Saat aku tersadar, aku sudah berada di rumah sakit. Badanku semuanya terasa sakit. Aku melihat sekeliling, dan bertanya-tanya siapa yang membawa ku ke rumah sakit. Tapi, tentu saja Gabriel yang membawaku, siapa lagi. Itulah yang terlintas di benakku. Tetapi di kamar itu tidak siapapun kecuali aku. Aku pun berniat memanggil suster atau siapapun, tapi tiba-tiba terlintas di pikiran ku untuk kabur dari sana dan pergi tanpa sepengetahuan Gabriel. Aku tau dia akan marah besar padaku, tapi aku tidak akan memiliki kesempatan sebesar ini.
Akupun melakukan rencana ku, aku melepas selang infus yang menjulur masuk kedalan tanganku melalui kulitku. Ku cabut dengan paksa, walaupun merasa sakit aku menahannya. Dan darah yang keluar dari tangaku, aku menyumpalnya dengan tisu di ranjang rumah sakit itu. Setelah semuanya terasa lebih baik bagiku. Aku mengambil bajuku di sofa dan mengganti baju, lalu keluar.
Saat aku keluar, aku berpapasan dengan suster yang sepertinya merawat ku, saat mengetahui itu aku berlari sekencang mungkin dari rumah sakit dan langsung naik taksi yang sudah ada di depan rumah sakit. Saat aku menjauh, aku baru sadar rumah sakit itu rumah sakit elit, dan peralatan rumah sakit itu dari Belanda. Tapi ya sudahlah, aku tidak ingin memikirkan apapun lagi kecuali keluar dengan aman dari sana.
Saat sudah sangat jauh, aku langsung memberikan alamat ke sopir taksi, aku menyuruhnya ke kompleks Violet. Ia pun menurut dan mengantarku kesana.
Perjalanannya tidak begitu lama, saat aku sampai di kompleks itu aku membayar sopir taksi itu dengan uang di saku celanaku. Setelah itu aku langsung turun dan berlari ke rumah Rinn-taksinya tidak bisa masuk, ini kompleks elit. Dan aku tamu yang tidak di undang, jadi tidak boleh masuk memakai kendaraan.
Sesampainya di rumah Rinn, aku memencet bel dengan sangat buru-buru. Beberapa saat kemudian Rinn keluar dan menyokongku agar berdiri lebih baik, aku begitu lelah hingga terasa dehidrasi.
"Rinn air dong," sahutku lemas.
Rinn berlari kedalam dan mengambilkan segelas air. Tapi dia cukup lama, jadi aku memutuskan untuk ke dapur dan mendapati Rinn sedang memainkan handphonenya. Dengan spontan aku berteriak ke dia.
"Jangan beritahu Gabriel kalo aku disini. Hah... Please....Rinn.... Beritahu aku semuanya. Aku sudah capek Rinn. Please," suaraku semakin lemah. Rinn berhenti mengotak atik handphonenya dan langsung memberikan aku air minum.
Akupun menanyakan semua hal yang ingin kutanyakan. Memakan waktu cukup lama, hingga semua pertanyaanku selesai di jawab oleh Rinn. Dan mendengar semua pernyataannya atas pertanyaanku benar-benar membuatku bingung harus berekspresi apa lagi. Semua ini membuatku hilang akal.
Dan saat pertanyaan terakhir ingin ku tanyakan, Gabriel datang dengan wajah yang sangat marah. Aku sudah memikirkan ini akan terjadi dia pasti datang dan memarahiku. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya, tidak sesuai dengan dugaanku.
TBC
|
|
|
Vote! Share!
So ya, si ya:)
KAMU SEDANG MEMBACA
BARCODE [Completed]
Mystery / ThrillerKamipun memulai perjalanan kami. Memulai petualangan kami. Saat aku melakukan ini, apakah aku memiliki keraguan? Ketakutan? Resah? Tentu saja. Saat kami masuk kejalan raya, semua emosi itu berkecamuk. Dan sekali lagi aku memikirkan tentang Barcode...
![BARCODE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/203737488-64-k532636.jpg)