Halloooo!! Mula mula aku mau minta maaf karena lupa upload hahahahahahaha maaf ya! Ni lanjutnya,met baca gengs
---
Aku sangat bahagia punya kamu, tapi apakah aku berhak memilikimu?
-Rayhan Marianto-
---
"Ready?"
Isyana menatap Herman dan mengangguk.
Tangan Herman terangkat untuk membuka pintu, dan saat pintu terbuka Isyana dapat melihat laki-laki yang ia sayangi sedang menonton televisi di ranjang rumah sakit, dan itu membuat senyuman Isyana lagi-lagi mengembang, "Rayhan...."
Rayhan yang mendengar namanya dipanggil menengok ke arah sumber suara, tubuh Rayhan mematung saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Ia melihat di depan pintu kamar rawatnya seseorang yang tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca sedang menatap kedua matanya.
Isyana berlari menuju Rayhan, dan tak lama kemudian Rayhan dapat merasakan pelukan ditubuhnya. Isyana memeluknya sangat erat, Rayhan sedang berusaha mengontrol pikirannya, berusaha meyakini bahwa ini bukan mimpi.
Tangan Rayhan bergerak berlahan menyentuh punggung Isyana, dan ia dapat merasakannya, ia tidak bermimpi.
Rayhan menggerakan kedua tangannya untuk membalas pelukan Isyana, Rayhan tak dapat menahan air matanya, ia menangis di pelukan Isyana, "Syan.. I miss you, i miss you alot. Aku bahagia kamu disini."
Isyana melepaskan pelukannya, menatap kedua mata Rayhan yang basah, dan menyapu air mata Rayhan dengan ibu jarinya, "Jangan nangis.. I'm here. I'm here for you, sayang."
Rayhan mengangguk, ia meraih tangan Isyana, ia membawa tangan itu ke bibirnya dan...
Cup.
Rayhan mengecup tangan Isyana, kecupan itu sangat lama. Rayhan benar-benar merindukan Isyana.
Tangan Isyana terangkat, menyentuh pipi Rayhan yang masih mengecup sebelah tangannya, "Aku kangen banget sama kamu."
Rayhan menyudahi kecupan di tangan Isyana, dan bergerak mendekati Isyana.
Rayhan menatap kedua mata mata Isyana sangat dalam, melihat mata Indah itu membuat Rayhan tersenyum manis.
Jarak diantara mereka semakin tipis, tangan Rayhan beralih menyentuh pipi Isyana.
Cup.
Kecupan kecil dari Rayhan untuk Isyana di pipinya, seketika pipi Isyana memerah, menahan gejolak kebahagiaan yang berada di dirinya.
Rayhan tertawa melihat wajah Isyana yang memerah, dan Rayhan mencubit gemas hidung Isyana, "Cie malu ya."
"Ekhem...."
Rayhan dan Isyana kompak menengok ke sumber suara, mereka berdua membolakan matanya ketika mereka baru menyadari bahwa Herman sedaritadi memperhatikan mereka berdua. Herman menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah yang ketus sambil menatap mata Isyana dan Rayhan bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEVER LET GO
Ficção AdolescenteRayhan dan Isyana yang bersahabat dari Sekolah Dasar sampai menginjak Sekolah Menengah Atas. Awalnya mereka saling menyayangi sebagai teman, Namun takdir berkata lain. Isyana selalu ada di hati Rayhan, dan begitu sebaliknya. Akankah mereka bisa sela...
