Siswi baru bermata biru

930 46 0
                                    

"Sudah siap berangkat, Mas?" tanya Fahri yang telah stand by di teras rumah menunggu sang tuan muda.

"Loh kok? Om Gaevin mana?" heran Veeyan saat ia keluar dari rumah tak juga mendapati sosok si om bungsunya.

"Mas Veeyan jadinya saya antar sekalian servis mobilnya, tadi katanya Pak Gaevin gak bisa jemput gitu ada acara mendadak," jawab Fahri yang mendapat anggukan dai Veeyan.

"Oh, yaudah deh ...ayo berangkat, Om!" ajak Veeyan yang langsung melenggang memasuki mobil.

Dan mungkin membutuhkan waktu 15 menit, kahirnya mobil yang dikendarai oleh Fahri telah berbelok digerbang sekolah yang cukup dengan lalu lalang penghuni sekolah.

Dan tak jauh dari mobil mereka, lebih tepatnya diluar sebuah mobil hitam tampak ketiga sahabat Veeyan telah menunggu kedatangannya, ya ...karena semalam Veeyan telah memberi kabar akan berangkat pagi ini.

"Pagi, Om," sapa Anthony saat sosok tinggi Fahri telah berdiri dihadapannya tak lupa dengan Veeyan yang mengekor sejak tadi.

"Pagi juga anak-anak," sapa balik Fahri bersama seulas senyum lembutnya yang ia hadirkan.

"Wuih ...Om, makin hari makin ganteng aja nih," sapa Rico menatap Fahri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Padahal penampilan Fahri biasa aja kok, kemeja bitu tua berpadu dengan celana kain dan terakhir sepatu hitam mengkilatnya.

"Dandanan biasa aja padahal," jawab Fahri tersenyum.

"Kalau namanya orang ganteng mah mau pakai biasa aja, luar biasa, dan bangun tidur pun tetep ganteng aja kali, Om." Dan itu adalah sauar Johan yang menyahut.

"Tapi kan katanya status Om Fahri itu bodyguard Raevee nih ya? Tapi kok dandanannya biasa aja? Malah kayak orang kantoran gitu deh." Suara Anthony pun turut terdengar menyahut.

"Bener tu! Biasanya kan seorang bodyguard itu pakai setelan jaz hitam, kacamata hitam, terus ada kabel-kabel yang ditelinga itu tu yang apalah namanya? Tapi kok Om Fahri gak?" sahut Rico menggebu dan Fahri hanya mengembangkan senyumnya menanggapi akan rasa keingin tahuan remaja-remaja dihadapannya ini.

"Lo kira gwe ini presiden negara apa sampai harus punya bodyguard kayak gituan?!" Dan suara Veeyan menyahut dengan sengitnya.

"Dan lagi, Om Fahri itu bukan bodyguard atau pun sopir gwe! Om Fahri itu Om Gwe!" lanjut Veeyan berucap tajam dan sengit yang seketika membungkam mulut ketiga sahabatnya, namun Fahri lagi dan lagi hanya tersenyum lembut menanggapinya.

"Eh, ngambek ya? Salah kita apa coba?" gumam Rico dengan wajah bingungnya.

"Lagi pms kali tu bocah," sahut Johan. "Kita masuk dulu ya, Om! Bisa brabe kalau tu bocah sampai beneran ngambek," pamit Anthony yang langsung melangkah pergi diikuti oleh Rico dan Johan stelah mendapat anggukan dari Fahri.

-------------------

"Raevee!" panggil Johan keras saat mendapati sosok sahabat termuda mereka yang berlalu dengan ayunan langkah cepatnya tanpa peduli akan mereka yang mengejar.

"Ei ...jangan marah gitu dong!" Satu buah tepukan Anthony daratkan dibahu Veeyan yang seketika menghentikan langkahnya.

"Jangan suka marah gitu ih, nanti makin imut lo," bujuk Rico yang jujur aja bujukannya tidak sesuai sikon banget.

"Akh! Apa salahku Jo? Kok disikut gitu sih?" protes Rico sesudah mendapatkan satu sikutan mantab dari Johan yang tepat mengenai tulang rusuknya yang kini jujur udah nyut-nyutan.

"Bujukan loe kagak pada sikon tau gak?!" jawab Johan.

"Udah dong, jangan ngambek gitu lah ..." Kini berganti Anthony yang mencoba membujuk Veeyan dengan lembut.

"Gue tu gak suka kalau ada yang bilangin orang yang udah gue anggap keluarga dianggap keluarga orang lain lebih-lebih pekerja yang perintahnya dibawah kelurga gue!" Akhirnya mulut cemberut Veeyan terbuka juga, tapi sekali terbuka langsung nyerang tiga sahabatnya dengab omelan maut.

"Kita minta maaf, oke?" pinta Anthony.

"Kali ini ague maafin! Sekali lagi kalian kayak gitu-," ucap Veeyan menggantung.

"Nih! Alas sepatu bakalan pindah tempat bukan lagi ditanah tapi bakalan napak diwajah kalian!" ucap Veeyan dengan sadisnya.

"Sadis amat, Dek? Abang jadi ngeri tau gak?" jawab Johan menatap ngeri Veeyan.

"Oh Raev, kemarin lusa ada anak baru lo! Cantik banget matanya bule kayak kamu," lanjut Johan yang rupanya sudah melupakan kengeriannya terhadap si bungsu diantara mereka.

"Terus kenapa ngomong keaku coba?" tanya Veeyan dengan

"Ya siapa tau mau cari yeojachingu," jawab Rico.

"Hey ...kalau Raevee itu ceweknya adek-adek kelas satu kalau gak gitu adek-adek Smp, kan dia paling muda diantara kita semua," sahut Johan.

"Ya deh terus bully, mentang-mentang aku paling muda! Sialan banget deh kalian!" sewot Veeyan karena kelakuan teman-temannya.

"Eh, tu Veeyan udah berangkat lagi!"

"Si magnae udah berangkat lagi!"

"Ya, berarti dia udah bener-bener sembuh."

"Ya, syukur deh kalau gitu."

Bisik-bisik itu seketika memenuhi kelas saat Veeyan dan ketiga sahabatnya telah memasuki kelas.

"Veeyan!!!" Teriakan beberapa murid perempuan yang begitu mengidolakan wajah imut-imut menggemaskan Veeyan terdengar. Sedangkan dari bangku deretan paling kanan barisan nomer dua dari depan, sesosok gadis cantik khas wajah campuran bulenya dengan mata biru tampak menatap Veeyan dengan lekat

"Oh jadi itu yang namanya Veeyan, benar-benar imut," batin sosok gadis tersebut tetap menatap lekat Veeyan yang juju raja udah risih.

"Jo, itu siapa sih, kok melototin aku mulu sih? Kan ngeri," bisik Veeyan pada Johan saat lama-lama ia merasa takut akan sosok gadis cantik tersebut yang jujur saja tak terasa asing diotaknya meski baru pertama kali ini ia bertemu.

"Oh, dia yang tadi aku bilangin anak baru, cantikkan?" jawab Johan dengan seulas kerlingan jahilnya meski tak ditanggapi Veeyan yang hanya diam tengah mengembarakan angannya entah kemana.

"Aku seperti pernah melihat wajah ini, tapi dimana ya?" batin Veeyan bertanya-tanya.

"Dia merhatiin kamu terus lo Raev, dia suka sama kamu kali Raev!" Bisikkan dari Rico berhasil membuyarkan lamunan Veeyan.

"Ngaco!" jawab Veeyan singkat.


Tbc

borongan ya kalau up, soalnya lama gak up jadi kangen dedek Veeyan hehehe

Father And Son(HIATUS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang