Setelah lelah bermain air, Eza dan Ayesha mengistirahatkan diri mereka sejenak membeli makan dan minuman disekitar pantai. Namun, sebelum itu, mereka tentu sudah berganti pakaian. Karena pakaian mereka basah kuyup. Terlebih Ayesha, gadis itu tentu tak ingin memakai pakaian yang basah, yang membuat pakaian dalamnya terlihat. Apalagi dia sedang bersama laki-laki cabul macam Eza.
Mengingat tadi Eza dengan cabulnya menikmati pemandangan pakaian dalamnya. Tentu Ayesha langsung menghujani Eza dengan pukulan yang bertubi-tubi. Malu dan marah menjadi satu. Emang Eza tuh orangnya suka cari gara-gara sama Ayesha!
"Kenapa ga dimakan?" Tanya Eza saat Ayesha tidak memakan makanan yang dia pesan, malah sibuk memainkan ponselnya.
"Gue alergi udang."
Eza hanya ber'o'h ria. Dia baru tau jika Ayesha alergi udang sama seperti Arkan.
"Yaudah makan yang ini aja." Eza menyodorkan nanas yang sudah di potong kecil-kecil.
"Gue juga alergi sama nanas."
Eza menghela nafasnya kasar. Kenapa semua makanan yang dia beli, tidak bisa dimakan oleh Ayesha. Andai saja tadi saat Eza menawarkan menu untuk Ayesha, gadis itu tidak menjawab terserah, pasti Ayesha bisa menyantap makanan yang dia inginkan.
"Selain itu, kamu alergi apa lagi?"
"Alergi kemiskinan." Ucap Ayesha asal, namun memang benar adanya.
Eza langsung tersedak mendengar hal itu. Alergi kemiskinan? Memangnya ada? Bertahun-tahun dia mejadi dokter tidak pernah berhadapan dengan penyakit seperti itu.
"Kamu bercanda?"
"Serius lah! Dari kecil gue selalu hidup berkecukupan, apapun yang gue mau selalu bisa gue dapetin. Makanya Mas Arkan ga pernah ijinin gue jalanin hubungan sama orang yang ga setara sama keluarga gue. Ya memang terdengar matre sih, cuma Mas Arkan ga mau aja gue hidup susah."
Ucap Ayesha panjang lebar, membuat Eza hanya mengangguk-angguk. Jika dilihat memang benar adanya. Ayesha memang gadis yang mandiri, tapi terlihat bahwa gadis itu tak pernah hidup tanpa kemewahan.
Eza juga menyutujui argumen dari Arkan. Seorang kakak pasti ingin adiknya memiliki kehidupan yang layak setelah menikah nanti. Sebagai seorang laki-laki memang sepatutnya memberikan kehidupan yang layak untuk pasangannya nanti. Eza juga adalah seorang kakak yang memiliki adik perempuan. Dia pastinya juga menginginkan adiknya hidup dengan layak.
"Berarti saya termasuk dong? Kan saya kaya."
Ucapan Eza membuat Ayesha melongo. Kok bisa ada orang seperti ini. Tapi emang bener sih Eza kaya.
"Udah ah, gue mau pesen makanan dulu."
Ayesha pergi tanpa menjawab perkataan Eza. Tidak tidak mau menanggapi ucapan Eza, karena kalau di tanggapi, laki-laki itu akan semakin menjadi!
Langkah Ayesha terhenti saat matanya menangkap seseorang yang selama ini dia hindari. Matanya memanas, tangannya mengepal kuat. Ayesha tidak mau bertemu lagi dengan orang itu!
Saat kakinya ingin melangkah pergi, mata seseorang itu menangkap basah dirinya. Ayesha mematung, jika seperti ini dia tak lagi bisa kabur. Orang itu akan menertawakannya jika dia kabur.
Ayesha hanya berharap satu hal, jangan sampai orang itu menghampirinya. Namun, harapannya harus sirna. Orang tersebut malah berjalan menghampirinya.
Nafas Ayesha tercekat kala jarak diantara mereka semakin dekat. Ayesha berusaha mengatur nafasnya setenang mungkin.
"Hay, Sha, lama ya kita ga ketemu."
Ayesha membenci senyuman itu, senyuman yang pernah menghianatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dominant Girl
RomansaSequel My Crazy CEO Niat hanya ingin menjauhkan Eza dari gebetan kakaknya, malah membuat Ayesha pusing setengah mati! Eza, laki-laki yang dulu menghindarinya tiba-tiba datang dan menyatakan cinta pada Ayesha. Gila! ini gila! Warning 17+
