Dalam sekejap, keadaan di ruang inap Jaemin menjadi hening. Mematung dalam posisi masing-masing.
Jaemin kebingungan tentu saja, sedangkan Minhee? Masih menatap kedatangan Kaylee di ambang pintu dengan tatapan terkejut.
Terdengar helaan nafas dari Papa, membuat yang ada di sana ikut serta menghela nafas.
Jaemin terdiam begitu keringat dingin itu mulai mengalir dari pelipisnya, ia berusaha menambah pasokan udara yang masuk ke paru-parunya. Namun sepertinya ia kesulitan, bagaimana mungkin ruangan seukuran dengan kamar Jaemin ini di pakai oleh 6 Orang yang lain.
Belum lagi keadaan Jaemin yang masih belum stabil sepenuhnya.
Jaemin meremas dadanya yang sesak, seiring dengan tangan kirinya yang meraih tangan Bunda lalu menggenggamnya.
Bunda terkejut begitu Jaemin mulai terlihat kesakitan.
"B-bunda... S-sesak..."
"Udah! Udah! Bubar! Bubar!!" Teriak Bunda panik.
Minhee yang melihat situasi ini lalu menarik Kaylee dari ruangan Jaemin bersama dengan Chika yang sekarang berada di gendongan gadis itu.
Minhee menatap Papa dan juga Ayah Chika yang di dorong paksa keluar oleh Bunda.
"Kita seharusnya gak boleh jenguk dia dalam kondisi rombongan!" Tegas Bunda pada Papa dan langsung kembali ke dalam.
Papa terdiam, lalu sedikit melirik Mantan Bunda yang kini nampak menghampiri Minhee.
"Minhee... Sekarang kuncinya cuman ada di kamu." Kata Papa.
Minhee menggigit bibir bawahnya, "Bu-bunda gak ngelakuin apapun, Pa." Sahut Minhee cepat.
"Ob ini tadi niatnya mau ngebenerin lampu ruangannya Bang Jaemin yang tadi mati." Sambung Minhee mencoba tenang.
Pandangan Papa berubah tajam, "Anda tidak berniat buat nyelakain anak saya kan?" Tanya Papa dengan nada tegas.
Minhee mengacak rambutnya frustasi, "Akhh... Udah Pa cukup! Dia gak ngapa-ngapain!" Erang Minhee, ia menatap tajam Papa seolah memang apa yang di katakannya sungguh-sungguh.
Papa mendadak terdiam, mencoba mencermati penjelasan putra Bungsunya yang sekarang terlihat seperti hakim.
"Dia Chika, anak Bapak. Saya menemukan dia di depan gerbang rumah saya beberapa minggu lalu, saya tahu perasaan bapak. Tapi... Kakak perempuannya sudah tidak ada." Jelas Minhee lirih.
"Saya mohon ketenangannya... Karena kita sedang di rumah sakit, dan kakak saya juga baru di tangani..." Sambung Minhee begitu melihat Ob itu nampak terkejut.
Minhee menatap Chika yang kini nampak kebingungan, "Chika dengerin Kak Minhee..." Lirih Minhee masih dengan ketegasan yang mendominasi wajahnya.
"Bapak ini... Ayahnya Chika." Jelas Minhee.
Chika mengarahkan pandangannya ke arah ayahnya, lalu kembali memandang Minhee kebingung.
"Jadi, Kak Minhee bukan Ayahnya Chika dong?" Tanya Chika.
Minhee tersenyum, "Kak Minhee ini bukan ayah, Chika. Kak Minhee masih seorang anak, anaknya Johnson tuh..." Jawab Minhee sembari menunjuk Papa dengan tatapan sinis.
Papa terkejut, bagaimana bisa putranya memanggilnya dengan nama begitu saja. Ingin sekali ia memarahi anak itu habis-habisan, namun melihat kedewasaan Minhee membuat Papa mengurungkan niatnya.
"Sana, Chika ketemu dulu sama Ayah Chika." Kata Minhee.
Chika nampak menoleh, lalu berjalan pelan menghampiri Ayahnya lalu memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] What's Wrong : Jaeminhee
Fanfiction❝Lo tanya kenapa gue benci banget sama lo?! Okey! Gue benci sama lo, Karena kita lahir dari rahim yang sama!!❞ ˚Start 25.08.19 [END] (Bukan BXB) copyright 2019 by fielitanathh
![[✓] What's Wrong : Jaeminhee](https://img.wattpad.com/cover/198452181-64-k184647.jpg)