"Ke mana mas Shadu?" Tanya Sacy saat kami di parkiran.
Niatnya hari ini aku mau ajak Sacy jalan, makan siang gitu maksudnya. Tapi tadi subuh group rame, Aiden bilang kalau Kalya sudah melahirkan anak keduanya. Jadi, siang ini aku mau minta anter Sacy aja deh, jenguk Kalya.
"Temen saya ada yang lahiran, bantuin cari kado dong, mau gak?"
Sacy terlihat kaku, tapi ia mengangguk.
"Beli di mana ya?" Tanyaku.
"Mau mampir ke mall dulu, Mas?"
"Boleh deh."
"Tapi keburu gak balik ke kantornya?"
"Santai, saya udah izin Pak Musa kok, dia juga lagi rapat."
"Oke!"
Hari ini aku bawa mobilnya Kak Rasyid, jadi kami gak harus kepanasan.
"Anaknya cewek apa cowok, Mas?" Tanya Sacy saat kami sampai di toko perlengkapan bayi.
"Cowok."
"Mau kasih apa ya??" Tanyanya.
"Lhaa??"
"Temen deket bukan Mas?"
"Iya,"
"Mending nanya deh, butuhnya apa."
"Gitu ya?"
Sacy mengangguk. Aku langsung mengeluarkan ponsel, menghubungi nomor Aiden.
"Oy? Jadi ke sini gak lu?"
"Jadi Bang. Mampir dulu beli kado, mau apa dah lu? Tanya Kalya coba."
"Kita belum beli stroller sih, Put! Lo tajir kan ya?"
"Mau warna apa?"
"Yesss! Dibeliin Yaang!" Sepertinya itu Aiden bicara ke Kalya.
"Merah item aja, punya Kanaya warna pastel soalnya gak cocok kalo dipake adeknya hehehehe."
"Oke! Daaaah!" Aku menutup sambungan telefon kemudian menoleh ke samping, Sacy udah gak ada.
Aku berjalan mencarinya, dan terlihat ia sedang berada di spot baju anak cewek.
"Lucu ya!" Kataku.
"Ehh? Jadinya mau beli apa Mas?"
"Stroller katanya."
"Beneran?" Aku mengangguk.
Kami berjalan ke arah pojokan stroller, ada banyak model yang warnanya mereh.
"Temen saya request warnanya merah-item, bagus yang mana ya?"
Sacy terlihat menilai stroller yang ada di depannya, ia juga seperti memeriksa entahlah periksa apa, aku gak ngerti.
"Ada budget gak Mas?" Tanya Sacy.
"Gak ada, berapa aja sih, bebas."
Sacy mengangguk kemudian menarik satu stroller berwarna hitam, tapi tudungannya merah.
"Ini bagus Mas, ngadepnya bisa depan belakang, kalo anak bayi kan bagusnya ngadep orang tua. Ini dari ukuran sih bisa kepake sampe 1 tahun lebih, bisa ngadep depan, biar anaknya gak bosen, jadi liat-liat."
Sumpah, aku gak ngerti Sacy jelasin apa.
"Jadi ini bagus?" Tanyaku.
"Iya, tapi lumayan loh harganya." Karena Sacy bilang gitu, aku jadi mendekat, nengok price tag-nya.
Emm, iya sih lumayan.
"Yaudah lah itu aja, bisa dipake sampe setahun kan?" Tanya gue.
"Lebih sih ini, kokoh juga kok kerangkanya.".
"Yaudah bungkus deh, bentar saya panggil embaknya." Aku berbalik, mencari pelayan untuk meminta bantuan.
Stroller sudah aman di bagasi mobil, aku juga sudah beli camilan biar bisa makan di jalan, buat ganjel perut. Jadi langsung aja deh caw ke rumah sakit tempat Kalya melahirkan.
Ruang inap Kalya ramai ternyata siang ini, ada orang tua dan mertuanya, adik iparnya dan ada Rifan dan istrinya.
"Waaahhhh ciyeee Putra gak dateng sendiri!" Itu seruan yang nadanya ngeledek banget. Kampret emang si Rifan.
"Nih Bang, sesuai pesanan." Aku meletakkan stroller di pojokan.
"Sama siapa tuh?" Tanya Aiden.
"Sini Sach!" Aku memanggil Sacy, biar dia ikut kumpul juga.
Aku melihat bayi mungil dalam gendongan Kalya, bayi itu terpejam, pipinya merah, kalo diliat-liat sih mukanya mirip Kalya, idung dan dagunya sih yang keliatan banget.
"Cakep anak lo!"
"Oh ya jelas!!"
Di sampingku Sacy juga tersenyum kepada Kalya.
"Kenalin kali Put!"
"Eh iya, ini Sacy, temen kantor gue." Kataku.
"Temen apa temen nih Kak Put??" Tanya Renata.
Aku tak menjawab, begitupula Sacy.
"Mau gendong gak lu Put?" Tanya Kalya.
"Gak takut jatoh!"
"Boleh?" Kulihat Sacy bertanya malu-malu. Sementara Kalya langsung tersenyum, mengulurkan anaknya yang dibungkus selimut Abu itu.
"Put, anak gue nunjuk-nunjuk lo nih!" Aku menoleh ke belakang, anak pertama Kalya mengulurkan tangannya padaku.
Nah kalo gendong anak segede ini sih berani. Jadi, aku menerima uluran tangan Kanaya, menggendongnya di lenganku.
"Dedek aku dapet stroller, aku dapet apaan Om?" Itu bukan suara Kanaya, itu suara Kalya.
"Matre banget yaa lu sekeluarga! Itu stroller udah lapanblas juta anjirrrr!" Seruku, protes.
"Hahahahahah itungan lu!"
"Elu Kal, yang gak tau diri." Sahut Rifan.
"Ce-es gue nih!"
Aku terlalu asik dengan teman-temanku, sampai akhirnya aku menoleh ke Sacy yang masih menggendong bayi. Sumpah, ia terlihat sangat keibuan, ia terlihat teduh dan menenangkan.
Aku melirik Kalya, dan untuk pertama kalinya, aku merasa biasa saja memandang wajah yang familiar itu. Lalu, aku melirik Sacy kembali, dan entah kenapa, jantungku tiba-tiba berdetak keluar dari ritmenya.
Damn.
******
TBC
Thanks for reading Dont forget to leave a comment and vote this chapter xoxo
***
Cuss yang belum ikutan pre-order
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.