1•Ouders

274 15 6
                                        

Aku sedang berada di dapur saat saudara ku tengah terlelap di kamarnya. Aku sedang membantu para maid(panggilan asisten rumah tangga), menyiapkan makan malam. Hari ini orang tua ku ingin pergi ke Belanda, tanah kelahiran keluarga ku.

Kami tinggal di sebuah kota yang saat seseorang meninggal, itu akan menjadi berita sangat heboh. Di kota ini, jarang sekali terjadi kematian, bahkan di kota ini tak memiliki pemakaman. Orang yang mati, akan di bawa ke kota/pulau sebelah, kota Johnson. Nama kotaku adalah Tijdloos, di ambil dari bahasa Belanda yang berarti Abadi.

Saat aku sedang berjalan menuju lemari pendingin atau yang biasa disebut kulkas, seseorang mengagetkanku dari belakang.

"JESSICA HIDUNG PANJANG." Suara teriakan yang bermaksud untuk mengagetkan ku itu membuatku benar-benar terkejut. Aku langsung berbalik dan menjewernya.

"VINNNN!" teriak ku. "Kamu ngapain ngagetin aku. Kalo jantung ku copot gimana. Hah??" Aku menjewer telinga miliknya lebih keras.

"Ayolah. Lepas Jes, sakit. Maaf maaf."

"Huh dasar," kataku melepas jeweran telinganya. "Hari ini ouders mau ke Amsterdam. Malam ini kita akan makan bersama." Aku membalik badanku dan melanjutkan kegiatanku.

"Hah? Ouders mau ke Amsterdam? Bukannya jadwal mereka minggu depan? Kok perginya malah hari ini," tanyanya berulang kali.

"Aku gak tahu Vin, mending kamu mandi dulu. Nanti kamu antar ouders ke bandara."

"Ok," dengan pasrah ia berjalan kembali menyusuri tangga dan masuk ke kamarnya. Aku kembali fokus pada pekerjaan ku.

Dia adalah adikku, namanya Kelvin. Dan namaku adalah Jessica, kami memiliki nama yang sama di belakang, yaitu Barend. Barend adalah nama papa kami. Ouders atau orang tua kami adalah anggota kerajaan Belanda. Papa kami adalah penerus tahta dari kakekku.

Mengapa kami tak tinggal di Belanda? Aku lah alasannya. Aku tidak menyukai Belanda, akupun tidak tahu alasannya. Aku punya suatu kemampuan, yaitu bisa melupakan sesuatu dengan sengaja tentang sejarah hidupku, tetapi karena hal itu, terkadang aku melupakan sesuatu yang harusnya tidak kulupakan. Mungkin dulu aku juga berusaha melupakan sesuatu yang membuatku membenci tanah kelahiranku, aku hanya mengingat saat aku berumur 8 tahun, aku memaksa orang tuaku pindah dari negara tersebut. Hanya itu yang ku ingat.

Setiap bulan orang tuaku diharuskan kembali ke Belanda, mereka selalu pergi di akhir bulan. Dan ini pertama kalinya mereka pergi 1 minggu lebih awal. Bahkan, saat orang tuaku memberitahu mereka akan pulang, mereka seperti pulang secara terpaksa. Mamaku bahkan terlihat sudah menangis saat memberi tahuku kemarin. Aku hanya menafsirkan bahwa mereka ada masalah, dan harus pulang.

Saat ini aku tengah beristirahat, setelah lelah menyiapkan makan malam. Aku melirik jam dinding di kamar ku, dan bergumam,
"Masih ada 1 jam. Aku sebaiknya keluar menemuinya sekarang." Akupun bangkit dan bersiap keluar dari rumahku. Satu hal yang perlu kalian ketahui, keluarga ku yang adalah seorang bangsawan tidak terekspos sama sekali disini.

Aku berjalan keluar dari rumahku. Aku ada janji dengan temanku, di taman dekat rumahku. Saat sampai di taman tersebut, aku duduk di salah satu kursi taman yang jauh dari keramaian. Aku menunggu hingga jam makan malam keluargaku, aku memutuskan kembali ke rumahku saat melihat jam tanganku.
"Ini sudah waktunya makan. Brandon juga tidak datang, akan kutanya dia besok. Aku harus kembali." Aku berlari kecil menuju rumahku.

Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke ruang makan dan duduk di kursi yang telah disediakan. Saat makan, di meja makan tidak boleh ada suara lain kecuali suara sendok, garpu dan piring yang beradu. Kami dipersilahkan bicara setelah makanan penutup tiba. Papaku adalah orang yang sangat disiplin.

Saat aku ingin bertanya kepada ayahku, tiba-tiba mamaku berbicara lebih dulu.
"Jes, Gabriel bisa datang ke sini gak?" tanya ibuku. Aku kaget, mengapa mamaku bertanya tentang Gabriel di saat seperti ini.

"Aku tidak mengetahuinya Ma. Apakah ingin kupanggilkan?"

"Ya. Kalo boleh." Mamaku kembali fokus ke dessert yang ada di hadapannya.

Akupun pergi ke kamarku dan mengambil telfonku. Lalu aku menekan nomer yang paling sering aku hubungi. Gabriel.




TBC
|
|
|
??

??

??

So ya, see ya✨

BARCODE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang