Mau berbohong berapa kali pun itu tidak membuat Rifky kehabisan cara untuk mencuri waktu di sela kegiatan asik Maryam.
Jadi sebenarnya Rifky sudah tahu keberadaan Syarif-teman SD Maryam- saat tidak sengaja melihatnya diseberang jalan sedang mengelap keringat yang entah mengapa matanya seperti tertuju untuk Maryam. Dan semua itu tak luput dari pendengarannya saat Syarif memanggil dan menghampiri Maryam.
Rifky awalnya cuek saja. Namun gerakan kakinya menolak untuk melanjutkan kegiatan laju larinya saat itu. Akhirnya Rifky lebih dulu bergabung dengan ratusan orang dan berhasil tanpa sepengetahuan Maryam ia dapat mengikutinya untuk berjaga-jaga saja.
Beberapa kali Rifky hampir terlihat oleh sudut mata Maryam dan sedetik itu pun Rifky berubah menjadi orang lain dengan membeli hoodie untuk menutupi identitasnya.
Bahaya jika ia tertangkap penglihatan Maryam. Kadang disaat seperti ini ia bersyukur, Maryam tidak se-cerdas itu.
"Sampe lebih dari jam 10.00 bakal gue kerjain lo." Sedari tadi Rifky sangat pegal berdiri berjemur dari kejauhan mengamati posisi Maryam dan Syarif yang membelakanginya.
"Gue telpon nih anak."
Dering kedua masih belum diangkat karena ia melihat Maryam kesulitan mengambil handpone di dalam saku celananya.
Saat panggilan terhubung.
"Eng- Hallo?"
"Lo dimana? Gue udah di depan Ghanesa, nih." Berbohong sedikit tak apa lah. Lagian siapa suruh enak-enakan pacaran.
"Gu- aku ada di tempat acara lomba."
"Ngapain? Bukannya olahraga, malah jajan." Makin gendut aja tau rasa.
"Iya. Laper."
"Ya udah, gue kesitu." Rifky menutup sambungan begitu saja. Ia terlalu lelah berdiri akhirnya memilih tempat duduk yang tersisa diantara lautan manusia yang berada disini.
"Gila gak sih, gue baru aja putus sama tuh cowok. Eh, sekarang udah ada yang baru? Gak mikir apa tuh cowok."
"Elo juga sih, udah gue bilang jangan asal liat dari ganteng mukanya. Hati nya bangsat mah percuma. Gak ada bagus-bagusnya."
Rifky tak sengaja mencuri dengar pembicaraan kedua manusia berjenis kelamin perempuan ini yang ia pikir usianya sekitar dibawah lebih muda darinya.
Cari yang setia juga susah. Cowok tuh maunya ya seneng-seneng dulu lah selagi masih muda.
"Kalau semua orang pengennya setia gak bakal ada tantangan hidup." Setelah mengucapkan dengan nada datarnya yang pasti dapat didengar oleh kedua perempuan tersebut, Rifky menuju tempat dimana Maryam masih asik bercengkrama ria dengan Syarif.
"Balik, atau gue tinggal disini nanti lo jalan kaki." Ucap Rifky setelah dihadapan Maryam dan Syarif.
"Astagfirullah." Respon Maryam yang kaget begitu sadar Rifky muncul dari balik tubuhnya.
"Assalamualaikum, Bang." Sapa salam dari Syarif yang sangat ramah. Dan disusul uluran tangan bermaksud untuk sekedar berjabat tangan.
"Eh, iya Wa'alaikumsallam. Panggil Iky aja. Kita seumuran."
"Ente temennya Maryam?" Dari nada pertanyaan ini tercium rasa tidak suka menurut Rifky.
"Bukan, gue musuhnya." Tawa khas santri keluar begitu saja dari Syarif membuat Maryam yang semula canggung terbawa ikut tertawa.
"Tinggal dimane ente?"
"G-gue di BSI, Parung." Rifky canggung mengucapkan kata gue-lo lantaran lawan bicaranya berbahasa yang santri.
"Oh.. Bukit Sawangan Indah, entuh. Temen ane banyak disane. Kapan-kapan main bareng ye."
Maryam mengkode kepada Rifky agar tidak mengiyakan tawaran Syarif, lantaran disanalah Maryam sering berusaha mengetahui kabar mantan sejak masa SMP nya.
"Boleh, nanti gue ajak sekalian temen gue biar rame." Senyum mengejek berhasil dilemparkan untuk Maryam yang langsung ditanggapi pelototan tajamnya.
Rifky sialan. Awas lo nanti.
"Kenapa gitu matanya?" Sengaja Rifky menanyakan perihal pelototan Maryam kepadanya.
Damn. Mati lo Rifky.
"Kenapa apanya? Gak kenapa-kenapa, tuh." Cengiran lebar ia tunjukkan kearah Arif yang tidak tahu menahu soal perang singkat tadi.
"Btw, Rif."
"Hmm." Rifky menyahut malas.
"Kenapa?" Syarif bertanya lembut.
Keduanya saling pandang hingga tak sadar nama mereka hampir sama dalam pengucapan Maryam tadi.
"Err.. yang gue, eh aku panggil Rifky. Maaf."
Cih, bahasanya aku kamu. Batin Rifky.
"Apaan?" Sahut Rifky begitu Maryam belum kunjung berbicara.
"Jangan pulang dulu, mama nyuruh kita beli bahan masakan di pasar."
"Ih ogah, mau balik aja gue. Panas Yam, gue gerah mau mandi."
"Gimana ya? Gue juga gak mau sih, tapi mama pengen nitip belanjaan buat masak minggu ini."
"Sendiri aja kan bisa, ngapa mesti gue ikut?"
"Lo tau arti kata tolong gak? Sekali ini aja gue minta tolong."
"Gimana kalau saya aja yang bantu temenin Maryam belanja?" Disela debat yang sungguh memalukan, Syarif menawarkan untuk siap sedia membantu.
"Eh, ya ampun gak usah Rif. Maryam bisa sendiri kok." Bukan apa-apa. Maryam hanya tidak ingin nanti menyusahkan Syarif. Kalau Rifky sih, udah biasa selalu ia susahkan. *tawa kenceng
"Tuh, lo bilang bisa sendiri ngapa maksa minta anterin gue?"
"Ky, disini kan posisi lo lagi sama gue. Dari rumah bareng naik motor lo pulang juga sama-sama lah. Maksud gue, kita sekalian beli bahan masak pas arah pulang aja. Gak susah kan?" Lama-lama Maryam ketutup dengab rasa malunya akibat ulah Rifky yang selalu saja membuatnya emosi dimana pun, kapan pun, bahkan saat ini situasinya ia bersama orang spesial.
"Ya udah iya, ikut aja gue apa kata lo. Keparkiran buru." Tiba-tiba tanpa kata salam atau ucapan pamit Rifky meninggalkan Maryam dan Syarif.
Maryam yang takut ditinggal akhirnya buru-buru bersiap untuk menyusul Rifky sebelum terjadi hal yang buruk nantinya. Dan sebelum pergi Maryam sempatkan pamit undur diri dengan mengucap salam serta senyum tak pudar untuk Syarif yang juga dibalas oleh salam.
Huft, ada-ada aja. Syarif menggelengkan kepala heran dengan cara mereka yang begitu rumit dalam memutuskan perkara.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Love (Slow Update)
Random"Jika kamu mencintai dua orang, pilihlah yang kedua, karena jika kamu mencintai yg pertama dengan tulus, kamu tidak akan mencintai yang ke dua." Seorang perempuan yang bimbang memilih laki-laki yang pantas untuknya, membuat pikiran buruk dari siapa...
