Kisah ini berawal dari kalahnya kelompok pemberontak Ruosi dengan Dinasti Goryeo. Atas kekalahan tersebut, kelompok Ruosi harus memberikan upeti kepada Goryeo, berupa harta, uang serta orang-orang Ruosi, termasuk Puteri pemimpin Ruosi atas permintaa...
Pagi menjelang siang, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke Baekje. Eum Na menaiki kuda yang ditunggangi oleh Pangeran Hyuk atas permintaan Pangeran. Sampai fajar, Eum Na masih terjaga. Meski matanya sudah sangat berat, sesekali kepalanya terbentur punggung Beom Hyuk.
"Jangan paksakan terjaga jika mengantuk," ujar Pangeran.
"Hahh? Euhmm." Eum Na bersyukur pria ini sangat pengertian, ia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada punggung Pangeran.
Saat benar-benar terlelap, Eum Na hampir jatuh ke samping, bagus nya Pangeran Beom Hyuk sudah dapat menebak itu dan menahan badan Eum Na dengan satu tangan nya. Eum Na terbangun dengan mata yang benar-benar berat.
Tanpa dikira, Pangeran Beom Hyuk menarik kedua tangan Eum Na untuk memeluk tubuh tegapnya, dengan maksud Pangeran dapat memegangi Eum Na supaya tidak jatuh.
"Terimakasih, kau sungguh baik," gumam Eum Na, disela suara kaki kuda yang terus berpacu.
Lelaki itu tersenyum. "Apa tak apa seperti ini?" tanya Beom Hyuk.
"Euhmm??" Eum Na tak dapat mencerna apa yang di katakan pria ini, ucapannya sangat tidak jelas.
"Suamimu, kau terlihat sedang berselingkuh sekarang," kalimat Beom Hyuk, membuat Eum Na yang masih mengantuk jadi kesal dan memukul bahu Beom Hyuk.
"Aku tidak punya suami, kau mengingau atau mabuk, hah??!" tanya Eum Na khas suara seseorang yang lelah dan mengantuk.
Beom Hyuk mengedipkan mata nya beberapa kali, apa sungguh nyata apa yang di katakan gadis itu?
"Kurasa kau tengah bermimpi," ujar Beom Hyuk.
"Aku tidak bermimpi, dasar bodoh!" oceh Eum Na, matanya sungguh berat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Bayangin aja Eum Na dibelakang Beom Hyuk:v)
Seketika, sudut pipi pria itu membentuk senyum abstrak. Tangan besar nya menggapai tangan kecil Eum Na yang tadi ia lepaskan untuk memukul bahu Beom Hyuk, tangan pria itu menggengam kedua tangan perempuan yang sekarang memeluknya ini, malam itu terasa hangat bagi Beom Hyuk. Bahkan ia tidak memperdulikan kehadiran prajurit yang ada dibelakang mereka. Seolah dunia miliknya saja.
.oOo.
Seminggu kemudian.
Kaisar Beom Jun tengah beristirahat setelah mengurus urusan negara, ia memejamkam mata dengan posisi duduk bersila.
"Mohon ampun Yang Mulia." seorang prajurit masuk ke ruangan itu, membungkukkan badan, tanda hormat pada kepala negeri.
Yang Mulia membuka matanya. "Ya, katakan."
"Pangeran Beom Hyuk telah kembali dari Baekje, Yang Mulia."
.oOo.
Disisi lain, Ibu dan anak itu terlihat tengah melepas rindu dan peluh. 10 hari sudah Eum Na meninggalkan Sang buah hati. Berkali-kali ia mencium anaknya, sungguh, jika tak kunjung bertemu seperti ini, risau nya tak lekas habis.