29•Brandon

14 5 3
                                        

Saat kami melewati gunung yang di maksud Sadya, betapa kagetnya kami menemukan sebuah istana yang sangat megah. Dan sangat mirip dengan lukisan yang berada di rumah pemakanman.

Tetapi, saat kami mencoba untuk masuk, ada sebuah kawanan yang menahan kami. Mereka terlihat seperti pasukan kerajaan ini. Mereka tidak bersenjata, mereka hanya seperti menyambut kedatangan kami.

Kami memilih turun dibandingkan melawan mereka. Setelah kami turun dari mobil kami menghadapi mereka dengan tenang.

"Jessica Barend Frederik," salah satu dari mereka bersuara. Aku yang mendengar namaku di sebut dengan refleks menjawab.

"Iya. Itu saya."

"Dengan siapa anda datang kesini?" tanya pria itu. Aku bingung, dan aku pikir yang dia maksud mungkin adalah Sadya.

"Dia, Sadya Frank." Tetapi, ini sedikit aneh kenapa mereka hanya tahu namaku saja. Jika memang mereka tahu kami akan datang dan menyiapkan penyambutan seperti ini, mereka tahu namaku, tentu saja seharusnya mereka tahu nama Sadya.

"Dia siapa anda?" tanyanya mengintrogasi.

"Dia adalah temanku." Setelah kukatakan itu, mereka mengijinkan kami masuk, tetapi kendaraan kami tidak boleh ikut.

Sesampainya kami di istana tersebut aku tidak terlalu terkejut, aku adalah anak pangeran, istana seperti ini sudah tidak asing lagi bagiku. Tetapi, tetap saja aku merasa aneh.

Kami di antar ke sebuah ruangan besar, seperti ruangan perjamuan. Kami di suruh menunggu. Dan terdapat seseorang yang menjaga kami di ruangan itu.

Beberapa saat kemudian seorang wanita dengan tampilan yang elegan dan sangat cantik memasuki ruangan itu. Tidak ada sambutan apapun. Dia hanya langsung duduk di kursi paling ujung dan juga kursi yang berbeda sendiri di ruangan itu.

"Kamu sudah datang Jessica, apakah ada kesulitan mendapatkan tempat ini?" Aku kaget mendengar dia mengajakku bicara, ia seperti sudah mengenalku. Padahal aku tidak mengenalnya sama sekali.

"Dari mana anda tahu nama saya? Apakah saya mengenal anda?" tanyaku sopan.

"Semua orang di sini mengetahui dirimu. Kau adalah harapan kami disini," jelasnya.

Disaat aku sedang mencerna perkataan milik wanita itu, pintu ruangan tersebut terbuka dan masuk seseorang yang berpakaian seperti bangsawan. Dan perawakannya sangat ku kenal, Sadya yang duduk di sampingku ikut terkejut. Pria itu mendekati wanita yang kami ajak bicara.

Pria itu menunduk memberi salam, "Ratu saya datang." Dia adalah Kelvin.

Aku ingin menangis mengetahui bahwa dia masih hidup. Aku ingin berdiri, tetapi salah satu pengawal menahanku dan menyuruhku duduk kembali. Kelvin tidak menatapku, tetapi aku tahu itu dia.

"Kau benar dia adalah saudaramu, Kelvin Barend Frederik. Dia masih hidup." Wanita itu tersenyum melihatku yang sangat bahagia mendapati adikku masih hidup.

"Apa yang terjadi disini? Kelvin masih hidup? Apa rencana kalian?" tanya Sadya sedikit memaksa.

"Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian. Jadi mohon kalian bersabar." Wanita yang dipanggil Ratu itu menyiapkan dirinya untuk menjelaskan segala hal yang masih sangat membingungkan buatku, dan tentu saja untuk Sadya juga.

Ratu itu mengatakan bahwa, Pulau ini memang terkutuk dengan adanya sistem Barcode itu. Yang membuat kutukan itu adalah suaminya sendiri saat masih muda, Raja dari pulau ini. Raja itu bernama Brandon. Ya, pria yang membagikan Barcode kepada semua orang di pulau ini.

Setelah Brandon menyebutkan kutukannya, keesokan harinya ia ditemukan meninggal dikamar miliknya sendiri. Dan ditangannya tertuliskan, bahwa semua orang dipulau itu akan lupa akan keberadaan dirinya dan kerajaanya. Mereka akan lupa bahwa ada arah utara di pulau itu. Dan semua orang meyakini bahwa sistem yang baru adalah sistem dari nenek moyang mereka.Dan karena itu arah utara aman dari sistem Barcode.

Sejak pertama kali kutukan itu terjadi, Ratu yang tak bukan adalah istri Raja berusaha agar sistem itu dihilangkan dan kutukan itu berhenti terjadi pulau ini. Setiap tahun selalu ada nama yang terkirim ke arah utara dan tertuliskan bahwa dia yang akan melenyapkan sistem itu dan kutukan itu akan sirna.

Tetapi setelah lebih dari 30 tahun, tidak seorang pun yang berhasil. Dan nama pada tahun ke-31 adalah Kelvin Barend Frederik. Tapi, suatu hal aneh terjadi, Kelvin juga terpilih menjadi orang yang dituliskan namanya di Barcode. Karena itu Kelvin akan mati.

Tapi, saat Kelvin dipindahkan ke pemakaman ke kota sebelah atau pulau sebelah, Kelvin di culik oleh pihak utara dan berusaha keras untuk di kembalikan. Suatu keajaiban dia kembali, tetapi ia tak bisa lagi menjadi orang terpilih yang akan menyelamatkan pulau. Karena itu, Ratu menanyakan segala hal kepada Kelvin.

Kelvim bercerita tentang aku, Jessica, bahwa aku sangat tidak menyukai sistem ini. Dan sangat menentangnya. Dan karena itu, akupun yang dipilih selanjutnya walalaupun tanpa nama yang dikirim secara khusus ke pulau.

~•~

Setelah Ratu menyelesaikan penjelasannya. Ia menyuruhku pergi ke sebuah ruangan, tempat dimana sang Raja di makamkan. Aku disuruh untuk bisa mencabut Barcode yang ada pada nisannya yang tertempel erat disebuah dinding dalam ruangan itu.

Aku berpikir itu tidak akan begitu sulit. Akupun menyetujuinya dan akan melakukannya.

Saat aku sudah mengatakan aku menyetujuinya, Ratu dan para pengawal meninggalkan kami bertiga di ruang perjamuan. Dan menyuruhku untuk bersiap-siap.



TBC--------

Ada yang kangen Kelvin gk nih??

Ada yang kangen Kelvin gk nih??

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sisa satu episode nih:)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sisa satu episode nih:)

BARCODE [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang