[READY EBOOK😍]
Ini cerita ke-3 dari seri Grateful, gak tau kenapa hastag-nya #Baperinlove padahal ceritanya juga belum tentu bikin baper wkwk.
Lebih disarankan baca seri ke-1 dan ke-2 dulu ya😊 saling berkaitan ceritanya !
-Arrayan Kalandra Atmaj...
"Malah bengong! Mau nebeng gak?" Tanyanya sekali lagi.
Aku masih terpaku, tidak lama kemudian aku mengangguk dan membuka pintu mobil.
Lalu orang di sampingku menjalankan mobilnya dengan tempo cukup pelan.
"Makasih," Ucapku parau, suaraku serak belum normal karna tadi menangis cukup lama.
"Mata lo sembab gitu, abis dikencingin cicak ya?"
Udah tau kan, kalo yang suka ngomong sembarangan gini siapa orangnya?
Jelas jawabannya adalah kak Rayan!
Aku cuma diam, agak heran aja kenapa dia bisa tiba-tiba datang.
Dia menghela nafas pelan,
"Kalo mau nangis, nangis aja! Cuma gue yang ngelihat. Gak usah sok nahan gitu, jangan sok tegar jadi orang!" Celetuknya lagi sembari mempercepat laju mobilnya.
Aku masih diam, tapi air mataku kembali mengalir.
Kadang, aku memang terlalu memaksa hatiku agar terlihat selalu kuat dan tegar. Tapi ternyata itu justru menyiksa.
Aku menghapus air mataku kasar.
"Kak!" Panggilku demi memecah keheningan.
Aku tau kita saling diam cukup lama, bahkan kalo kak Rayan memang berniat mengantar aku pulang harusnya udah sampai dari setengah jam yang lalu.
"Kok kita cuma lewat jalanan ini terus? Kayaknya udah muter tiga kali, ngulang jalan yang sama.." Tanyaku heran.
Dia tertawa geli,
"Sadar juga lo ternyata, gue kira asyik nangis jadi lupa jalan pulang!" Lagi-lagi dia terkekeh.
Aku mendengus pelan,
"Kak.."
"Hemm!"
"Boleh minta tolong gak?" Tanyaku agak takut.
"Apaan?"
"Emm- tolong anterin ke rumah papa mama, kalo nggak mau biar aku ja-"
"Iya gue anterin!" Jawabnya menyela ucapanku.
Aku kembali terdiam, entah pilihan salah atau benar. Aku lagi pengen ketemu sama mama dan papa.
Ya minimal ngelihatin mereka dari jauh kaya kemarin.
"Udah sampe, ayo turun!"
"Jangan kak," Cegahku sembari menarik lengan kemejanya.
"Kenapa? Katanya mau ketemu Om Radit sama Tante Lista?"
"Emmm-- kita tunggu di luar aja," Ucapku pelan.
Pengen banget bisa masuk ke rumah itu lagi. Tapi seolah ada notice yang mengisyaratkan 'Nidya dilarang Masuk!'
Aku nggak mau menerima penolakan terus, apalagi sampai diusir kaya kemarin.
"Lo gila ya mau nunggu disini? Iya kalo nyokap bokap lo keluar, kalo nggak? Kita cuma bengong ngelihatin bangunan rumahnya doang!"
"Itu udah lebih dari cukup kok kak buat aku. Lagian kalo aku turun dan nekat nemuin mereka, justru bisa bikin papa sama mama terganggu.."
Kak Rayan kembali lagi ke posisinya,
"Beneran nunggu disini nih?" Aku mengangguk.
Kak Rayan cuma diam, lalu menunduk sambil melipat tangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.