BAB II-[PERSELINGKUHAN]

837 53 3
                                        

👑FALLEN LEAVES👑

Semilir angin pagi masuk ke sela-sela koridor istana. Tampak banyak dayang yang sudah sibuk dengan berbagai macam tugas mereka sepagi ini. Angin segar di istana begitu enak di rasakan, pemandangan istana pun tampak tenang.

Eum Na di bawa oleh tabib Ong kepada seorang pelayan.

Salam hormat terjadi. "Ini Eum Na, Ji-ah, tolong bantu dia."

Tabib Ong akrab pada pelayan tersebut. "Baiklah, saya pelayan Permaisuri di sini, Ahn Ji Yoon."

Eum Na senyum canggung, perempuan di hadapannya ini terlihat sangat berwibawa.

"Tak kusangka, keponakan Ahjumma sangat cantik," puji Pelayan Ahn.

Keponakan? Eum Na pikir, apa tabib Ong mencoba membohongi orang-orang istana. Itu tidak benar baginya, tapi melihat tabib Ong memejamkan matanya sesaat, isyarat bahwa semua akan baik-baik saja membuatnya terseyum pada Pelayan Ahn.

Setelah itu, tabib Ong meninggalkan Eum Na dengan kepala pelayan. Entah akan di tempatkan dimana Eum Na oleh wanita ini.

"Posisi apa yang kau inginkan? Mungkin aku bisa membantu membincangkannya dengan Kepala Pelayan?" tawar Pelayan Ahn.

Eum Na agak heran, tapi dia menyunggingkan senyum samar.

"Kudengar kau sudah memiliki anak, itulah mengapa aku menawarkan ini."

Eum Na meneguk air liurnya, bukan karena Pangeran kecil. Eum Na berujar, "Karena Nona menawarkan, aku ... Bisakah tidak ditempatkan pada bagian pelayan penyaji hidangan atau bagian dapur. Dan bisakah Nona tidak memasukanku dalam pelayan Permaisuri??"

Pelayan Ahn bengong. "Bukankah itu bagian yang tidak begitu berat?"

"Ada banyak alasan kenapa aku menolak bagian itu."

"Apa kau ingin bagian mencuci pakaian?"

(Note: dalam kerajaan Goryeo. Posisi pelayan terendah adalah pelayan pencuci pakaian di aliran air sejenis sungai dan kedudukan ini termasuk hina karena biasanya di isi oleh orang-orang yang berkhianat atau memiliki kesalahan yang besar)

Eum Na tersentak, menyadari apa yang di katakan Pelayan Ahn. "Tidak! Tidak!" ia menggeleng beberapa kali.

Mereka berdua berjalan pada lorong-lorong istana. Pelayan Ji terkekeh melihat perilaku Eum Na, terlihat begitu lucu.

"Jadi?" Ji Yoon bersuara.

"Aku tidak mau terjebak dalam situasi rumit, banyak kisah yang menuliskan seorang pelayan mati karena memberi minuman beracun untuk petinggi kerajaan. Jika tidak sebagai pembawa, sebagai pembuat hidangan. Akh, itu menakutkan! Apalagi kalau jadi pelayan Permaisuri, baik Yang Mulia orang yang bijak. Yang Mulia akan habis oleh orang tak berperasaan. Apalagi kalau buruk serta kasar."

Kata-kata Eum Na sukses menaikan selera humor Ji Yoon. Gadis itu tertawa, bahkan memegangi perutnya. "Astaga, kau ini."

Eum Na masih dengan raut seriusnya untuk melanjutkan kata, "Tidak ada yang benar-benar bisa kau percayai, dimanapun dan kapanpun. Dunia ini mengerikan!"

Bahkan, ada bahagia lain karena tindakan serta perbincangan mereka hari itu. Raja mengembangkan senyum melihat ekspresi Eum Na yang tiba-tiba berubah antara cemas dan takut, padahal tadi sangat serius.

"Astaga?! Oh, yang benar saja!" Ji Yoon hampir frustasi karena menahan tawa.

"Jadi, apa tepikirkan olehmu mau dimana?" tanyanya, lagi.

Eum Na berpikir, lalu sekelibas berujar, "Tempatkan aku di luar ruang istana, meski sebagai tukang sapu halaman luas atau membersihkan kolam istana, itu lebih baik!"

Fallen Leaves | LENGKAP✓ |Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang