Ayesha mengeliat pelan, masih belum membuka matanya. Rasanya masih berat melepaskan kenyamanan ini. Ayesha tersenyum saat merasakan lengan kekar memeluk tubuh setengah polosnya. Ya masih setengah polos, belum polos. Kalau bukan karena Eza menghentikan aktivitas mereka tadi, sudah bisa dipastikan keadaannya akan berbeda.
Ayesha merasa senang saat mengingat perkataan laki-laki itu. Di tengah nafsu yang melanda mereka, Eza masih sempat-sempatnya memikirkan dirinya. Udah ya, sampe disini aja. Aku gamau merusak kamu terlalu jauh.
Ayesha pikir Eza akan menghabisinya detik itu juga, ternyata laki-laki itu ingin menjaganya tetap utuh sampai mereka menikah. Meskipun harus mengorbankan gairah yang melanda mereka.
Ayesha membalikkan tubuhnya, mengamati wajah Eza yang masih tertidur pulas. Ayesha mengarahkan jemarinya untuk mengusap wajah laki-laki itu. Ayesha sangat berterimakasih karena Eza masih mau memberikan kesempatan untuknya.
Ayesha mengecup dahi Eza sebelum mendudukan dirinya. Mengamati penampilannya sekarang, jujur membuatnya meresa malu, karena dia hanya menggunakan pakaian dalam. Ayesha mengambil kaos Eza yang tergeletak lantai dan memkainya. Karena dia tak tau dimana pakaiannya saat ini. Entah Eza membuang kemana pakaiannya tadi.
Setelah kaos Eza melekat sempurna ditubuh Ayesha, dia berniat menuruni ranjang. Namun, alangkah terkejutnya saat sepasang tangan menariknya kebelakang dan menedekapnya erat.
"Morning, Sayang." Ucap Eza serak, ciri khas suara orang bangun tidur.
Eza semakin mempererat pelukannya. Eza juga menelusupkan hidupnya di cekuk leher Ayesha. Membuat Ayesha kegelian sekaligus merinding.
"Morning dari mana! Masih malem ini!"
Eza membuka matanya, menoleh kesisi jendela yang terlihat gelap. Ternyata benar ini masih malam. Bersama dengan Ayesha membuatnya tak ingat dengan waktu.
Ayesha melepaskan pelukan Eza, dan kembali mendudukan dirinya. Namun, tangannya masih di genggam oleh Eza.
"Kok kamu pakek baju aku?"
"Baju aku ilang!"
Eza terkekeh mendengar jawaban dari Ayesha. Eza menyadari dialah yang membuang baju gadis itu entah kemana.
"Ga masalah, aku suka kamu pakek itu. Tapi aku lebih suka kamu ga pakek apa-apa sih."
Ayesha memukul lengan Eza, melotot tajam kearah laki-laki itu. Dokter yang satu ini kalau ngomong bisa di filter ga sih?!
"Sembarangan aja!"
Eza terkekeh, kemudian menarik ke kembali Ayesha agar jatuh kepelukannya. Eza rasanya tak ingin melepaskan gadis ini.
Ayesha kali ini tak memberontak, membiarkan Eza tenggelam dalam kenyamanannya. Tapi Ayesha merasa meremang saat ada sentuhan di sekitar pahanya. Ayesha mendengus kasar. Laki-laki ini berulah lagi.
"Itu tangannya minta di potong apa gimana sih?!" Ayesha menampik keras tangan Eza yang ada dipahanya.
Eza menyengir saat tertangkap basah menggerayangi paha gadis itu.
"Kok galak lagi sih?"
"Kenapa, ga suka?"
"Suka kok! Suka banget malah!"
Ayesha mencoba melepaskan pelukan Eza. Kalau dibiarkan begini terus yang ada mereka kebablasan beberan lagi.
Setelah bermain tarik-tarikan dengan Eza, akhirnya Ayesha bisa melepaskan diri juga. Bahkan Ayesha kini berhasil menuruni ranjang.
"Kamu mau kemana sih?!" Eza mengerucutkan bibirnya. Ini sudah malam, tapi Ayesha malah meninggalkannya.
"Masak, dari tadi siang kan kita belum makan. Aku laper tau!"
"Aku aja yang masak!" Eza melotot, dia langsung bangun dari tidurnya. Ayesha masak? Tidak boleh!
"Masak mie instan ga bikin kamu meninggal kan?" Jelas sekali nada sindiran yang Ayesha lontarkan.
Eza tersenyum canggung, dia merasa tak enak hati. Bukannya dia tak menghargai Ayesha memasak, hanya saja Eza agak waspada.
Tapi bukankah Ayesha berkata hanya akan masak mie instan? Itu berarti masakan itu tidak akan kacau. Masak iya tinggal masukin bumbu aja masih tetep ga enak aja.
"Yaudah kamu masak sana. Aku mau mandi dulu."
Ayesha mengangguk semangat. Dan segera berlari meninggalkan dapur. Setelah itu Eza mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
***
Setelah menyelesaikan rutinitas mandinya, Eza segera menghampiri Ayesha yang ada di meja makan. Eza tak sabar ingin menikmati makan malam bersama Ayesha. Meskipun itu hanyalah mie instan.
Ayesha masih menggunakan kaos Eza yang terlihat kebesaran di tubuh Ayesha. Bahkan kaosnya hampir menutupi lutut gadis itu. Melihat pemandangan seperti ini, membuat Eza ingin menerkam kembali gadis itu. Tapi Eza menahannya, karena Eza tak ingin melewatkan makan malam yang sesungguhnya.
Eza menarik satu kursi tepat di sebelah Ayesha, kemudian mendudukinya.
"Makan mie doang gapapa kan? Aku mager banget soalnya mau keluar."
"Gapapa Ay, yang penting kita bisa makan bareng."
Ayesha tersipu mendengar penuturan Eza. Hal sesederhana ini bisa membuat pipi Ayesha bersemu merah. Beda banget sama dulu, boro-boro tersipu, yang ada Eza langsung di tebas ngomong kayak gitu.
"Udah ah, cepetan di makan."
Eza menyuapkan mie ke mulutnya. Alangkah terkejutnya dengan makanan yang dia rasakan. Hellow! Ini hanya mie instan, kenapa rasanya seburuk?! Eza mengunyah pelan membuat rasa hambar semakin dia rasakan.
Eza tetap melanjutkan makannya. Menahan rasa hambar mie instan tersebut. Tak apa lah, setidaknya mie ini tidak lebih buruk dari pancake buatan Ayesha.
"Za.."
Eza menghentikan makannya. Menoleh kearah Ayesha yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Ay, kamu kenapa?!" Eza membelai halus rambut Ayesha.
"Kenapa ga bilang sih kalau rasanya ga enak? Bobrok banget ya aku jadi cewek, masak mie instan aja ga enak."
Eza menghela nafasnya. Iya sih memang parah. Tapi tidak apa-apa, Eza menyukai Ayesha apa adanya. Terlepas dia bisa memasak atau tidak.
"Emang kenapa kalau kamu ga bisa masak? Kan aku bisa masak."
"Kan masak tugas nya cewek!"
"Kata siapa masak cuma untuk cewek? Buktinya banyak tuh chef cowok." Eza menangkup pipi Ayesha, membawanya kehadapannya. "Ayesha! Dengerin aku baik-baik! Aku tuh cari calon istri bukan pembantu, kalau yang aku butuhin cuma orang yang bisa masak, ya gampang aja. Aku tinggal nikahin juru masak! Tapi disini yang aku butuhin kamu, Ay. Bukan orang lain! Terlepas dari kekurangan atau kelebihan kamu."
Ayesha tersenyum haru, dia merasa sangat bahagia. Ayesha merasa beruntung karena bisa dicintai oleh laki-laki seperti Eza.
Tiba-tiba Ayesha teringat satu hal. Jika hubungannya dengan Eza membaik, apa itu artinya Eza akan benar-benar meninggalkan Zetta? Jika iya, haruskan Ayesha bangga karena dia telah menggagalkan pernikahan orang lain?
"Za, soal kamu sama Zetta. Kamu batalin rencana pernikahan kalian."
Eza tersenyum manis, Eza lupa bahwa dia belum memberitahukan hal ini kepada Ayesha.
"Sebenernya, aku masih belum menerima permintaannya Zetta. Karena jujur, untuk menikah selain dengan kamu, itu sulit."
Ayesha menggembangkan senyumnya. Kalau kayak gini Ayesha bukan pelakor dong ya!
Ayesha bangkit dari duduknya, dan duduk dipangkuan Eza. Ayesha berulang kali mengecup wajah Eza, membuat laki-laki itu kegelian sekaligus bahagia.
You are mine!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dominant Girl
RomanceSequel My Crazy CEO Niat hanya ingin menjauhkan Eza dari gebetan kakaknya, malah membuat Ayesha pusing setengah mati! Eza, laki-laki yang dulu menghindarinya tiba-tiba datang dan menyatakan cinta pada Ayesha. Gila! ini gila! Warning 17+
