2.8

460 65 38
                                        

"Kenapa anak-anak belum pulang?",

"Minkyu masih ada rapat untuk pensi minggu depan, Yunseong katanya mau pergi dengan temannya",

"Aku tidak bertemu anak-anak di sekolah",

"Anak-anak juga tidak mau menjadi pusat perhatian sepertimu Hwang!",

Jaehwan berjalan menuju ruang keluarga sembari membawa piring berisi beberapa potong roti yg baru saja dia buat. Kali ini rotinya spesial karena Jiyu membantu membuatnya. Ya walau hanya membantu menuangkan meses ke adonan roti.

"Jiyu, roti",

Jiyu yg awalnya terlihat sibuk menonton kartun langsung berlari menghampiri ibunya. Jaehwan memotong sedikit roti dan memberikan pada anaknya itu. Jiyu menerimanya dan langsung duduk di kursi miliknya lalu melanjutkan acara menonton kartunnya.

"Aku tadi bertemu Wonjin di sekolah. Dia masih bertengkar dengan ayahnya?",

"Yg aku tahu dari cerita Minkyu, bukan dia yg bertengkar dengan ayahnya tapi ibunya. Sampai sekarang ibunya belum memaafkannya dan melarang Wonjin bertemu dengan ayahnya",

"Kasian sekali anak itu. Selama ini kita melihatnya sebagai anak yg ceria tapi ternyata dia memiliki masalah seperti itu",

"Kamu bertemu dengannya waktu itu sendiri?",

"Tidak mungkin. Anakmu itu selalu mengikutinya",

"Ya... Hwang Minkyu...",

"Minkyu benar-benar menyukainya?",

"Menurutmu jika Minkyu hanya menganggapnya teman, apa Minkyu akan mengikutinya kemana pun dan kapan pun??",

"Benar juga ya",



"Oh tata?",

Terdengar suara pagar dibuka, artinya ada yg datang. Entah siapa yg pulang. Pintu depan terbuka, terlihat Minkyu masuk ke dalam rumah, tapi dia tidak sendiri ternyata.... ada yg mengikuti di belakang.

"Oh... sore paman, sore bibi",

"Sore Wonjin",

"Minkyu, kau bilang tidak ada ayahmu!",

Wonjin berbicara pelan. Pelan sekali sampai Minhyun dan Jaehwan bisa mendengarnya dengan jelas. Tidak lupa tangannya bergerak untuk memukul punggung Minkyu.

"Aku tidak tahu kalau ayahku sudah pulang",

"Kalau butuh sesuatu, datang saja kesini. Tidak perlu sungkan walau ada paman di rumah",


"Ba.. baik paman",

"Wonjin apa kabar?",

"Baik bibi, bibi apa kabar?", seru Wonjin sembari mengikuti Minkyu menuju ruang keluarga. Jika tahu ayahnya Minkyu, pasti Wonjin akan menolak untuk ikut ke rumah Minkyu.


Paman Minhyun gak gigit kok dek, tenang...



"Bibi baik. Sudah lama kamu tidak main kesini",

"Akhir-akhir ini lumayan sibuk di sekolah",

"Ah iya, pemilihan ketua OSIS ya? Bagaimana??",

"Besok baru dilakukan pengambilan suara",

"Semoga sukses ya! Jika Minkyu nanti tidak menjadi ketua yg baik, pukul saja kepalanya",

"Hahaha... bibi tenang saja. Aku pastikan Minkyu akan menjadi ketua yg baik",

"Iya bibi percaya. Wonjin mau minum apa?",

"Tidak perlu repot-repot tante. Aku hanya sebentar",

Broken ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang