.oOo.
Udara pagi nampak segar di halaman Goryeo hari ini. Meski begitu, sebuah ruangan di salah satu istana yang di penuhi bau arak mengalahkan segarnya udara pagi kala itu.
Keningnya berkerut, menahan pusing ketika ia hendak mendudukkan diri. Matanya menatap sekitar dan betapa tersentaknya ia melihat Hong Ae tertidur pulas disampingnya.
Jun langsung berdiri, sesekali menekan rasa sakit pada keningnya. Otak yang terus saja bersih keras bertanya mengapa wanita itu ada disini dan rasa sakit pada kepala yang tak tertahan membuatnya memaksa mengingat apa yang terjadi sebelum pagi ini.
Perempuan berbadan dua itu berdiri di samping tiang rumah sembari memandangi langit pagi. Kabar malam bersama antara Kaisar dan Permaisuri tentu tak dapat di tutupi. Sepagian ini, sepanjang melewati koridor istana, seringkali ia dapati bisikan demi bisikan tentang Jun yang sakit hati atas dirinya, lalu melarikan diri pada Permasuri.
"Aku tak habis pikir, bukankah dia sungguh ... Sangat beruntung."
"Jika mengesampingkan perasaan Kaisar, wanita itu hanyalah pengkhianat yang harus di hukum mati."
"Kurasa, dia tak tahu malu."
Mendengarnya hanya membuat cuping Eum Na memanas saja. Ia buru-buru ingin pergi dan melepaskan berbagai pikiran buruk.
"Aku rasa, aku kasihan padanya, tentang kehamilannya terlebih ia baru saja di angkat menjadi selir Kaisar. Kupikir selir Yi akan mendapati kesulitan."
Satu kata dari ghibahan para pelayan itu membuatnya tercenung, lama Eum Na memikirkan kata-kata itu.
Eum Na benar-benar paham, semua orang pasti sangat tahu kalau anak dalam kandungannya ini tentu bukanlah anak Jun. Jun baru saja kembali, memperebutkan dinastinya lalu mengangkat Eum Na sebagai selir. Sedangkan di malam pertama Eum Na dikabarkan hamil.
Mungkin Kaisar akan mengusir atau menghukumnya dengan pengasingan, itu kemungkinan terbesar yang terjadi. Akan tetapi, Eum Na lebih khawatir tentang perasaan Kaisar.
Ini karena, Eum Na pikir ia tak bisa membalas perasaan demi perasaan itu.
Perasaan yang ia lukai, perasaan yang tak dapat ia obati.
********
Semenjak peristiwa malam pertama itu. Kaisar tak pernah lagi datang ke istana Eum Na, melihat Eum Na pun enggan, saat-saat dimana mereka tak sengaja bertemu, Jun nampak sangat menghindar.
Ini jauh dari perkiraannya, ia tidak diusir, tidak diasingkan. Melainkan dijauhi. Rasanya sama, sama-sama menyedihkan dianggap remeh oleh orang-orang kerajaan bahkan pelayan sekalipun.
Lalu di bulan berikutnya, tersiar kabar bahwasanya Permaisuri sedang mengandung anak Raja. Tak lama dari itupun, para menteri mengajukan permintaan pada Raja atas selir. Para menteri beralasan untuk memperkuat hubungan mereka dengan raja melalui pengangkatan orang-orang mereka menjadi orang istana. Sedangkan salah satu jalannya ialah lewat pengangkatan selir.
Permaisuri menolaknya mentah-mentah, tetapi Kaisar malah menerima pengajuan tersebut. Meski sempat terjadi perdebatan antara keduanya, Kaisar berdalih bahwa itu semua untuk kekuatan pemerintahan dan berujar kalau proses pengangkatan selir akan dibebankan pada Permaisuri juga.
"Setidaknya jangan tampak nyata, heh." Hong Ae mendengus. "Benar-benar terbaca jika Kaisar Goryeo patah hati hanya karena selir murahan itu," cibir Hong Ae.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fallen Leaves | LENGKAP✓ |
Historical FictionKisah ini berawal dari kalahnya kelompok pemberontak Ruosi dengan Dinasti Goryeo. Atas kekalahan tersebut, kelompok Ruosi harus memberikan upeti kepada Goryeo, berupa harta, uang serta orang-orang Ruosi, termasuk Puteri pemimpin Ruosi atas permintaa...
