16 - Bangkai-Bangkai Air Mata

94 17 0
                                        

Turun dari angkot Bria masih tersenyum-senyum sendiri. Ia bernyanyi-nyanyi kecil, mendendangkan lirik lagu kesayangannya.

Life goes by so fast
You only want to do what you think is right.
Close your eyes and then it's past;
Story of my life

Gadis itu berbunga-bunga hatinya setiap kali teringat pertemuannya dengan kakak lelaki Ayunda. Lelaki dengan senyuman ramah itu tadi sempat menawarkan diri mengantarkan Bria pulang, karena arah menuju kampusnya melewati daerah rumah Bria, tapi Ayunda keburu merengut dan sang mama juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan rentetan kalimat yang amat sangat panjang. Intinya, mereka mau Bria lebih lama berada di rumah dan ia sendiri pun sama sekali tak keberatan mengingat sudah sangat lama dirinya tak merasakan kehangatan keluarga seperti yang terpancar dalam keluarga Ayunda, membuatnya betah berlama-lama.

Orangtua Ayunda juga tak tampak terganggu dengan penampilan Bria yang agak urakan dengan celana jeans belel yang koyak-koyak di bagian paha, kaus hitam bergambar siluet kepala ber-mohawk, jaket jeans penuh emblim, sampai sepatu doc mart delapan lubang yang membuat penampilan Bria sedikit sangar.

"Om dulu juga punya tato seperti kamu, loh, B. Eh, boleh kan Om ikutan panggil kamu B? Biar kita lebih akrab."

Bria merasa tersanjung dengan permintaan itu. Lebih senang lagi hatinya waktu si Om menunjukkan sepulas warna merah yang masih membayang di lengan kiri lelaki paruh baya yang berbadan tegap dengan senyuman ramah yang mengingatkan Bria pada senyuman Nang.

"Di sini tadinya ada tato mawar, B. Sengaja Om bikin tato itu buat menarik hati si Tante karena Om pikir dia suka sama mawar, karena di rumah orangtuanya hampir semua jenis mawar ada. Eh, malah Om hampir diputusin dia."

"Ya iyalah, Pap. Aku bukannya nggak suka lelaki bertato, tapi kamu tuh, sok tahu. Aku sukanya, kan, sama bunga lily bukannya mawar. Lagian harusnya si Om tanya-tanya dulu kan ya, Nak Bria? Ini malah main bikin saja. Jadilah, Tante suruh hapus tato mawarnya itu. Sudah tatonya si Om itu besar, penuh selengan atas gitu, lo. Berwarna pula. Tante ndak sukalah. Kalau macam tatomu itu, kan, bagus. Ndak berlebihan. Eh iya, Tante mau nanya dari tadi, kok, lupa. Itu waktu kamu tindik alis kirimu itu sakit ndak ya, Nak Bria? Kalau hidung sama telinga ditindik, kan, sudah biasa ya. Si Nang pas zaman SMA juga pernah lo, ditindik telinganya. Ikut-ikutan teman katanya. Tapi terus ketahuan guru dan Tante jadi dipanggil guru BP ke sekolah."

Mendengar sekelumit info dari si Tante, Bria ingin sekali lelaki tampan berambut indah itu ada di sini. Jadi, ia bisa mencuri-curi lihat bekas tindikan di telinga lelaki itu untuk memuaskan rasa penasarannya. Sayangnya, kakak lelaki Ayunda tersebut sudah pergi sejak siang dan tadi pun mereka hanya punya sedikit kesempatan untuk berdua.

"Saya pulangnya jauh malam, pasti kamu sudah pulang saat itu. Semoga kita nanti bisa bertemu lagi, ya."

Sambil memasuki gang kecil menuju rumahnya, Bria masih terus tersipu-sipu saat teringat suara lembut Nang saat berbicara dengannya tadi. Ya, sepertinya bukan kebawelan sang mama yang menurun pada diri lelaki itu, melainkan kelembutan suaranya membuat Bria ingin Nang terus berbicara. Namun, Ayunda yang kembali dari dapur setelah membantu sang mama mengambilkan kue-kue dan buah-buahan untuk dirinya, langsung saja memasang tampang jutek melihat Mas-nya duduk sangat dekat dan berbicara dengan suara rendah kepada Bria. Gadis berkulit putih itu menarik lengan Nang agar tak duduk dekat-dekat dengan Bria dan mengingatkan bahwa Mas-nya itu harus segera berangkat ke kampus. Jadilah perbincangan mereka berakhir sampai di situ. Ah, tidak. Tak ada perbincangan. Hanya Nang seorang yang berbicara sedang dirinya sibuk menata debar-debar yang berlalu-lalang dalam hati.

"Aku nggak peduli kamu sakit atau sekarat! Harusnya kamu, kan, lembur? Kok, malah enak-enakan izin pulang. Hilang sudah uang lemburanmu. Dasar, Goblok!"

Bria terpaku di depan pintu rumah. Tetangga kanan-kiri hanya meliriknya sekejap sebelum mereka mulai menutup pintu-pintu dan menarik tirai jendela yang sebelumnya terbuka. Selain sepertinya tak ingin ikut campur--karena Bria pernah beberapa kali melihat para tetangga yang berusaha menolong ibu malah kena damprat--mereka mungkin sudah bosan dengan seringnya pertengkaran yang terjadi dalam keluarganya. Sama halnya dengan Bria yang telah terlalu jenuh dengan kelakuan sang ayah. Dan kejenuhan itu sudah lama berubah menjadi kepundan yang mendidihkan isi kepalanya di tiap-tiap kejadian serupa yang berulang datang, seperti saat ini. Dengan penuh kemarahan Bria menerobos pintu dan mencari dari arah mana tangisan ibunya berasal. Begitu memasuki ruang makan, gadis bertubuh tinggi langsing itu mendapati sang ayah sedang membentur-benturkan kepala ibunya ke tembok samping kamar. Bria berteriak penuh kemarahan. Dengan langkah-langkah panjang ia mendatangi sang ayah, mengaitkan lengannya ke leher lelaki tersebut, menarik tubuh tinggi besar itu menjauh dari ibunya.

"Lelaki bajingaaannn!"

Sebuah tinju dilayangkan Bria ke puncak hidung ayahnya. Saat lelaki itu terhuyung ke belakang, Bria menarik kerah baju lelaki di hadapannya lantas mengangkat lutut kanannya, menghajar selangkangan si lelaki yang langsung terjerembap, meringis mendekap kemaluannya, tapi masih mampu berteriak ke arah Bria.

"Jangan ikut campur kamu, Anak Setan!"

Satu tendangan datang menghajar mulut sang ayah.

"Laki-laki macam apa, kamu? Dia itu istrimu! Ibukuuuu ...!"

Satu tendangan kembali datang, susul-menyusul dengan tendangan-tendangan lain yang menghajar sekujur tubuh sang ayah yang tak punya kesempatan untuk sekadar bangkit ataupun membalas serangan Bria. Hanya mulutnya saja yang tak henti mengutuk gadis muda di depannya yang merupakan anak kandungnya sendiri.

"Kamu itu, tuh, pasti sudah kerasukan jin! Kalau kamu waras pasti kelakuanmu nggak akan seperti ini! Dasar, Setan alas! Anak jin jadi-jadian kamu!"

Sang ayah masih sanggup bicara dengan napas megap-megap dan suara terengah-engah. Bria meraih sebuah kursi kayu, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

"Mati saja, kamu! Matiiii!"

Dengan kemarahan yang telah mencapai puncak Bria menghantam tubuh sang ayah dengan kursi tersebut. Darah tersembur dari mulut si lelaki sebelum dirinya jatuh pingsan begitu hantaman tadi dengan telak mengenai sasaran. Bria mendengar pekik tertahan di belakangnya. Saat ia menoleh, gadis itu mendapati sang ibu, dengan darah menetes dari luka di dahinya, menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil melihat ke arah dirinya dengan tatapan penuh ketakutan. Bria pun melembutkan tatapannya lalu selangkah demi selangkah mendekati ibunya yang berdiri kaku di depan pintu kamar.

"Bu ...." Bria mengulurkan tangan sambil menarik sudut-sudut bibirnya membentuk senyuman terbaik yang ia bisa.

"Semua sudah selesai, Bu. Lelaki itu nggak akan berani lagi jahatin Ibu."

Bria semakin mendekat. Namun, dilihatnya sang ibu masih surut ke belakang sambil menatapnya dengan pandangan mata penuh rasa takut setelah melihat apa yang telah dilakukan Bria pada ayahnya sendiri.

"Bu ...?"

Sang ibu menggeleng-geleng. Kaki-kakinya bergerak menjauh. Kedua tangannya masih menangkup di depan mulut.

"Nggak apa-apa, Bu. Jangan takut. Dia nggak akan ganggu Ibu lagi."

Bria melihat langkah ibunya terhenti. Perlahan-lahan perempuan berbadan kerontang itu menurunkan kedua tangannya. Bibir pucat dan kering sang ibu tampak membuka dengan susah payah. Bria tak sabar ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh perempuan yang sangat dicintainya itu.

"Kkk-kamuu ... bbuukkann ...a-anakkuu."

Bria tersengat.

"Kkamuu bukaan anakku."

Tubuh Bria mengejang.

"Kamu bukan anakkuuuu ...! Kamu iblis. Jin. Setan. Benar seperti apa kata Bapakmuu!"

Pintu kamar membuka sesaat sebelum dibanting sang ibu dengan suara yang mengetarkan pigura-pigura yang terpasang di tembok. Namun, kata-kata sang ibu tadi yang tak lagi menganggapnya anaklah yang meruntuhkan hati Bria. Lututnya mendadak lemas. Bria tersungkur ke lantai dengan perasaan hancur. Ditekankannya kedua mata dengan jari-jemari menahan agar tak ada yang terjun dari sana. Namun, percuma saja. Di luar kuasanya air mata telah luruh satu persatu membasahi wajah Bria. Gadis itu pun duduk meringkuk memeluk lutut, menghanyutkan bangkai-bangkai air mata itu ke pangkuannya.®

DISTORSICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang