24

372 25 2
                                        

"Habis ini ayah pergi dulu ya" kata Kyungsoo sambil memakaikan pampers Daehan.

"Hmm" Daehan mengangguk. Sementara itu Soora berbaring diatas sofa sambil menatap langit-langit apartemen. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

"Sudah selesai" ujar Kyungsoo setelah selesai memakaikan Daehan celana panjang. "Ayah pergi dulu. Kalian jangan nakal ya, nurut pada semua samchon, oke?"

"Iya" jawab keduanya pelan.

"Hati-hati ayah" lanjut Soora.

"Yeol-ah" panggil Kyungsoo sambil menghampiri Chanyeol yang sedang duduk di meja makan. "Aku pergi dulu, titip anak-anak ya. Susu Daehan ada di kulkas, kalau Soora mau susu juga beri susu cair yang ada di kulkas itu saja. Baju, pampers, dan lainnya ada di kamarku. Telpon aku kalau ada apa-apa ya"

"Iya" Chanyeol mengangguk paham.

"Perlu ditemani?" Baekhyun tiba-tiba datang ke dapur.

"Tidak usah, aku dengan Jihwan hyung kok" tolak Kyungsoo halus.

"Baiklah" Baekhyun mengangguk lalu menuangkan susu cair ke gelas.

"Terima kasih ya. Aku pergi dulu" pamitnya.

"Hati-hati di jalan" ujar Chanyeol dan Baekhyun kompak.

———

Kedua pria itu—Kyungsoo dan Jihwan—turun dari mobil. Perjalanan empat puluh menit terasa begitu panjang bagi Kyungsoo, padahal jalanan sedang tidak macet. Kyungsoo sempat terdiam sebelum melangkah masuk rumah sakit, seperti ada keraguan dalam dirinya. Jihwan lantas mengusap bahu Kyungsoo, berharap gesturnya dapat sedikit menguatkan pria yang sedang rapuh ini. Administrasi telah diselesaikan oleh Kyungsoo semalam, tetapi ia masih perlu menyelesaikan beberapa hal yang belum sempat diselesaikannya semalam. Sementara untuk jenazah Jihan sudah diurus oleh pihak rumah sakit.

"Jenazahnya sudah berada di rumah duka, ruang nomor dua. Ada di lantai satu" Jelas Shiha, yang direspon dengan anggukan oleh Kyungsoo. "Sesuai keinginanmu, jenazahnya bakal disemayamkan tiga hari di rumah duka, lalu dimakamkan di hari keempat pagi-pagi. Betul?"

"Iya" Kyungsoo mengangguk singkat.

"Oh iya, omong-omong, soal bayimu"

"Bagaimana? Dia baik-baik saja?" tanya Kyungsoo.

"Ya, sejauh ini dia baik. Tapi tadi dokter anak bilang dia dan timnya masih perlu mengobservasi anakmu selama beberapa hari lagi, jadi kamu belum bisa membawanya pulang. Tapi tenang saja, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Anakmu sehat kok" jawab Shiha.

"Ah, terima kasih banyak. Aku mau melihatnya dulu"

Mereka berdua segera menuju ruang bayi, sementara Jihwan tetap setia mengekor. Sesampainya di ruang bayi, Shiha segera mengeluarkan bayi perempuan Kyungsoo yang belum diberi nama itu dari inkubator, lalu menyerahkannya pada Kyungsoo.

"Dia kecil sekali..." gumam Kyungsoo ketika pertama kali menggendong bayinya. Telunjuknya mengusap pipi halus si bungsu yang tengah tertidur dengan tenang. "Shiha, aku titip dia ya"

"Iya, Kyungsoo. Tenang saja, dia aman disini, aku juga pasti akan sering mengecek dia. Kamu fokus dengan pemakaman dulu. Nanti kalau dia sudah boleh pulang pasti akan segera aku kabari" Shiha mengusap bahu Kyungsoo, berusaha menguatkannya.

"Terima kasih banyak, Shiha" kata Kyungsoo. "Aku akan menjemput anak-anak dulu baru kesini lagi"

"He-em, selagi kau pergi aku yang akan mengurus rumah dukanya. Jihwan-ssi, hati-hati di jalan. Aku titip Kyungsoo padamu" pesan Shiha.

Father: dksTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang