.oOo.
Lee Hong Ae berjalan dengan anggun pada lorong-lorong istana, beberapa dayang bahkan mengukutinya kemanapun perempuan itu melangkah.
Awalnya Hong Ae berencana ke istana permaisuri yang ditempati Eum Na. Tapi, saat melihat sosok Eum Na tengah berjalan berlawan arah dengannya, semburat senyum membingkai.
Eum Na terus berjalan sambil sedikit menunduk, memikirkan banyak hal sambil bergegas. Tapi, sebuah tangan menahan langkahnya.
Ia berhenti, nampak Hong Ae menatapnya dengan wajah tak bersahabat.
Satu sudut bibir wanita itu terangkat, ia tersenyum remeh pada Eum Na. "Aku tidak mengerti kenapa wanita rendahan sepertimu sangat tidak sopan," tutur Hong Ae, merasa berkuasa.
Kesadaran Eum Na terkumpul, mendengar hinaan itu membuatnya tersadar akan satu hal pada sosok yang ia temui hari ini.
"Hamba juga baru sadar, bahwa kondisi Yang Mulia waktu lalu hanya sebuah kebohongan." Eum Na mencoba menempatkan dirinya seaman mungkin, sesopan mungkin, tapi entah kenapa ia tak mau di rendahkan.
Mana mungkin ia lupa, bahwa wanita picik didepannya masih lah istri sah Beom Jun. Fakta bahwa Beom Jun kembali memang bisa ia simpulkan benar adanya.
Gelagat Hong Ae seakan hilang kewarasannya waktu lalu nyatanya cuma akal-akalan wanita itu saja, ia hanya cari aman.
Hong Ae naik pitam. "Kau!" tangannya menjambak kasar surai hitam Eum Na, perempuan itu langsung menjerit sakit karena Hong Ae menyeretnya pergi.
Dari kejauhan, Da Eun yang baru saja kembali dari balai pengobatan melihat kejadian itu.
Gadis itu nampak terkejut karena Eum Na di tarik oleh permaisuri. Da Eun yang bisa membaca situasi segera mungkin bergegas.
Eum Na jatuh tersungkur diantara tumpukan kayu-kayu area belakang gudang.
PLAK!
"Jika saja aku berjalan seperti cara hidupmu, mungkin aku sudah berakhir ditempat eksekusi seperti suamimu." Hong Ae mencengkeram dagu Eum Na kasar, Eum Na ingin melawan tapi tangannya di pegangi oleh pelayan Hong Ae.
"Apa kau ingin berakhir seperti teman-temanmu?"
Eum Na melihat Hong Ae waspada, ada firasat buruk yang menghampirinya.
Hong Ae berbisik, "Mereka berakhir seperti itu karena tidak bisa menjaga mulutnya."
Eum Na ingin berteriak karena marah, tapi Hong Ae lebih dulu membungkam mulut Eum Na serampangan. Karena terus-menerus melawan dan membuat tenaga Hong Ae terkuras, wanita itu pun kembali menghadiahi Eum Na sebuah tamparan, tamparan yang tak henti-hentinya ia hujani pada Eum Na.
Wanita itu tertawa senang dan menghentikan aktivitas menamparnya. "Aku sungguh bahagia bisa menamparmu seperti ini." pipi Eum Na memerah karena sakit.
Ia mengatur nafas, menahan panas pada pipinya. "Jadi, anda yang membunuh teman-temanku?!"
Mata picik itu menoleh, senyum terukir disana. Ia menjawab enteng, "Bukan aku, lebih tepatnya bawahanku."
"K-KAU–" Eum Na bangkit, menghardik Hong Ae yang menyebabkan wanita itu terjatuh. Tapi, belum juga ia menghabisi Hong Ae, orang-orang Hong Ae kembali menindasnya.
Sudah dia tebak, mana mungkin Beom Jun bisa sekeji itu membolehkan orang-orangnya menghabisi nyawa yang tak bersalah.
Pasti ada ular dibalik kejadian ini dan ular itu sedang bersamanya.
"Cambuk jalang itu!"
Tangan Eum Na langsung di ikat setelah mendapat perintah.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Bekas cambukan yang kemarin lusa melukai punggungnya saja belum sembuh, malah di tambah lagi. Punggung gadis itu rasanya seperti terbakar dan terkelupas. Panas, pedih yang ia rasakan.
"Hanya karena Jun menyukaimu, bukan berarti dia bisa melindungimu dari segala hal. Peganganmu dan peganganku berbeda, kau bisa mati kalau hanya berpegang pada satu hal."
Benar, Hong Ae masih punya Ayah dan Ibu yang berpengaruh. Ia merupakan puteri raja negeri Baekje, sedangkan Eum Na? Bahkan Ayah dan Ibunya sudah tiada.
Dengan segala ikatan yang Hong Ae punya, mana mungkin Eum Na yang sebatang kara bisa melawannya.
Dengan segala sisa kekuatan yang ia kumpulkan, Eum Na berkata, "Ha-hanya karena tidak punya apapun, bukan berarti aku patut men-menderita."
Hong Ae melihat ke matahari yang terik, sepertinya sudah tengah hari. Wanita itu kembali tersenyum. "Sepertinya ... eksekusi suamimu akan segera dilaksanakan, sayang sekali, kau tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali."
Eum Na menyahut lantang, "Saat Kaisar meninggal pun kau tak melihatnya untuk terakhir kali. Akhirnya Kaisar tetap hidup."
Hong Ae menggeram, perempuan ini lebih tangguh dari yang ia pikirkan sebelumnya.
Ia mendorong Eum Na dan mencengkeram dagu itu lagi. "Awalnya ... aku pikir pertunjukkan ini tak akan menarik, kau jatuh cinta pada suamimu." Hong Ae bisa melihat itu.
Wanita ular itu hanya senang bermain-main dan menyulitkan situasi, seperti perselingkuhannya dengan Pangeran Beom Yeong. Sekarang, ia malah mau mencampuri kehidupan orang. Menonton dan turut campur dalam percintaan orang lain, seolah ia berperan sebagai dalang sedangkan Eum Na, Soo Hyuk dan Beom Jun adalah wayangnya.
"Tapi dengan kematian suamimu serta kehadiran suamiku, aku pikir permainan ini benar-benar menyenangkan."
"Kupikir kau hanya berbohong tentang kegilaanmu, tapi kali ini aku sadar kau memang tidak waras," jerit Eum Na.
"BERANI SEKALI KAU JALANG!" Hong Ae memanas, tangan wanita itu langsung mencekik leher Eum Na.
Eum Na kesulitan bernafas, pelan-pelan matanya menutup.
Mata Hong Ae melebar, kaget. Sadar apa yang tengah ia lakukan, Eum Na sudah jatuh mengenaskan pada tumpukan kayu.
"PERMAISURI LEE HONG AE!"
******
Seorang prajurit dengan penutup besi di wajahnya membawa Soo Hyuk menuju balai pengadilan.
*******
Beom Hyuk tergesa membawa Eum Na dalam gendongannya. Bagaimana tidak, perempuan itu tak sadarkan diri setelah di siksa. Di koridor istana, tak sengaja Beom Hyuk bertemu Kaisar Jun yang hendak ke balai pengadilan.
Melihat saudaranya membawa seseorang dengan wajah panik membuat Jun menghentikan Hyuk sesaat.
Saat mengetahui kalau yang sedang di bawa oleh Hyuk adalah Eum Na, wajah pria itu mengeras. Ia turut mengikuti Hyuk dari belakang sambil memerintahkan pada pengikutnya agar memanggil tabib secepat mungkin.
______________________
t o b e c o n t i n u e
_______________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Fallen Leaves | LENGKAP✓ |
Historical FictionKisah ini berawal dari kalahnya kelompok pemberontak Ruosi dengan Dinasti Goryeo. Atas kekalahan tersebut, kelompok Ruosi harus memberikan upeti kepada Goryeo, berupa harta, uang serta orang-orang Ruosi, termasuk Puteri pemimpin Ruosi atas permintaa...
