Duapuluh Empat

3.6K 436 11
                                        







Jennie memasukkan beberapa sendok gula ke dalam gelas, lalu menuangkan air panas hingga air di dalamnya berubah menjadi hitam.

   Dengan langkah ragu, Jennie membawanya menuju ruang tamu, dimana ada mantan suaminya dan David.

   Taeyong menatap ke arah Jennie dan tersenyum tipis, namun senyum itu berubah menjadi senyum kecut saat dirinya tidak mendapati senyum manis Jennie.

   "Terima kasih."

   Taeyong menyeruput kopi buatan Jennie, kopi yang dulu sering ia minum saat lelah bekerja.

   Jennie duduk sembari menyilang kaki, bersidekap dan menatap Taeyong tajam. Ia hanya perlu menunjukkan bahwa ia lah yang berkuasa saat ini.

   "Sebaiknya kau segera pulang."

   Taeyong membeku, suara Jennie benar-benar berbeda saat ini. Terasa sangat dingin dan tajam seolah ada ancaman yang tersirat di dalamnya.

   "Bisakah aku bermain sebentar dengan putraku? Aku-"

   "Dia bukan putramu."

   Taeyong membelalak, Jennie benar-benar tidak ia kenal sekarang, seperti dirasuki iblis yang membuatnya memiliki aura gelap.

   "Dave, ke kamar sekarang ya?"

   Suara Jennie melembut seketika, senyuman itu terpantri saat melihat David mengangguk patuh dan meninggalkan keduanya.

   "Apa maksudmu?"

   Senyum manis itu menghilang, berubah menjadi wajah dingin dengan tatapan menusuk yang sangat Taeyong benci.

   "Sejak kapan kau mengakui David sebagai anakmu? Kau bahkan dengan santainya berselingkuh dengan wanita jalang itu."

   Lagi-lagi Taeyong bungkam, tertohok dengan ucapan Jennie yang tidak salah sama sekali. Sekarang ia bisa merasakan karma.

   Jennie mendengus sinis, "Kau pikir semudah itu untuk bernegoisasi denganku? Jangan samakan aku dengan wanita murahan itu!"

   Dilihatnya Jennie berjalan ke arah pintu, lalu membukanya lebar-lebar. "Silahkan keluar dari sini."

   Taeyong menghela nafas, kemudian beranjak dan berjalan keluar rumah mewah itu, sebelum pintu utama berdebam kencang.























"Ada apa ingin menemuiku?"

   Atmosfer diantara kedua wanita itu benar-benar berbeda. Keduanya saling melempar tatapan tajam.

   "Kau... Yang melakukannya kan?"

   Seulgi menunjuk Jisoo, membuat Jisoo terkekeh pelan dan menyesap cappuccino pesanannya. "Kurasa kau sudah tahu jawabannya." jawab Jisoo santai.

   "Kau mengkhianatiku?!" pekikkan emosi Seulgi cukup teredam oleh ramainya keadaan cafe, hanya beberapa pasang mata yang menoleh ke arahnya akibat risih.

   "Sayangnya aku tidak mau berada di kubu mu lebih lama."

   Seulgi mengepalkan tangannya erat, menahan emosi yang siap membuncah. "Apa maksudmu?"

   "Kau pikir aku tidak tahu niat busuk mu?"

   Seulgi mematung, membiarkan senyum miring milik Jisoo menghiasi wajahnya. "Lupakan saja, apa salahnya menerima Jimin?"

   "Apa urusanmu?"

   Jisoo menghela nafas, susah memang jika bersinggungan dengan seorang Kang Seulgi. Ia jadi menyesal telah membiarkan wanita dihadapannya ini semakin menjadi-jadi.

One Night Stand ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang