PART 11

36 6 4
                                    

Terkadang Allah membiarkan kamu untuk merasakan kepahitan dunia ini supaya kamu dapat sepenuhnya menghargai manisnya iman. (Omar Suleiman)

***

Yasha menyingkap gorden di kamar rawatnya. Pagi ini ia merasa lebih baik. Selang infus di tangannya sudah dilepas. Dan kabar baiknya dokter sudah memperbolehkannya pulang hari ini.

Seminggu menginap di rumah sakit seakan membuat dirinya semakin terpenjara dalam sepi. Kekosongan semakin menyelimuti relung jiwanya, pancaran cahaya hatinya pun perlahan-lahan kian meredup andai sedikit saja ia tak bisa mempertahankan setitik cahaya guna menemani pencarian cahaya lainnya yang menghilang meninggalkan gelap.

Selama di rumah sakit, kedua orang tuanya sama sekali tak menengok, hanya saja mamanya seringkali menanyakan kondisi Yasha pada Reza, sedang papanya masih tetap dengan perlakuan yang sama, 'Tidak Peduli'.

Beberapa hari yang lalu, hatinya sedikit membaik ketika melihat kedatangan Ayu. Sahabatnya yang bekerja satu kantor dengan Dara itu langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kabar mengenai Yasha dari Dara. Sahabatnya yang satu itu memang selalu terlihat lebih peduli dibanding yang lain. Yasha merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Ayu. Ia tipe teman yang santai tapi santun, tutur bahasanya kalem, tidak pernah di buat-buat, dan satu yang paling ia suka dari Ayu, sahabatnya itu tak pernah luput untuk mengingatkannya tentang Allah. Ayu seperti seorang sahabat sekaligus ustadzah pribadi untuknya.

Sebenarnya hal yang wajar jika teman-temannya tidak mengetahui kondisi Yasha. Gadis itu begitu tertutup. Ia terlampau enggan untuk berbagi. Termasuk pada Ayu, Yasha tak pernah sekalipun menceritakan hal-hal yang dianggapnya masalah pribadi. Biarlah Ayu melihatnya seperti apa yang tampak di mata. Ia hanya tidak ingin orang lain turut merasakan kesedihannya. Saat teman-teman sekantornya pun menanyakan kabar kenapa ia tidak masuk, ia hanya menjawab 'cuma engga enak badan', atau di tambahi dengan kata-kata 'dokternya lebay, jadi suruh aku bedrest dulu', dan kalimat-kalimat alibi lainnya. Hmm...Yasha memang terlalu cerdas untuk hal-hal seperti ini.

Yasha tersenyum tipis, memejamkan mata dan membiarkan cahaya mentari menyinari tubuhnya memberi kehangatan pagi. Kehangatan yang tak akan pernah ada yang bisa menyamai, begitu anggun, tulus, dan lembut.

"Sha..."

Yasha menoleh ketika sebuah suara memanggil namanya. Dilihatnya Reza yang baru saja menyelesaikan administrasi itu melempar senyum padanya.

"Yuk, siap-siap pulang," kata Reza.

Yasha mengangguk. Tanpa berkata apapun ia menuruti perkataan sang kakak.

"Sha...handphone kamu mana?" Tanya Reza.
Yasha menautkan kedua alisnya tak mengerti. Untuk apa kakaknya menanyakan ponselnya.

"Untuk apa?" Tanyanya heran.

"Handphone kamu mana?" Kali ini Reza bertanya seraya mengulurkan tangannya. Masih dengan perasaan heran Yasha menyerahkan ponselnya pada Reza.

"Handphone aku mau diapain kak?" Tanya Yasha begitu melihat Reza menon-aktifkan ponselnya.

"Mulai sekarang kamu pake handphone yang ini," jawab Reza seraya menyodorkan ponsel baru yang ia beli kemarin.
"Kontak-kontak yang penting udah kakak save di hp itu," lanjutnya.

"Terus, handphone aku?"

"Ini biar kakak dulu yang pegang, untuk sementara ini kamu jangan kontekan sama siapa-siapa dulu,"

"Tapi-"

"Engga ada tapi-tapian." tegas Reza.
Yasha yang hendak melakukan aksi protes pun akhirnya hanya bisa menurut.

Kemarin malam, Reza memang sempat mengecek ponsel Yasha. Puluhan pesan dari kontak dengan nama yang sama berderet di salah satu aplikasi milik Yasha. Reza meneliti pesan-pesan itu satu persatu, hampir semuanya berisi ancaman dan makian. Reza geram dengan semua isi pesan yang ia baca, keyakinannya bertambah kuat bahwa nama kontak di ponsel itu adalah salah satu penyebab sakitnya Yasha.

Berpijak di Atas CahayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang