue ga panjang.."
Rayhan terdiam beberapa saat.
"tapi kalo gue sembuh, apa gue kuat ngeliat dia bahagia sama orang lain?"
Seketika Rayhan membolakan matanya dan menggeleng, "Gak, gue nggak sanggup!"
Rayhan langsung menduduki tubuhnya dan turun dari ranjang tempat tidurnya untuk mengganti pakaian rawatnya dengan pakaian biasa.
Ia langsung berlari meninggalkan ruang rawatnya, "Tunggu aku Syan aku mohon..."
Tak membutuhkan waktu lama, Akhirnya Rayhan telah sampai di bandara. Ia mencari jadwal pesawat di layar informasi, "Pesawat menuju Jakarta masih jam 8 malam.. Gue punya waktu banyak!"
Rayhan beralih melangkahkan kakinya untuk mencari Isyana.
"BERHENTI DONG AIR MATA!!! BERHENTI!"
Langkah Rayhan terhenti, Rayhan kenal dengan suara itu. Ia memutuskan menghampiri sumber suara itu.
Dan benar saja, Suara itu berasal dari Isyana. Rayhan akhirnya dapat menemukan Isyana.
Ia menatap Isyana dari kejauhan, ia dapat melihat Isyana yang sedang berbicara sendiri sambil terus menangis.
Rayhan sungguh menyesal, melihat Isyana menangis membuat hatinya hancur berkeping-keping, apalagi tangisan itu karenanya.
Rayhan melangkahkan kakinya berlahan menuju Isyana. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, dadanya terasa amat sangat sakit, nafas Rayhan seketika sesak, "aaah!!"
Kaki Rayhan gemetar, ia tak bisa menahan berat tubuhnya lagi, Rayhan terjatuh dengan tangannya yang terus memegangi dadanya.
"Are you okay?"
Rayhan mengalihkan pandangannya kepada seorang orang asing yang menghampirinya, Rayhan terdiam, ia tak sanggup membuka mulutnya untuk menjawab karena rasa sakit didadanya seakan membuatnya bisu.
Namun Rayhan masih dapat tersenyum karena ia masih bisa melihat Isyana dari kejauhan, Ia harap ia dapat berlari saat ini untuk memeluk Isyana dan menghapus air mata yang berada di pipinya, namun sayang, Rayhan tak dapat melakukannya.
Rasa sakit didadanya makin terasa menyakitkan, Rayhan tak dapat lagi menahan rasa sakitnya, dan seketika alam bawah sadar menariknya.
Orang asing yang menghampiri Rayhan berteriak, "HELP! HELP! HELP!"
Seketika banyak orang yang menghampiri, "Let's take him to the hospital"
Dan dengan bantuan orang-orang akhirnya Rayhan kembali ke rumah sakit dan ia harus kehilangan Isyana karena Isyana telah kembali ke Indonesia.
----
HULAAAA MAAF YA KALO PART INI KAYAK GIMANA GITU SOALNYA GAADA INSPIRASI DALAM MENULIS HUHU MAAFKAN:((
KAMU SEDANG MEMBACA
NEVER LET GO
Teen FictionRayhan dan Isyana yang bersahabat dari Sekolah Dasar sampai menginjak Sekolah Menengah Atas. Awalnya mereka saling menyayangi sebagai teman, Namun takdir berkata lain. Isyana selalu ada di hati Rayhan, dan begitu sebaliknya. Akankah mereka bisa sela...
