[LENGKAP]
Awalnya setiap perhatian juga sentuhan yang Kakaknya berikan terhadap Ilana hanya dianggap hal yang lumrah oleh gadis itu. Sama halnya perlakuan Kakak pada seorang adik seperti kebanyakan, namun lambat laun pemikirannya yang semakin dewas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
※ Sean POV ※
"...dialagijanjandikantin."
"Sama siapa?"
"SamaYeslin, samaJovaㅡ"
"ㅡe eh ada Tegar juga! Barugabung!"
Aku menggertakkan gigiku kuat-kuat. Siapa sihTegar ini? "Kasih tau saya siapa Tegar!"
"Tegaranakpindahandari Semarang, Om eh Kak! Maaf..."
"..."
"Kakmaafinsaya, Kak!"
"Udah berapa lama dia jadi siswa disana?"
"Sebulananlah."
"Saya mau kamu awasin mereka terus!"
"Siap!"
"Nanti ketemuan di tempat biasa!"
"Ya, Kak!"
Setelah mendengar responnya, kuputus sambungan telepon secara sepihak. Aku meloloskan nafas kasar. Perlukah aku turun tangan sendiri untuk memperingati bocah ingusan macam Tegar?
✘ ✘ ✘
※ Lana POV ※
Ketika tengah menikmati sekotak susu uht rasa stroberi, Tegar datang bergabung. Di meja ada aku juga kedua temanku, Yeslin juga Jova. Mereka sudah kukenal baik sejak SMP. Hanya dengan mereka saja aku boleh berteman, kata Kak Sean.
"Boleh kan gue gabung? Mejanya penuh semua!", kata Tegar mulai memakan jajanannya.
"Santai sih, Gar! Duduk aja! Lo mah kek meja punya gue sendiri aja!", sahut Jova yang daritadi sibuk mengaduk cimol agar tercampur dengan bumbunya.
"Hehehe..."
"Tumben biasanya ngintil mulu sama Temmy?", tanya Yeslin setelah meminum milodinginnya.