28. Jeju

5.1K 839 61
                                        

Jaehyun kembali menggulirkan matanya sekilas ke arah spion tengah mobil. Ia lagi-lagi mendapati sang suami kecil meneteskan air mata di jok belakang. Terlihat Ibu mertuanya sesekali menenangkan Taeyong. Wanita paruh baya itu mengusap sayang puncak kepala anak sulungnya seraya berkata, "Sudahlah, anak-anakmu akan ikut menangis jika kau terus seperti ini, Taeyong-ah."

Menghela napas pelan, Jaehyun seketika merasa bersalah pada si submissive. Ia tahu, Taeyong tidak terbiasa tinggal jauh dari orang tuanya, terutama sang Ibu. Namun Jaehyun tak punya pilihan lain, ia tak ingin batin suami kecilnya tersiksa karena terus-terusan mendengar cemoohan orang diluar sana.

Bukan hanya itu, Jaehyun pun khawatir dengan tumbuh kembang Naeun. Taeyong pernah memberitahunya jika putri kecil mereka kerap kali ditanyai oleh teman-temannya seperti, "Apa Ayah kalian akan berpisah? Ibuku berkata jika Ayah kecilmu memiliki suami lain."

Jaehyun sungguh tidak tahu jika kehidupan di Seoul memang sudah sekeras batu. Bahkan anak kecil pun sudah dengan mudahnya mengutarakan kalimat yang tidak sesuai dengan usia mereka. Dan ia tidak ingin anak-anaknya sepertinya itu.

"Kau tidak usah khawatir."

Mendengar suara sang Ayah mertua berbicara lantas membuat Jaehyun menoleh sekilas. Si pria paruh baya yang duduk di bangku penumpang samping kemudi kemudian berkata, "Aku yakin kau bisa menjaga Taeyong dan anak-anakmu di Jeju dengan baik, Jaehyun-ah."

Jaehyun mengangguk pelan lalu tersenyum tipis. "Tentu, Ayah."

Tak lama setelah percakapan singkat itu berakhir, Jaehyun kemudian menghentikan laju mobilnya tepat di depan terminal keberangkatan bandara. Disana Paman Kim telah menunggu sebelum mereka tiba. Sebab, saat ia dan keluarga kecilnya telah berangkat ke Jeju, supir sekaligus asisten pribadi Tuan Lee itu lah yang akan mengantarkan kedua mertuanya untuk pulang.

Taeyong juga Nyonya Lee keluar dari mobil. Begitupun dengan Jaehyun dan sang Ayah mertua.

"Paman Kim, ini kunci mobilnya." Kata Jaehyun seraya menyodorkan kunci mobil pada si pria paruh baya.

Mengangguk paham, Paman Kim menoleh sekilas ke arah Taeyong yang tengah menggendong Gunho lalu tersenyum tipis. "Jaga diri kalian baik-baik," katanya lalu menunduk sopan.

"Paman, tolong jaga Ayah dan Ibuku," ucap Taeyong dengan suara lirih. "Jika Ibuku kembali membeli sesuatu dan memberinya nama Ddangkoma, tolong telepon aku."

Paman Kim sontak tertawa. Sudah menjadi rahasia umum jika istri bosnya sangat senang melabeli hewan peliharaan bahkan tanamannya dengan nama Ddangkoma. Berdasarkan cerita Taeyong, sang Ibu mulai menunjukkan keanehan itu ketika kura-kura kesayangannya mati.

Alhasil, anjing yang Ayahnya beli untuk sang istri diberi nama Ddangkoma oleh wanita paruh baya itu.

Tanaman kaktus yang Jaehyun beli untuk mertua wanitanya itu pun diberi nama Ddangkoma.

Nyonya Lee yang malang.

"Sudah, sudah. Ayo, kalian harus segera masuk." Kata Tuan Lee seraya menuntun anak dan menantunya untuk masuk ke dalam bandara.

Kurang dari empat puluh menit lagi pesawat yang akan membawa keluarga kecil Jaehyun akan lepas landas. Mereka pun berpamitan pada Ayah juga Ibu Lee, tentu dengan isak tangis pilu Taeyong.

Melihat keadaan si submissive yang begitu jauh dari kata baik-baik saja, Jaehyun pun mengambil alih Gunho. Malaikat kecilnya itu tertidur dengan nyenyak sejak di dalam perjalanan ke bandara tadi. Gunhoo bersandar pada pundak Jaehyun dengan dengkuran kecil yang menyapa indera pendengaran ayahnya itu.

Sementara itu, Naeun yang berdiri disamping Taeyong tak henti-henti mendongak dan menatap Ayah kecilnya sendu. Ia pun mencengkeram ujung coat yang digunakan Taeyong sembari menggigit bibir bawah.

Hilarious | Jaeyong ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang