"Apakah ouders ku mengatakan sesuatu padamu? Utamanya ibuku. Apa kau tahu sesuatu?" tanya ku ingin tahu kepada Gabriel.
"Mmm...." dia tampak kebingungan. Aku mulai curiga, mungkin ouders ku benar-benar mengatakan sesuatu pada Gabriel.
"GABRIEL!" bentakku. "Kalo kamu tau sesuatu, aku mohon beri tau aku. Ga, please!" lanjutku memelas.
"Kamu udah tau Jes, harusnya kamu pun sedih."
"Hah!??" Aku kebingungan apa maksud dari kata Gabriel. Kenapa aku juga harus sedih, ini mulai sangat aneh.
"Jes, semua orang di kota ini udah tau saat mereka berumur 12 tahun."
"Aku gak tau apa-apa Ga. Kamu jangan buat aku bingung dong." Aku mulai menaikkan nada suaraku.
"Mungkin kamu juga pakai kemampuan kamu untuk melupakan hal itu 8 tahun yang lalu. Jes, kamu jangan lupain masalah kamu untuk melarikan diri. Itu salah Jes, dan kamu gak bisa kembaliin ingatan kamu yang udah kamu lupain. Nah, sekarang itu masalahnya. Bagaimana kamu mau tau, saat kamu sendiri sengaja supaya kamu gak ingat. Aku gak bisa kasih tau apa-apa Jes, yang berhak memberitahu kamu tentang ini, hanya orang tua kamu." Gabriel bicara dengan nada yang teratur, berusaha membuatku agar tenang. Tetapi karena penjelasannya tersebut, aku benar-benar kecewa dan bingung. Tanpa aku sadari aku mengeluarkan air mata.
"Ga.....beri tau aku Ga.....hiks.....gimana caranya aku.....hiks...." Gabriel tiba-tiba memeluk ku kedalam pelukannya, dan menenangkan aku.
"Jes, aku tau, kamu itu kuat, kamu pasti bisa ingat kembali semua ingatan kamu yang udah kamu buang secara sengaja. Berusaha Jes, kamu pasti bisa. Maafin aku ya." Aku hanya mengangguk-angguk didalam pelukan Gabriel.
Entah mengapa hal yang diberitahu oleh Gabriel tadi, membuatku sedih. Sesuatu seperti menyuruhku untuk mengingatnya. Tetapi, aku benar-benar bingung bagaimana aku bisa mengingat ingatan yang udah aku buang secara sengaja. Itu pasti sulit.
Setelah aku selesai menangis dipelukan Gabriel, Gabriel melepaskan ku. Ia mengajak ku berjalan ke taman. Gabriel hanya melucu terus menerus, entah apa maksud dari segala perbuatannya hari ini. Dia membuatku bahagia.
Saat tengah tertawa lepas dikarenakan lucuan Gabriel, tiba-tiba telfonku berbunyi. Saat aku melihat siapa yang menelpon ku, aku segera mengangkatnya. Telfon tersebut dari Brandon.
"Hai Brandon. Kenapa nelfon?" Gabriel yang dari tadi terus tertawa seketika diam, saat aku mengangkat telfon, terlebih aku menyebut sebuah nama lelaki.
"Hai Jess. Kamu gak marah kan, semalam aku gak datang maaf ya. Aku semalam tiba-tiba ada urusan. Maaf ya." Suara Brandon dari seberang sana.
"Haha.... Gak papa kok. Jadi gimana, kamu masih mau ketemuan atau gimana?" tanyaku memperjelas.
"Aku sibuk banget, jadi aku gak ada waktu untuk ketemuan. Aku udah kirim paket ke rumah kamu. Sebagai tanda permintaan maaf dan juga hal yang ingin aku berikan. Kamu yang tabah ya, ini semua takdir." Brandon menutup telfonnya setelah membuatku bingung bukan main.
'Apa maksudnya harus tabah dan ini semua takdir? Benar, ini ada yang gak beres' batinku.
Gabriel yang melihat raut wajahku yang berubah drastis setelah menerima telfon, langsung bertanya.
"Di putusin pacar ya?" dengan nada yang mengejek, Gabriel melihat wajahku seakan adalah bahan lelucon.
"Gak lucu. Aku mau balik." Aku langsung berbalik dan menuju stasiun. Gabriel hanya mengikut di belakang ku.
TBC
|
|
|
Hayo hayo
Voment!!
So ya, see ya✨
KAMU SEDANG MEMBACA
BARCODE [Completed]
Misteri / ThrillerKamipun memulai perjalanan kami. Memulai petualangan kami. Saat aku melakukan ini, apakah aku memiliki keraguan? Ketakutan? Resah? Tentu saja. Saat kami masuk kejalan raya, semua emosi itu berkecamuk. Dan sekali lagi aku memikirkan tentang Barcode...
![BARCODE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/203737488-64-k532636.jpg)