Taeyong melangkah tergesa menuju pintu keluar kantor kepolisian Seoul. Tak peduli sama sekali dengan rasa dingin nan menusuk pada telapak kakinya, bahkan meski harus berjalanㅡlebih tepatnya setengah berlari terpincang-pincang. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menemui dalang yang membuat Jaehyun menderita dalam penjara. Juga bisa dibilang pemicu hubungan canggung diantara mereka.
Meski Taeyong sadar jika dirinya lah yang sepenuhnya bersalah karena terbuai dalam dekapan dan kecupan menenangkan Sehun. Namun jika si barista itu tak pernah melakukan hal yang amat rendahㅡmemasukkan obat-obatan terlarang pada kopi suaminyaㅡmaka ia tak mungkin kehilangan arah, stress hingga berakhir melihat Sehun sebagai Jaehyun malam itu.
"Taeyong Hyung."
"Jungwoo-ya," Taeyong menghentikan langkah tepat diambang pintu kantor kepolisian ketika berpapasan dengan detektif yang lebih muda darinya.
"Apa kau ingin pulang, Hyung?" Tanya Jungwoo. "Aku akan mengantarmu," tawarnya. Ia tidak ingin melihat Taeyong kembali diserang oleh orang-orang yang mengaku penggemar Jaehyun. Melihat Taeyong dilempari bahkan dicaci maki membuatnya iba juga sakit hati.
"Tidak, Jungwoo-ya. Aku ingin ke rumah sakit," Taeyong mengeraskan rahangnya sejenak. "Cepat beritahu aku dimana bajingan gila itu dirawat."
"Hyung, kau tidak perlu kesana. Kamiㅡ" Celetuk Lucas yang berdiri disamping Jungwoo.
"Kenapa?" Taeyong meninggikan suara. "Aku tidak akan membunuhnya, tenang saja. Aku hanya ingin melihat tulang lehernya patah."
"Memangnya manusia bisa hidup jika tulang lehernya patah?" Lucas berbisik pada Jungwoo.
Jungwoo tak memperdulikan lelaki disampingnya, lebih memilih memusatkan atensi pada Taeyong dengan tatapan sendu. Ia tahu pria yang lebih tua darinya itu sudah termakan emosi ketika mendengar informasi tentang si barista yang menjebak suaminya.
"Minggir, aku harus pergi." Ucap Taeyong lalu berjalan tergesa, hendak meninggalkan Jungwoo juga Lucas. "Aish! Kenapa kalian menahanku!" Pekiknya saat dua detektif itu menahan lengannya.
"Jungwoo, pegang kakinya!" Lucas memekik saat merasa kekuatan Taeyong lebih besar darinya.
Lucas masih beruntung sebab pikiran Jungwoo sedang kalut. Jika tidak, maka si lelaki jangkung akan kembali mendapat hantaman pada perutnya. Lucas berteriak seolah Taeyong adalah balita yang harus ditahan karena takut dengan suntikan.
"Jungwoo lepaskan aku," Taeyong berteriak frustasi. "Aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruh barista sialan itu!"
"Kau tidak akan pernah tahu, Hyung!" Jungwoo refleks meninggikan suara. Tersirat nada frustasi, pasrah juga kecewa didalamnya. Ia kemudian memeluk tubuh Taeyong erat lalu bergumam. "Barista itu sudah pergi..."
"Dia... Sudah tidak ada di dunia ini."
Tatapan Taeyong seketika berubah menjadi kosong. Ini tidak adil! Batinnya berteriak. Si barista, juga orang yang menyuruh sosok itu untuk melakukan hal keji pada suaminya belum merasakan penderitaan Jaehyun selama di penjara.
"Dia hanya merasakan sakit setelah melompat dari jembatan, lalu mati," Taeyong bergumam lirih. "Sedangkan suamiku... Jaehyun mungkin akan tetap merasakan sakit setelah dia keluar dari tempat ini."
Jungwoo menggeleng lemah. "Tidak, Hyung. Pemberitaan diluar sana memihak pada Jaehyun Hyung. Dia tak akan mendapat sanksi sosial," Ia meyakinkan. "Dan kau... Kau juga sudah terlepas dari tuduhan perselingkuhan itu. Jika ada yang menyakitimu, aku akanㅡ"
"Aku tidak masalah jika semua manusia di bumi membenciku," Taeyong berkata masih dengan tatapan kosongnya. "Tapi rasanya aku ingin mati saja saat melihat Jaehyun tak lagi memercayaiku, Jungwoo-ya. Ini tidak adil, orang bejat itu menghancurkan segalanya lalu pergi begitu saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hilarious | Jaeyong ✓
Fanfic❝I love being married. It's so great to find one special person you want to annoy for the rest of your life❞ M/M | GENFIC | M-PREG | MATURE | BOOK 2 a sequelㅡread 'Secret Romance' first Kehidupan pernikahan Jaehyun dan Taeyong nyatanya tidak semulus...
