Kehenigan tampak tengah menyelimuti kediaman megah ayah, hanya tampak satu orang saja yang menjadi penghuninya yang kini tengah duduk tenang diatas pangkuan sofa dengan warna putih gading bersama sebuah laptop silver yang menyala dihadapannya. Sosok yang tak lain adalah Davin tampak begitu fokus akan apa yang tersuguh didalam layar laptopnya hingga suasana yang sepi tersebut semakin menjadi sepi kala tak ada satupun kata dan suara yang ia keluarkan.
“Ini rumah sepi amat, kemana yang lainnya?” Davin dengan matanya yang mengedar menatap keseluruh penjuru ruangan yang menyapanya dengan sepi kala ia yang baru saja keluar dari kamarnya.
Brumm… brumm…
Tak berselang lama suara deru mobil terdengar samar memasuki pekarangan rumah.
Ceklek!
Beberapa menit setelahnya disusul suara knop pintu yang diputar pun terdengar.
“Assalamu’alaikum.” Dan kini disusul suara Gaevin yang mengalunkan salam terdengar menggema keselurung ruangan.
“Baru pulang ngampus, Gaev?” sapa Davin dengan tanyanya saat mendapati sang adik yang memasuki rumah dengan ayunan langkah pelannya.
“Gak, tadi habis kerja kelompok dulu,” jawab Geavin mendudukkan tubuhnya disamping abang bungsunya.
“Vee mana, Bang?” tanya Geavin setelah kedua matanya yang mengedar mencoba mencari sosok sang keponakan namun tak juga ia dapati sosok tersebut.
“Lagi di kamar, lagi belajar mungkin.” Baru saja jawaban Davin terdengar namun sosok yang mereka bicarakan telah tampak kini tengah menuruni tangga.
“Tu anaknya,” bisik Geavin dengan ekor matanya yang menunjuk kearah sang keponakan berada.
“Titipanku ada gak, Om?” tanya Veeyan kepada om bungsunya. “Titipan?” heran Davin.
“Tadi Vee minta beliin mie ayam, he ..he …” jawab Veeyan dengan seulas cengirannya yang tampak diujungnya.
“Makasih ya, Om.” Setelah ucapannya tersebut kedua kaki Veeyan telah melangkah pergi meninggalkan kedua omnya menuju dapur dan kembali dengan mangkuk yang dibawanya.
Dengan televisi yang telah menyala menyuguhkan sebuah film action, Veeyan tampak begitu tenang menikmati mie ayamnya.
“Om udah makan?” tanya Veeyan kepada Davin yang baru saja mendudukkan tubuhnya tepat disisi kanannya.
“Udah tadi, di kantor,” jawab Davin.
“Habis makan gak boleh langsung tidur!” Dengan tangan yang langsung kembali mendudukkan tubuh Veeyan nasihat tersebut teralun dari bibir Davin.
“Udah ngantuk, Om,” jawab Veeyan memelas.
“Kalau ngantuk tidur di kamar,” ucap Davin kala mendapati Veeyan yang memilih berbaring dipangkuannya.
“Enakkan gini aja, Om.” Tanpa memperdulikan nasihat dari om sulungnya , Veeyan semakin mencari posisi nyamannya untuk berbaring dipangkuan sang om.
“Ni anak ya kalau dibilangin, suka keras kepala,” gumam Davin mendapati kekeras kepalaan Veeyan yang tak pernah berkurang, kedua tangan Veeyan kini tampak tengah melingkar erat diperut Davin mungkin dia takut jika Davin akan menendangnya dari atas sofa.
“Gak terasa kamu udah besar aja ya, urie little angel,” gumam Davin bersama tangannnya yang mengusap dengan lembut rambut arang Veeyan. Tak lama sosok Gaevin tampak keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih segar, memang beberapa menit yang lalu ia telah berpamit ingin membersihkan badannya terlebih dahulu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Father And Son(HIATUS)
Fiksi PenggemarIvander Kim dan Raeveeyan Ivander Kim sepasang anak dan ayah yang memegang erat prinsip "meskipun hanya kau didunia aku tak apa". Perginya dengan tanpa kata sang bidadarilah yang membuat mereka tak menoleh sedikitpun pada sekitar, hanya orang terdek...