"Wahhh... Ternyata lantai 3 tuh dalem ya, Jen?"
Jaemin terdiam sembari memijat pangkal hidungnya dengan pelan, kepalanya sakit sekarang. Ia mengarahkan pandangannya ke arah Jeno dan Haechan yang kini nampak berjinjit sembari melihat sekotak jendela kecil lengkap dengan tralis tepat di tembok belakang sel.
"Ho'o! Berarti kalo penjahatnya pada kabur, dia bakalan mati kalo lompat dari sini." Sahut Jeno menanggapi ocehan Haechan yang nampak histeris.
Jaemin lagi-lagi tidak bergabung dengan obrolan konyol kedua sahabatnya itu, pemuda itu nampak melepas jaket Jeans yang ia kenakan, melipatnya, berebah, lalu di gunakannya untuk membantali kepalanya yang mengiang.
"Aduh Jen! Jangan dorong gue!"
"Lo gak akan muat di jendela itu goblok!"
"Tapi gue jinjit!"
"Ya terserah!"
"Aaa! Kan, beneran. Augh!! Sulit banget lihatnya!"
Jaemin hanya menghela nafas pasrah mendengar perdebatan Jeno dan Haechan, terlihat Jeno yang mendorong Haechan untuk menjauh hingga membuat Haechan kembali kesulitan menyembulkan kepalanya hingga nampak jendelanya.
"Huftt... Anak zaman sekarang, di hukum di penjara bukannya takut malah pada ngobrol hal yang gak penting."
Jeno dan Haechan saling bertatapan, sebelum akhirnya tatapan nyalang mereka tertuju ke arah satpam yang menjaga mereka dari luar sel.
"Heh!! Denger ya pak satpam!! Kitatuh gak takut karena kita gak bersalah!!" Tegas Haechan dengan percaya diri, pemuda itu berjalan mendekat ke arah sel seolah tidak terima dengan apa yang Pak satpam katakan.
"Gak bersalah kok di penjara." Sahut Pak Satpam dengan nada mengejek membuat Haechan mengoyak-oyak sel berbahan besi itu dengan brutal.
"POLISINYA AJA YANG GOBLOK!! DASAR SATPAM GAK TAHU DIRI!!"
Jeno berdecah sembari mengusap wajahnya kasar, bagaimana temannya itu malah sibuk berdebat dengan satpam. Padahal baru lima menit anak itu terdiam dari rintihan kelaparan.
"Heh! Jangan berisik!" Tegur Pak Satpam.
"Heh!! Kita di perbolehkan berisik kalo guru gak lagi ngenjelasin!!"
Kepala Jaemin semakin mengiang, pemuda itu menutup telinganya begitu Haechan berteriak seperti Chenle saat minta di temani jajan.
"Chann.... Please.... Pala gue tambah pusing mikirin lo!" Kesal Jaemin sembari memejamkan matanya, mencari posisi nyaman untuk berbaring.
Haechan hanya terdiam, memperhatikan Pak Satpam dengan tatapan nyalang. Begitu pula Pak Satpam yang kini juga mendekat ke arah Sel lalu menatap Haechan dengan berkacak pinggang.
Jeno pada akhirnya mengalah, lalu berjalan ke arah mereka berdua.
"Udah kek, tatap-tatapannya, ntar suka loh." Ucap Jeno.
"IDIH!!" Seru Haechan dengan tampang jijik.
"Gue minta sarapan!! Mana sarapannya anak sultan?!!" Sahut Haechan kembali berteriak.
Jaemin lagi-lagi mendecih, tidak di rumah tidak di sini, tidak Minhee tidak Haechan, hobby sekali berteriak.
"Kalian kan udah makan malam kemaren, sekarang malah minta sarapan!! Ya nanti sekalian makan siang!!" Seru Pak Satpam.
Haechan mendelik tidak terima, "Dasar gak tahu di untung!! Gak ada tempat tidur nyaman! Gak ada bantal!! Gak ada selimut!! Ini penjara miskin amat!! Sebel gue lama-lama!!" Sahut Haechan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] What's Wrong : Jaeminhee
Fanfiction❝Lo tanya kenapa gue benci banget sama lo?! Okey! Gue benci sama lo, Karena kita lahir dari rahim yang sama!!❞ ˚Start 25.08.19 [END] (Bukan BXB) copyright 2019 by fielitanathh
![[✓] What's Wrong : Jaeminhee](https://img.wattpad.com/cover/198452181-64-k184647.jpg)