Chapter 20-Mother in Law or Employer

680 67 0
                                        

~ANABELL CLARETTA M~

🍁🍁🍁

"Kita ke aula utama",ucap Efraim yang masih memegang erat tanganku.

Mungkin Efraim ingin aku bertemu dengan nenek Nanny.

🍁🍁🍁

Baiklah, sekarang entah apa yang kurasakan, kali ini aku benar benar mati rasa. Kakiku seakan melayang di udara. Otakku campur aduk, hingga rasanya kepalaku ingin pecah karena berpikir terlalu keras.

Mataku perih karena kebanyakan menangis mungkin. Rasanya dadaku sesak seperti ada beban beberapa ton di sana. Kenapa bisa sesakit ini? Aturannya tidak seperti ini.

Kenapa?

Kenapa?

"Seharusnya aku sadar bahwa aku tidak boleh mencintaimu, seharusnya aku tidak memperdalam rasa ini", ucapku dalam hati entah untuk kesekian kalinya.

🍁🍁🍁

Aku lelah memandang ke tengah taman. Sudah satu jam lewat lima menit aku di sini. Sudah pukul lima sore,aku malas pulang. Dari tadi ponselku berbunyi. Selalu saja panggilan dari Efraim.

Aku tidak sanggup bertemu dengannya. Sungguh. Aku takut. Masih terngiang perkataan ibu Efraim kepadaku tadi.

Flass Back Off

"Kita akan kemana Eff?"

"Ssst, tenang saja, okey?"

Jantungku, tolong! Bisa tidak diajak kompromi.

Tiba di depan pintu masuk sebuah ruangan yang cukup besar. Pintu itu terbuka lebar. Para pelayan menunduk kepada sang tuan. Aku hanya ikut dari belakang saja.

Efraim mengeratkan genggaman tangannya.

Di sana, di sebuah sofa, ada seorang wanita cantik, elegan dan begitu modis. Dengan secangkir kopi di tangan kanannya. Pandangan matanya tertuju keluar melihat taman yang begitu indah, karena dinding ruangan itu terbuat dari kaca.

Siapa dia?

"Ibu?",ucap Efraim akhirnya.

Apa? Ibu?

Ya Tuhan, jadi Efraim membawaku ke sini, hanya untuk bertemu dengan ibunya? Bukankah ini terlalu cepat? Jika aku tahu akan bertemu dengan ibunya, aku akan berdandan sedikit tadi. Aku takut dia tidak menyukai penampilanku, yang bisa dikatakan di bawah rata rata.

Ibu Efraim akhirnya menoleh ke arah kami. Pandangannya bisa dibilang begitu aneh, atau tidak suka. Tapi kutepiskan prasangka burukku.

Aku mencoba tersenyum. Wajah ibu Efraim datar memandangiku mulai dari atas sampai bawah. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Rasanya begitu risih diperhatikan sedetail itu.

"Duduklah",ucapnya dengan gaya arrogan .

Aku mengikuti Efraim. Dia masih saja setia menggenggam tanganku. Ibu Efraim melihat ke arah tangan kami yang saling bergandengan dengan tatapan sinis mungkin.

𝑳𝒐𝒗𝒆 𝑴𝒂𝒌𝒆 𝒕𝒉𝒆 𝑾𝒐𝒓𝒍𝒅 𝑺𝒑𝒊𝒏𝒏𝒊𝒏𝒈 [𝐓𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐫𝐛𝐢𝐭]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang