Bagian 9

2.6K 197 6
                                        

" kuenya sudah jadi !" Ucap tenten dengan suara semangatnya.

" Baiklah.. kue yang kita buat sudah jadi semua. biar aku tebak, rasanya pasti enak." Ino dengan suara pelan mengambil sendok dan mengambil semua kue ke piring besarnya.

" Curang." Teriak sakura dan kawan-kawan ketika melihat Ino membawa lari nampan berisi semua kue yang dibuat oleh mereka.

Ino tak peduli, ia kembali ke ruang tamu dan membagikan apa yang ia ambil dari dapur, memberikannya pada Naruto, Sasuke, sai dan semua orang yang ada di ruang tamu.

semua mencobanya, dalam tiga detik mereka membulatkan mata mereka dan berkata."enak !" Ucap mereka dengan nada sangat.

Sakura dan yang lain keluar dari dapur dengan wajah yang merah padam karena marah pada Ino, Ino yang melihat wajah marah dari semua temannya hanya berlari ke belakang punggung sai dan bersembunyi.

" A- aku minta maaf." Ucap Ino dengan menampakkan wajah melasnya yang ia sengaja buat-buat.

" Sini kau. Kembalikan semuanya, itukan buat makan malam nanti." Ucap tenten dengan berkacak pinggang di depan Ino yang membuat gadis itu semakin takut.

" Ta- tapi... Su- sudah dimakan." Ucap Ino dengan nada melasnya, berharap diampuni malah membuatnya semakin terkena masalah.

" What !?"

" Siapa yang makan ?" Tanya Hinata dengan kesal, berjalan ke arah Ino dengan wajah garang.

Ino yang gelagapan langsung menunjukkan nampan kuenya yang kosong, Terpikir ide di benak Ino.

" Na- Naruto yang makan, sa- Sasuke, Shikamaru dan semua laki-laki juga terlibat " melemparkan kesalahan pada semua pria membuatnya tersenyum kikuk, Hinata menatap tunangannya dengan tatapan kesal.

Bukannya berjalan ke arah Naruto ia malah tak pindah tempat, malahan melangkah semakin dekat ke arah Ino " beraninya kau melemparkan kesalahanmu pada tunanganku !!" Hinata dengan kesal berteriak tepat di telinga gadis itu.

" Sudahlah Hinata. Maafkan saja dia " suara Temari yang tiba-tiba terdengar membuat perhatian semua orang tertuju padanya.

" Ya, ya... Baiklah." Hinata berucap dengan senyum dan melangkah ke arah Naruto, duduk di sebelah Naruto dengan senyum dan mengalungkan tangan mungilnya untuk memeluk Naruto.

Tok..tok..tok..

" Dia sudah datang ? Si merah sudah datang ? Cepat sekali. Aku yakin dia mempercepat perjalananya kemari." ucap tenten dengan nada sok tau.

" Aku yakin dia akan mulai bikin kita kesal sebentar lagi." Ucap Ino dengan melangkah dari sana, tak ingin bertemu dengan Tayuya adalah keputusannya.

" Hey Ino." Hinata tak dapat mencegah Ino yang pergi karena dirinya tau apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.

Sementara sakura dengan tenang hanya duduk diam di sofa, sambil menonton semua kelakuan teman-temannya yang tak ingin bertemu kakaknya itu.

Temari membuka pintu dengan senyum ketus, dirinya menatap Tayuya dan Gaara yang tengah menatapnya juga. Rasanya ingin sekali dirinya memukul wajah tak mengenakkan yang di tunjukkan sepasang kekasih di depannya ini.

" Aku tau aku adalah model tercantik di dunia, dan kalian sangat mengagumi kecantikan wajahku. Sehingga kalian menatap kagum begitu, jangan buat aku tersipu malu dong." Ucap Temari percaya diri tanpa tau jika dua orang di depan matanya ini hanya menatapnya bego.

Temari melangkah kembali ke sofa, dirinya tak mau membawakan barang-barang tamu itu. " Mereka punya tangan kan ? Jadi bawa sendiri dong." Ucap Temari dalam hati dengan cengar-cengir di pojokan.

" Baiklah, terima kasih menerima diriku di tempat ini." Ucap Tayuya dengan senyum dan melangkah ke arah Naruto, memegang tangan pemuda itu dengan lembut.

" Terima kasih Naruto " ucapnya dengan nada lembut, Hinata yang melihatnya hanya tersenyum miring dengan wajah tak suka. Sudah sangat mengenal sifat Tayuya yang buruknya bukan main.

Naruto yang sudah banyak mendengar sifat si merah ini hanya langsung menarik tangannya dari genggaman Tayuya.

" Baiklah. Selamat datang kemari, ini adalah kunci kamar delapan. Tidurlah di sana dengan tenang dan jangan buat ulah, mengerti ?" Tanya Hinata dengan menampakkan mata byakugan nya dan tersenyum menatap Tayuya.

" Baiklah." Balas gadis merah itu dengan mengangkat kopernya dan melangkah dari sana.

" Apa maksudmu dengan kata buat ulah ?" Tanya Gaara dengan pelan, namun dengan nada kesal yang tak ingin ia tunjukkan.

" Kau tanya padaku?" Balas Hinata yang pura-pura tak mengerti, padahal ia sudah menyiapkan kata-kata menyakitkan yang akan ia katakan pada pacarnya Tayuya ini.

" Tentu saja padamu, memang dengan siapa lagi aku akan tanya ?"

" Baiklah merah, dengarkan aku ya, Baik-baik !. Dulu saat masih SMP, dia adalah kakak kelas kami para gadis. Tenten, Temari, sakura, Ino, sumire, Namida dan tentu saja aku, sering sekali mendapat bully darinya."

" Maksudnya?"

" Jangan potong kata-kataku dasar merah !."

Hinata yang kesal ingin sekali melempar handphone miliknya ke wajah Panda ini, namun ia menghentikannya karena ingin melihat si merah ini mengetahui sifat asli pacarnya itu ( Tayuya ).















Bersambung.

VOTE N COMMENT NYA DITUNGGU.

TIDAK SENDIRI✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang