Kisah ini berawal dari kalahnya kelompok pemberontak Ruosi dengan Dinasti Goryeo. Atas kekalahan tersebut, kelompok Ruosi harus memberikan upeti kepada Goryeo, berupa harta, uang serta orang-orang Ruosi, termasuk Puteri pemimpin Ruosi atas permintaa...
Bulan terlihat terang, bintang bertabur menemani gelapnya cahaya malam. Angin bergerak syahdu, aliran air yang tenang membuat Kaisar terhanyut pada emosi terpendam.
"Yang Mulia??" gumam Eum Na, langkahnya terhenti di ujung jembatan.
Setetes airmata mengalir di pipi mulusnya, Eum Na tertegun, menyadari bahwa pria itu tengah terpuruk. Mata bulat Pangeran dalam gendongan perempuan itu terlihat tenang menatap Sang Bunda.
Eum Na mendekat ke arah Kaisar. Temaram lampu menambah kesan pilu di tengah istana ini.
Beom Jun tersentak, tidak mungkin ada hantu bukan? Seseorang pasti ada di sekitarnya sekarang, ia merasakan desiran jari-jari lembut secara ringan menyentuh punggungnya.
"Yang Mulia, apa baik-baik saja?" tanya Eum Na, takut-takut juga kalau menganggu.
Kaisar menghela nafas.
Eum Na mengeluarkan sapu tangan dari kantung hanboknya. "Yang Mulia?" ia menyerahkan sapu tangan tersebut pada Yang Mulia.
Kaisar terlihat bingung, tapi tetap ia sambut. "Yang Mulia, kau menangis."
Antara percaya dengan tidak, sesegera mungkin Kaisar mengusap bagian dekat matanya dengan sapu tangan tersebut. Benar saja, ada sepercik air yang menempel di sapu tangan.
"Saya rasa bukan begitu, mengeluarkan airmata hal yang wajar. Mungkin karena saya belum lagi beristirahat."
"Yang Mulia, sebaiknya lekaslah tidur."
"Hah? Kenapa memangnya?"
Eum Na memandang danau. "Yang Mulia mungkin menguap, bukan hal yang baru jika kita mengeluarkan airmata karena hal itu."
Kaisar terdiam, tanpa suara kembali. Mereka hanya menikmati pemandangan bunga teratai yang bermekaran di atas danau.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yang Mulia, jika hal itu berat luapkan saja." Eum Na tersenyum pada Kaisar. "Jika ingin menangis, menangis saja. Bukan karena kita lemah, itu lebih baik ketimbang melakukan hal buruk."
Kini Kaisar tersenyum miris pada bunga teratai yang bermekaran dengan begitu cantiknya, bahkan pada waktu malam. Kaisar memandang Eum Na lama, rasa gugup menjalari diri Eum Na rasanya. "Siapa namanya?" tanyanya, beralih pada bayi Eum Na.
Eum Na agak kikuk. "Heum? Akh." Eum Na menggeleng.
Pria itu tersenyum. "Kau belum memberinya sebuah nama?"
Eum Na menggeleng. "Aku terkadang memanggilnya Pangeranku, Yang Mulia." Eum Na agak terkekeh, menertawai perbuatannya.
Tangan Kaisar membentuk gaya seseorang yang menggedong bayi. Lalu, ia memberi isyarat pada Eum Na pada bentukan tangannya itu.
Kaisar ingin menggedong anaknya? Sungguh suatu kehormatan! Eum Na tersenyum dan dengan hati-hati menaruh bayinya pada dekapan Yang Mulia.
"Woah, ternyata menggendong bayi seperti ini rasanya, mereka terlalu lembut," seru Raja, antusias.