31

6.5K 789 58
                                        

Minhee panik begitu Jaemin mulai berlutut, lalu menunduk dalam. Anak itu berusaha menahan badan Jaemin dengan memeluknya.

Junho yang melihatnya hanya bisa menghampiri Minhee dan Jaemin, celingukan mencari seseorang untuk meminta bantuan. Karena mereka di jalan besar yang sangat-sangat sepi, sehingga sangat sulit menemukan orang lain selain mereka.

"Maafin gue, Bang!! Bukan lo yang seharusnya gini!! Hiks... Bang Jaemin..." Menyesal, dan ini adalah penyesalan terbesar Minhee.

Jaemin yang mendengarnya hanya bisa terdiam, kepalanya kini bertumpu pada pundak Minhee yang nampak gemetar.

Minhee nampak memandang Reyeok dengan tatapan tak suka, namun pemuda rambut merah menyala itu terlihat ketakutan. Layaknya orang gila yang kebingungan.

"Lo... J-jangan khawatir..." Lirih Jaemin mencona mengontrol dirinya, ia sudah tidak bisa merasakan apapun sekarang. Nyawanya terasa seperti di ambang pintu maut.

Minhee menggeleng pelan, semakin mengeratkan pelukannya.

"TOLONG!!!" Teriak Minhee tersendu-sendu.

"Bang, Lo harus bertahan... Pokoknya lo harus janji sama gue.. hiks... Lo harus kuat, lo..." Minhee tak kuasa menahan isakkannya, pemuda itu menyeka pipinya kasar. "Lo harus bertahan, Bang... Minhee mohoooonnn!!!!"

"TOLONG!! Min, ini gimana?!!" Tanya Junho berusaha berdiri, menahan rasa nyeri di kakinya. Ia juga kebingungan sekarang, apalagi melihat Reyeok yang tertawa sendiri dengan tatapan matanya yang gelisah.

Minhee hanya terdiam, ia mematung begitu detak nadi Jaemin semakin melemah saat Minhee menyentuh leher Jaemin.

"Bang?!" Teriak Minhee.

Minhee menelan salivanya dengan susah payah, namun tidak ada gerakan apapun dari Jaemin.

"TOLONG!!! YA TUHAN!! JANGAN AMBIL KAKAKKK!!!" Teriak Minhee dengan air matanya yang mengalir deras.

"Bang Jaemin!! Minhee mohon bangun, Bang!!" Teriak Minhee sembari merebahkan kepala Jaemin di pangkuannya, menatap Jaemin yang menutup matanya dengan wajahnya kian memucat.

"Bang!! Bangunn!!" Teriak Minhee, pemuda itu menepuk pipi Jaemin harap-harap pemuda itu terbangun.

Namun nihil tidak ada sahutan.

Air mata Minhee semakin mengalir deras, ia tidak tahu. Ia kebingungan, ia berada di tempat yang jauh dari rumah sakit. Tidak ada orang untuk di mintai pertolongan, sedangkan ia tidak tahu harus kemana.

Ponsel saja ia tidak bawa, begitu pula Junho yang sudah pergi entah kemana.

"Ya Tuhann!! Ampunilah segala dosa ku!! Tolong jangan ambil nyawa Kakakku!! Hamba mohon!! Beri hamba kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dia baik!! Dia hebat!! Beri ia pertahanan!! Tolong!!" Minhee memeluk Jaemin yang kini terbaring lemah di trotoar dengan pahanya sebagai tumpuan kepalanya.

Minhee masih tidak percaya tentu saja, Jaemin nampak seperti tertidur, Minhee tidak berani menyentuh tangan Jaemin untuk mengecek detak nadinya. Melihat darah yang mengalir tanpa henti saja hanya membuatnya semakin ketakutan, sungguh ia masih tidak bisa menerima kenyataan.

"MINHEE!!!" Minhee menoleh dengan tatapan kosong begitu mendengar suara teriakan Junho dengan lampu sorot mobil yang mulai mendekati mereka.

Mata Minhee membulat, itu mobil polisi. Atau mungkin mereka akan kembali meminta Jaemin karena kabur dari penjara? Atau...

"Betra Reyeok! Anda kami tangkap! Jangan bergerak!!"

Junho berdecak kagum begitu polisi itu mengangkat pistol tepat di depan wajah Reyeok, hatinya sedikit menenang begitu Jaemin mulai di bawa ke dalam mobil polisi untuk di bawa ke medis.

[✓] What's Wrong : JaeminheeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang