12•Pesan

26 5 1
                                        

Setelah aku dan orang tua ku berbicara kemarin, mereka memutuskan untuk membawa mayat Kelvin ke Belanda. Hari ini, mereka ke Belanda sesuai jadwal yang seharusnya. Mereka hanya bermalam semalam saja. Setelah itu pergi lagi.

Saat mereka pergi, semua nafsu di tubuh ku seketika menghilang. Selama 2 hari aku hanya berdiam diri di kamar, tidak keluar sama sekali. Terkadang hanya para maid yang membawakanku makanan. Gabriel juga tak pernah datang mengunjungiku selama 2 hari itu.

Keesokan harinya, entah apa yang mendorongku aku bertekad mencari tahu tentang dunia luar Kelvin. Perkataan Mamaku saat malam itu, terus menerus berputar di dalam benakku.

Aku bersiap-siap untuk sarapan sekarang. Aku sedang duduk di meja makan, memakan sarapanku, saat Gabriel datang.

Hari ini memang penampilanku beda, dari cara berpakaian hingga wajahku pun nampak lebih cerah. Gabriel juga berkata seperti itu.

"Ya mau gimana Ga. Aku emang harus rela in Kelvin kan. Gak ada cara lain," kataku.

"Iya sih. Tapi baguslah," katanya. Gabriel pun ikut sarapan.

Setelah selesai sarapan aku duduk sebentar.
"Gabriel. Kamu tau gak?"

"Gak tuh. Kan kamu belum bilang," ketusnya.

"Ish..." Gabriel hanya tertawa mendengar dengusanku. "Kelvin dulu pernah bilang kayak gini loh 'Jes, kalo aku mati kamu gak boleh sedih lebih dari 3 hari ya. Kalo kamu sedih, aku gak akan tenang'. Emang sih, waktu itu dia hanya bercanda, aku benar-benar mengejarnya keseluruh penjuru rumah untuk memukulnya. Lelucon tentang kematian gak pernah lucu. Dan saat aku menangkapnya aku juga berkata ke dia 'Kalau gitu, kamu gak boleh sedih lebih dari 3 jam ya kalo aku mati. Kalo kamu sedih, aku tidak akan dikuburkan dengan mulus'. Dan dia hanya tersenyum seperti baik-baik saja." Aku terus mengingat kejadian hari itu.

"Dan mungkin karena itu, aku tidak lagi sedih setelah 3 hari kepergian Kelvin. Karena, pesan dia sendiri." Gabriel hanya mendegarku dan terus tersenyum melihatku yang sudah kembali normal.

"Bagus lah. Jadi kamu jangan sedih lagi. Oh iya Jes.. Katanya orang tua kamu pulang? Mana mereka?" dia melihat semua penjuru rumah mencari orang tuaku.

"Mereka udah pergi kok, 3 hari yang lalu. Mereka juga bawa mayat Kelvin, untuk dikuburkan di pemakaman anggota kerajaan." Gabriel memasang wajah kaget mendengar penjelasanku.

"Hah?! Mereka pergi?" tanya Gabriel kaget.

"Iya Ga. Dan juga ini memang jadwal mereka untuk ke Belanda. Jadi ya, mereka emang harus ke sana lagi," jawabku sambil meninggalkan ruang makan.

"Kamu...kamu gak papa kan Jes?" tanya Gabriel khawatir. Aku berbalik.

"Gak papa kok. Tapi kamu harus bantuin aku."

"What is that?"

"Bantu aku menemukan semua hal tentang dunia luar Kelvin." Saat Gabriel mendengar itu, ia kaget.

"Bukannya kalian deket ya? Masa kamu gak tau?" sekali lagi Gabriel bertanya dengan kaget.

"Ga. Kamu kan udah tau. Kelvin gak pernah keluar lebih dari 3 jam dari rumah tanpa aku. Setiap mau jalan, pasti selalu sama aku. Dia juga gak pernah cerita tentang dunia luarnya. Dan juga aku gak tau, kalau dia punya kenalan. Please Ga, bantuin aku."

"Iya deh," jawabnya.

Setelah itu aku pun bersiap-siap untuk keluar. Aku mengambil ponsel milik Kelvin dan kartu miliknya.

Pertama-tama aku mencari di ponsel milik Kelvin, aku mengecek pesan-pesannya. Tapi, tidak ada yang mencurigakan. Di kontaknya juga tidak ada nama yang aneh-aneh. Ini ternyara sedikit sulit.

Tapi, saat aku memeriksa hal lain di ponsel tersebut. Ponsel itu tiba-tiba berbunyi.






TBC
|
|
|
??

So ya, see ya^^

BARCODE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang